Thanks for sending this email to me
 
YESAYA GOBAI
MTC PLANNING
Mailto:[EMAIL PROTECTED]
 
 
Adhie Massardi <[EMAIL PROTECTED] <mailto:massardispoke%40yahoo.com> > wrote:


Malaysia, Oh Malaysia

OLEH ADHIE M MASSARDI

HUBUNGAN emosional Malaysia dengan Indonesia telah sampai pada puncaknya. 
Pemakaian lagu Rasa Sayang(e) sebagai backsound iklan wisata Malaysia Truly 
Asia boleh disebut sebagai simbol �penyautuan bangsa serumpun� itu di bumi 
Nusantara.

=> Bangsa Serumpun? Amboi makjang... Kalau Indonesia meradang, sibuklah 
pemerintah Malaysia mengingat-ingatkan kita bahwa kita bangsa serumpun biar 
kemarahan Indonesia mereda. 

Pak ketipak tipung, suara jubir melucu-lucu...

Sayang, sebagian dari kita kurang paham makna pemakaian lagu rakyat Maluku itu 
oleh Malaysia. Sehingga menuduh Negeri Jiran itu membajak lagu kita. Padahal 
orang Malaysia santai-santai saja ketika PT Lapindo Brantas menjadikan Porong 
di Sidoarjo, sebagai truly kuala lumpur, hingga terkenal ke antero dunia.

=> Asli tak lucu. Tak ada urusannya masalah Lapindo dengan lagu Rasa Sayange. 
Apakah Anda jauh lebih paham dari "sebagian dari kita" soal makna pemakaian 
lagu Rasa Sayange oleh Malaysia? Beri dong kami pencerahan.

Makanya, saya sependapat dengan Menteri Kebudayaan, Kesenian dan Warisan 
Malaysia Datuk Seri Dr Rais Yatim. Kita memang tak layak mengklaim lagu itu 
milik kita dan tak boleh dinyanyikan bangsa lain. Apalagi faktanya orang 
Malaysia justru lebih menjiwai Rasa Sayange ini dibandingkan kita yang mengaku 
pemilik lagu.

=> Oke, setuju, bahwa kita memang tak layak mengklaim Rasa Sayange milik kita 
JIKA tanpa disertai bukti-buktinya seperti yang diminta Malaysia. Dan, karena 
itu pula, walau telat, sekarang kita menempuh jalan yang patut, elegan, dan 
cerdas, dengan mencari bukti-bukti kepemilikan kita atas Rasa Sayange. Kita 
tunggu saja hasilnya--meski dalam hati kita sudah terlalu banyak mengalah pada 
Malaysia. 

Lihatlah, kita tutup mata atas jutaan hektar hutan yang digunduli. Lalu datang 
orang Malaysia merawat dan menjadikannya perkebunan sawit. Kita punya banyak 
pulau, tapi dibiarkan tak terurus. Oleh Malaysia dirawat dan
dijadikan tempat wisata, seperti Sipadan dan Ligitan itu. Ada jutaan 
penganggur, pemerintah kita membiarkan mereka tetap menganggur. Ratusan ribu di 
antaranya kemudian nyeberang ke Malaysia. Di sana diberi pekerjaan. 

=> Mas, Anda benar (benar lucu). Bagaimana kita tidak tutup mata kalau asap 
yang membubung dari hutan yang terbakar mengenai mata. Padahal, seperti pernah 
diberitakan pers, beberapa perusahaan PMA Malaysia juga ikut menggunduli dan 
membakar hutan kita. 

Asapnya sampai ke Malaysia dan Singapura, kita meminta maaf. Tapi, adakah 
permintaan maaf yang tulus--bukan karena kita marah duluan--dari Malaysia 
terkait persoalan TKI kita di sana, kasus wasit yang dipukuli, dan lainnya. 

Soal Sipadan dan Ligitan kita memang tak becus mengurusnya. Tapi, kita sudah 
buktikan jauh lebih mampu menempuh jalan beradab daripada mencuri dengan cara 
memanfaatkan keadaan negara kita yang sedang lemah dan amburadul begini. 

Coba tanya, benarkah kita pemilik Rasa Sayange itu?Benarkah pemerintah yang 
operasionalnya kita biayai itu
punya Rasa Sayange (kepada rakyat)?

=> Rasa-rasanya memang belum, termasuk saat Gus Dur jadi presiden. (Dalam 
banyak hal saya respek pada keberanian dan pikiran-pikiran Gus Dur).

