Maaf terlambat memberi komentar, barusan lepas dari belakang garis  
musuh.

Tidak ada yang salah dengan cara Greenpeace. Sudah tepat. Memang  
begitulah cara menghadapi bajingan. Para pengusaha tahu, pejabat  
pemerintah tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu merusak lingkungan.  
Kita sedang menghadapi tangan besar yang tak terlihat, menggenggam  
uang yang mampu membeli apa saja: termasuk nurani, pendidikan dan  
kebijakan.

Sudah banyak film, foto dan laporan mengenai penghancuran hutan untuk  
kelapa sawit, termasuk di dalamnya pembantaian orangutan. Tahun lalu  
yang mati diperkirakan mencapai 1500 orangutan. Ini gila!
Menteri Pertanian bilang: ini hanyalah kesalahpahaman.
Menteri Kehutanan bilang: ini isu lama yang sengaja dihembuskan untuk  
menjatuhkan posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar  
di Indonesia.

Para pejabat di Indonesia lebih suka menipu diri, menutup nutupi  
persoalan, bukan menyelesaikan akar persoalan.  Tahukah anda, berapa  
banyak orang Dayak yang kini terus tergusur dari tanah leluhurnya?  
Ini karena para pejabat pemda menghambakan diri pada tuan baru:  
MALAYSIA.
Sekali lagi ini bukan soal pendidikan dan penyadaran. Ini soal  
sakitnya nurani.

Cara menghadapinya ya dengan mengundang sebanyak mungkin perhatian  
publik, biar mereka berhati - hati kalau mau melacurkan diri dan  
jabatan demi uang.
Pendidikan dan penyadaran, sebagai bagian dari strategi konservasi   
secara teori sudah beres 95%. Sisanya adalah implementasi. Ini adalah  
soal terberat di Indonesia. Orang pintar bikin peencanaan tapi jeblok  
di pelaksanaan, terutama konsistensi.

Greenpeace, mau buka sekolah pertanian? hahahahaha...

Hardi Baktiantoro and Orangutan.





On Nov 17, 2007, at 5:05 PM, stephanus Mulyadi wrote:

> Kalau masih tetap menggunakan metode kampanye seperti sekarang ini,  
> saya berpendapat bahwa Greenpeace, pemerintah dan siapapun, tak  
> akan mampu menghambat kerusakan hutan di Indonesia.
>
> Kelemahan Greenpeace justru terletak pada aksinya. Greenpeace  
> berkampanye menentang perusakan hutan, lingkungan, dll., dan di  
> sini Greenpeace memposisikan diri sebagai "lawan" para perusak.  
> Tidak jarang terjadi sampai bentrokan fisik dalam aksinya.
>
> Penyelamatan hutan di Indonesia
>
> Khusus dalam kasus upaya penyelamatan hutan di Indonesia, entah  
> hutan gambut, entah hutan apa saja, posisi Greenpeace juga sama:  
> sebagai "lawan para perusak." Lawan Greenpeace di sini bisa  
> berupa : kebijakan (pemerintah) yang memungkinkan terjadinya  
> perusakan hutan, bisa masyarakat setempat yang cara pengolahan  
> alamnya tidak tepat dan bisa juga para mafia (pengusaha yang hidup  
> dari perselingkuhan dengan penguasa, yang memakai jasa "pengguna"  
> yaitu orang-orang yang dibayar oleh mafia).
>
> Mengubah metode kampanye
>
> Sebagaimana nafsu perang dapat ditanamkan ke dalam kepala manusia,  
> demikian juga semangat untuk mencintai dan mengelola alam dengan baik.
>
> Cara menanamkan semangat tsb. adalah melalui pemberian pendidikan,  
> pengetahuan dan ketrampilan. Sasarannya bisa dimulai dari  
> masyarakat setempat. Bentuknya adalah sekolah untuk masyarakat, di  
> mana masyarakat di sekitar hutan bisa belajar dan berlatih  
> bagaimana mengelola alam dengan baik sampai pada proses produksi  
> dan pemasarannya . Usaha pendidikan ini harus membawa keuntungan  
> yang bisa dirasakan oleh masyarakat setempat secara konkrit. Lebih  
> konkrit lagi contohnya adalah Greenpeace mendirikan sekolah  
> pertanian yang letaknya tidak di kota tapi di sekitar hutan, di  
> mana petani bisa belajar secara gratis, entah tentang cara bertani,  
> entah tentang hak-hak mereka sebagai warga masyarakat, tentang  
> hukum dan tentang konsekuensi bila hutan di sekitar mereka rusak.
> Masyarakat diajari bagai mana mereka "berhitung" tentang untung  
> ruginya bagi mereka apabila di sekitar mereka semuanya kebun sawit.
>
> Jadi kampanyenya bukan berbunyi: " (masyarakat) jangan merusak  
> hutan," tapi " bagimana masyarakat bisa hidup layak dari dan  
> bersahabat dengan hutan". Basisnya adalah masyarakat setempat.  
> Berjuang dari bawah, dari "akar rumput", demikian orang sering  
> menyebutnya.
>
> Saya yakin, kalau masyarakat merasa diuntungkan oleh program  
> tersebut, masyarakat akan mendukung Greenpeace atau siapa saja yang  
> ingin melindungi hutan dari kerusakan. Mereka juga tidak mudah di  
> "beli" oleh para mafia untuk menentang Greenpeace.
>
> Kampanye kedua bisa dimulai dari kaum muda. Bentuknya pendidikan  
> non formal. Saya sendiri sudah memulai usaha pendidikan ini sejak  
> tahun 2003 dengan pelatihan promotor JPIC (justice, peace and  
> integrity of creation). Sudah ada delapan angkatan ikut pelatihan  
> dan sudah tersebar sampai ke Kalimantan Timur.
>
> Dengan metode seperti itu, minimal "lawan" Greenpeace sudah  
> berkurang satu.
>
> Hambatannya adalah:
>
> perjuangan ini butuh waktu yang lama, biaya yang besar dan tidak  
> menarik, tidak heroik dan juga mungkin tidak laku untuk  
> diberitakan. Lebih mudah memasang spanduk atau aksi turun ke jalan.
>
> Tapi saya yakin, tidak ada usaha yang akan sia-sia bila dilakukan  
> dengan tekun dan tulus.
> Sekarang tergantung pada misi Greenpeace: mau menghambat kerusakan  
> hutan/alam atau mau berita kampanyenya dimuat dikoran?
>
> Salam dan maju terus Greenpeace Indonesia
>
> Mulyadi

Kirim email ke