Siapkah Kita Menyelamatkan Hutan dan Iklim? Di tulis oleh : Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia
Mencoba untuk menghambat kerusakan hutan dan iklim memang bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kesiapan fisik, mental dan berbagai dukungan untuk memastikan upaya tersebut dapat berjalan dengan baik. Tantangan pun sudah bisa dipastikan menjadi hal yang mau tak mau harus dihadapi. Dalam seminggu terakhir ini Greenpeace banyak menjumpai sejumlah tantangan dalam melakukan kampanye penyelamatan hutan dan iklim di wilayah Riau. Seminggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 5 November 2007, telah terjadi sebuah aksi unjuk rasa di kota Pekanbaru untuk menolak kehadiran Greenpeace di Riau dan Indonesia. Para pengunjuk rasa tersebut menyatakan dirinya berasal dari organisasi mahasiswa dan LSM setempat. Mereka meminta pemerintah segera mengusir Greenpeace dari Riau karena telah melakukan aktivitasnya tanpa ijin pemerintah setempat. Greenpeace juga dituduh telah menjelekkan nama baik Riau di mata internasional sehingga akan berdampak negatif pada keberlangsungan investasi di Riau. Banyak orang menduga aksi unjuk rasa ini terkait dengan diselenggarakannya sebuah perhelatan akbar para investor di Pekanbaru pada minggu yang sama, yaitu Riau Investment Summit. Pernyataan senada ternyata juga diungkapkan oleh organisasi lokal lain di Kabupaten Pelalawan pada tanggal 7 November 2007. Organisasi yang menamakan dirinya Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Pelalawan Bersatu (IKPM-PB) melalui ketuanya Aman K mengingatkan kepada Pemerintah Kabupaten Pelalawan untuk mewaspadai Greenpeace yang melakukan penelitian lahan gambut di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Sebab, tidak tertutup kemungkinan LSM tersebut juga akan melakukan hal sama di Kabupaten Pelalawan. Beberapa hari setelah unjuk rasa di Pekanbaru, juga terjadi serangkaian kegiatan penggalangan massa dan hasutan yang disebarkan di wilayah kota Rengat dan sejumlah desa di Kabupaten Indragiri Hulu. Sejumlah organisasi mahasiswa dan masyarakat diajak untuk berdemonstrasi menentang kehadiran Greenpeace di Indragiri Hulu. Tidak cukup dengan ajakan, beberapa aktivis pecinta alam setempat bahkan mendapatkan ancaman dan peringatan untuk tidak mendukung dan membantu kegiatan Greenpeace. Sejumlah masyarakat Desa Kuala Cenaku bahkan telah memberitahukan bahwa ada sejumlah orang yang menyebarkan selebaran di jalan-jalan untuk tidak mendukung Greenpeace. Dalam selebaran itu juga disebutkan bahwa ajakan ini berasal mereka yang menamakan dirinya BANDAP (Barisan Anak Negeri Dambakan Perdamaian). Kecaman dan tentangan ini pun menjadi jelas ketika pada tanggal 13 November 2007 dilakukan aksi unjuk rasa oleh BANDAP ke kantor pemerintah setempat DPRD, kepolisian, dan kantor sementara Greenpeace di Rengat. Rombongan demonstran BANDAP sejumlah lebih kurang 100 orang mendatangi kantor sementara kami siang itu. Mereka berorasi menyampaikan tuntutan, meneriakkan yel-yel untuk mengusir Greenpeace, dan akhirnya menempelkan spanduk dan atribut aksi mereka pada jendela dan dinding kantor sementara kami. Atribut-atribut aksi tersebut sebagian besar berbunyi penolakan akan kehadiran Greenpeace di Indragiri Hulu. Bahkan beberapa dari atribut tersebut secara kasar juga menghujat dengan kata-kata yang tidak sopan. Demonstrasi berjalan cukup tertib dan lancar sampai mereka mengakhirinya 30 menit kemudian. Di akhir kegiatan, mereka sempat memberikan ancaman agar spanduk dan atribut aksi yang telah dipasang tidak dicopot atau diturunkan. Bila diturunkan maka Greenpeace akan dapat perlawanan dari seluruh masyarakat Indragiri Hulu. Ternyata, tantangan dalam bentuk pernyataan di media lokal dan aksi unjuk rasa tersebut masih belum cukup kami terima. Malam hari setelah kedatangan para pengunjuk rasa dari BANDAP, kami kembali didatangi oleh mereka. Kali ini mereka datang dengan kemarahan dan mengeluarkan kata-kata yang kasar. Beberapa dari mereka bahkan memaksa masuk ke dalam kantor. Mereka kesal karena kami telah menurunkan spanduk besar yang telah mereka pasang melintang di teras kantor kami. Keadaan menjadi panas dan menegangkan karena ancaman bertubi-tubi yang mereka lontarkan kepada kami, pengacara kami (kebetulan berada di kantor), serta teman-teman kami yang sedang berkunjung. Beruntunglah, akhirnya ketegangan ini agak mereda setelah mereka meninggalkan kantor kami tanpa adanya kekerasan fisik dan kerusakan barang-barang kami. Kini kami sedang berada pada situasi waspada penuh. Tantangan-tantangan ini menjadi semakin tampak jelas bernuansa politis. Para penentang pada umumnya berupaya menggiring opini bahwa Greenpeace adalah organisasi asing yang ingin menjajah Indonesia. Greenpeace pun berusaha untuk menjelekkan bangsa Indonesia. Greenpeace bukanlah penyelamat hutan dan lingkungan. Walaupun cukup banyak pula orang yang mulai paham bahwa Greenpeace tak punya kepentingan apa pun kecuali menyelamatkan sisa hutan rawa gambut yang sedang terancam oleh ekspansi industri kelapa sawit di Indonesia. Pertanyaannya kemudian adalah: Siapkah Greenpeace dan setiap orang yang ingin memastikan keselamatan hutan dan iklim dalam menghadapi tantangan ini? www.greenpeace.or.id [EMAIL PROTECTED]