Tapi bagaimana dengan sejumlah TKI kita yang disiksa, wasit yang dipukuli, dan 
istri diplomat yang diperlakukan mirip pesakitan? Jangan salahkan Malaysia. Kan 
ada pepatah: guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Jadi Malaysia
juga bukan hanya belajar yang baik-baik dari kita, tapi juga yang 
buruk-buruknya, termasuk soal mukul wasit itu. Kata teman saya orang Malaysia, 
jangankan wasit, bekas wakil perdana menteri saja kalau disangka bersalah ya
dipukuli polisi Diraja. Itulah Anwar Ibrahim. 

=> Yang goblok itu ya Malaysia! Sudah tahu buruk, kok ya dicontoh dan 
dipraktekkan. Sedangkan kita sedang berusaha untuk mengurangi dan memperbaiki 
kejelekan-kejelekan kita. Jadi, kita memang pintar dong karena tak hanya mampu 
mewariskan hal-hal baik pada Malaysia. 

Yang menarik, ketika kita blingsatan dan mengutuk Malaysia
seraya mengancam memutuskan hubungan diplomatik, orang Malaysia tetap bekerja, 
tetap belajar, tetap mengembangkan ilmu pengetahuan dan sains. Satu warganya, 
Sheikh
Muszaphar Shukor Al Masrie bin Sheikh Mustapha, 36, melesat ke luar angkasa 
sebagai astronot. 

=> Di mana menariknya, Anda kan tidak tahu apakah saya lagi belingsatan dan 
mengutuk Malaysia atau tidak. Kalau pun iya, Anda termasuk salah satu WNI yang 
belingsatan dan mengutuk Malaysia. Buktinya ini: "Yang menarik, ketika kita..." 

Shukor itu bukan astronot, Mas, tapi turis yang beruntung karena pemerintahnya 
membeli Shukoi! 

Memang, seperti kata kawan saya yang sedang studi S2 di sana, tidak sedikit 
juga budak Malaysia yang merendahkan
Indonesia. Tapi itu kan juga lantaran orang Melayu yang paternalistik. 
Maksudnya, kalau Bapak kita, pemimpin politik kita tidak bermartabat, tidak 
berwibawa, kagak jelas pendiriannya, kita sebagai anak (bangsa) niscaya 
dilecehkan. Coba Bapak kita modelnya kayak Hugo Chavez, Morales atau
Ahmadinejad, pasti lain perlakuannya. Jadi ini soal kepemimpinan nasional.

=> Sama dong. Kan cuma sebagian dari orang Indonesia yang sekarang marah-marah 
pada Malaysia. Lagi pula, bukan cuma seorang teman Mas itu yang bilang 
begitu... Masak sih orang sekaliber Anda tahu informasi begitu cuma dari 
seorang teman. Amboi... 

Oke, dalam perkara keberanian, saya kagum pada Chavez, Morales, dan 
Ahmadinejad. Tapi, dalam perkara karakter, kecerdasan pikiran dan emosional, 
saya lebih memilih Ahmadinejad. Karena itu pula, saya tetap setia mendukung dan 
memilih Amien Rais sebagai calon presiden. Gak nyambung ya... :)

Anda agaknya berminat maju ke gelanggang 2009? 

Lha, kenapa juga kalau melihat Malaysia bawaannya kita meradang, maunya 
langsung mengganyang? Kita boleh dihina bangsa lain, dikalahkan bangsa lain, 
tapi tidak dengan Malaysia.

=> Itu kata Anda, bukan kita! Dalam banyak hal, justru Indonesia malah lebih 
banyak mengalah, memaklumi, dan memberi maaf. 

Terus terang, kalau ini asli kesalahan Soekarno. Sebagai �dokter bangsa�, Bung 
Karno kebanyakan alias �over dosis� saat menyuntikkan virus �anti-Malaysia�pada 
bangsa ini (1962-1965). Akibatnya, kita jadi suka �ketagihan� nyerbu Malaysia. 

=> Itu karena Soekarno terlampau bersemangat dan kelewat nasionalis, yang 
selalu berbicara lantang tanpa juru bicara. Untung Soekarno tak sempat bertemu 
dengan anak-anak Slank, yang menyebar "Virus" ke mana-mana hingga makin 
terkenal. "Virus"-nya Slank memang bikin ketagihan...

Untuk menghentikan �katagihan� ini, tak ada cara lain kecuali membongkar 
kembali peristiwa masa lalu itu, dan menguburnya secara layak. 

=> Setuju! Kalau begitu, kita pakai mesin waktu untuk melarang Malaysia 
menggunakan Stamboel Terang Boelan sebagai lagu kebangsaan Persekutuan Tanah 
Melayu saat menerima hadiah merdeka dari Inggris pada 31 Agustus 1957. 

Aya aya wae... There's no angle in the world. Peace!

AMA

---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]



 

Kirim email ke