Hardi Baktiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Maaf terlambat memberi komentar, barusan lepas dari belakang garis musuh. Tidak ada yang salah dengan cara Greenpeace. Sudah tepat. Memang begitulah cara menghadapi bajingan. Para pengusaha tahu, pejabat pemerintah tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu merusak lingkungan. Kita sedang menghadapi tangan besar yang tak terlihat, menggenggam uang yang mampu membeli apa saja: termasuk nurani, pendidikan dan kebijakan. --------------------------------- "Sangat mengesankan!" Salut!
Mungkin hanya kata itu yang dapat saya ungkapkan saat ini, setelah membaca tulisan saudara Hardi B (dari Greenpeace?). " Tidak ada yang salah dengan cara Greenpeace. Sudah tepat. Memang begitulah menghadapi bajingan". Pernyataan tsb. (bagi saya) merupakan ungkapan rasa kepercayaan diri yang sempurna, yang sekaligus merupakan "palu godam" untuk mengakhiri keterbukaan untuk berefleksi, berdiskusi, terus belajar dan ber-inovasi. Namun adakah yang sempurna di muka bumi ini, kecuali "merasa" bahwa diri sempurna? Dan apakah tidak mungkin kalau sikap seperti itu juga bisa menjadi awal matinya perkembangan? Termasuk matinya kreativitas dalam kreasi strategi? ------------------ Hardi Baktiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Sudah banyak film, foto dan laporan mengenai penghancuran hutan untuk kelapa sawit, termasuk di dalamnya pembantaian orangutan. Tahun lalu yang mati diperkirakan mencapai 1500 orangutan. Ini gila! Menteri Pertanian bilang: ini hanyalah kesalahpahaman. Menteri Kehutanan bilang: ini isu lama yang sengaja dihembuskan untuk menjatuhkan posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di Indonesia. ---------------------- terima kasih atas infonya. Setuju, ini gila! ---------------------- Hardi Baktiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Para pejabat di Indonesia lebih suka menipu diri, menutup nutupi persoalan, bukan menyelesaikan akar persoalan. ---------------------- Setuju, bahwa pejabat Indonesia (semuanyakah?) seperti itu. Lalu akar persoalannya sebenarnya apa ya? ---------------------- Hardi Baktiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Tahukah anda, berapa banyak orang Dayak yang kini terus tergusur dari tanah leluhurnya? ---------------------- Tidak tahu persis. Tapi kira-kira iya. ---------------------- Hardi Baktiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ini karena para pejabat pemda menghambakan diri pada tuan baru: MALAYSIA. ----------------------- Bisa jadi benar. ------------------------ Hardi Baktiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Sekali lagi ini bukan soal pendidikan dan penyadaran. Ini soal sakitnya nurani. ---------------------- Jadi begitu. Nurani siapa yang sakit? Aktivis Greenpeace? Atau nurani orang Dayak? ----------------------- Hardi Baktiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Cara menghadapinya ya dengan mengundang sebanyak mungkin perhatian publik, biar mereka berhati - hati kalau mau melacurkan diri dan jabatan demi uang. ----------------------- Bisa jadi cara ini tepat. Tapi apakah terjamin bahwa ""mereka" akan berhati-hati? Buktinya sekarang semakin merajalela. ----------------------- Hardi Baktiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pendidikan dan penyadaran, sebagai bagian dari strategi konservasi secara teori sudah beres 95%. Sisanya adalah implementasi. Ini adalah soal terberat di Indonesia. Orang pintar bikin peencanaan tapi jeblok di pelaksanaan, terutama konsistensi. ----------------------- Setuju. Namun mungkin di sini juga masalahnya. Kalau hanya sebatas teori, meskipun 95%, lalu artinya apa? Masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan mungkin tak butuh banyak teori, tapi mereka butuh implementasi, dan hasil dari implementasi itu dapat mereka rasakan secara konkrit manfaatnya. Sudah banyak orang mengumbar teori di pedalaman Kalimantan. Sayangnya banyak di antara mereka yang tidak tahu bahwa mereka sedang bicara soal apa. Anda benar, orang pintar bikin perencanaan, tapi jeblok di pelaksanaan, terutama konsistensi. Hal ini terjadi juga pada banyak aktivis di dan atas nama menyelamatkan hutan, orangutan dan masyarakat Dayak, tentu kecuali aktivist Greenpeace, barangkali. -------------------------- Hardi Baktiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Greenpeace, mau buka sekolah pertanian? hahahahaha.. -------------------------- Terima kasih atas tertawa lebar Anda. Saya angkat topi menaruh hormat. Saya memang tidak profesional dalam hal seperti ini. Jadi maafkanlah kalau saya mengutarakan ide yang bodoh (mengenai sekolah pertanian bagi orang pedalaman sebagai contoh konkrit dari sebuah strategi kampanye) sehingga terdengar lucu bagi orang pintar dan bijak. Terima kasih, anda memang pantas untuk tertawa. Tapi, apakah saudara Hardi menangkap persis maksud saya? Maaf, kalau boleh saya bertanya, ini agak pribadi, saudara Hardi lahir dalam suku Dayak apa? Selamat berjuang Greenpeace. Saya ingin benyak belajar dari Anda, saudara Hardi. Relakanlah untuk berbagi dan memberikan pencerahan. Salam Mulyadi
