http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/15/Politikhukum/3991769.htm =========================
Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono minta bangsa dan rakyat Indonesia tidak hanya marah-marah melihat perilaku negara lain yang mencaplok hak cipta atau karya ciptaan bangsa Indonesia. Presiden mengajak semua pihak menaruh peduli terhadap karya cipta sendiri dengan tidak malas mendaftarkannya untuk mendapat hak cipta. "Kita kadang-kadang marah- marah. Pak, ini buatan kita diaku negara lain. Produk ini diaku oleh perusahaan lain. Jangan hanya marah. Mari kita peduli terhadap produk kita sendiri. Kita bikin mereknya. Kita bisa dan harus bisa," ujar Presiden dalam sambutan pembukaan Musyawarah Nasional Ke-7 Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) di Jakarta, Rabu (14/11). Presiden tidak menyebut negara lain mana yang mengakui karya cipta bangsa dan rakyat Indonesia. Namun, dari sejumlah pemberitaan disebutkan, Malaysia karena kemajuan ekonomi dan industri pariwisatanya, sedang gencar mencari ikon. Selain lagu Rasa Sayange dan lagu-lagu lainnya, batik, wayang, dan keroncong, Malaysia juga tengah berupaya mengklaim angklung menjadi bamboo malay sebagai musik nasional mereka. "Kita hormati hak cipta. Kita hormati intelectual property right. Kita enggak suka kan, ciptaan kita diakui orang lain. Oleh karena itu, kalau kita menciptakan sesuatu, segera daftarkan menjadi hak cipta untuk dilindungi yang nantinya mendapatkan imbalan ekonomi. Mari kita tidak malas supaya tidak diaku-aku atau diambil pihak lain," ujarnya. Memberi contoh dalam memberi penghormatan terhadap hak cipta, Presiden Yudhoyono yang menciptakan 10 lagu dan dinyanyikan tujuh penyanyi dalam sebuah album, telah mendaftarkan hak ciptanya, Oktober lalu. Salah satu lagunya, Rinduku Padamu, dinyanyikan seorang penyanyi dalam acara munas tersebut. Wakil Presiden Jusuf Kalla, akhir Oktober 2007, juga menyinggung tentang tabiat Malaysia. Klaim Malaysia atas karya cipta bangsa dan rakyat Indonesia tanpa peduli merupakan tanda Malaysia menyepelekan dan menganggap enteng Indonesia. Menurut Kalla, anggapan enteng Malaysia kepada Indonesia itu bisa terjadi karena tidak adanya kemajuan ekonomi di Indonesia yang dapat digunakan sebagai kekuatan, seperti kemajuan ekonomi di Malaysia. (INU)
