Oleh Mohamad Sobary
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/28/opini/4032884.htm
========================

Di dalam kebudayaan kita tersimpan kekayaan moral yang melimpah.
Kekayaan itu terpelihara dengan baik di dalam masyarakat kita karena
kita memiliki sistem dan mekanisme pewarisan nilai-nilai kebudayaan
yang hidup dan berkembang melintasi batas-batas abad dan generasi.
Menurut rumusan bijak Minangkabau, sistem tersebut tak lapuk oleh
hujan, tak lekang oleh panas.

Sistem pendidikan tradisional kita—yang sebagian besar kita pelihara
di dalam kehidupan keluarga di daerah-daerah pedesaan yang masih
bersifat komunalistis—secara seimbang ditumpukan pada tiga dimensi
sekaligus, yaitu dimensi kognitif, afektif, dan evaluatif. Di
sana—pada intinya—kecerdasan otak (dimensi kognitif) dan kecemerlangan
jiwa (dimensi afektif) baru ada maknanya apabila keduanya dapat
diwujudkan secara nyata di dalam hidup keseharian kita menjadi dimensi
evaluatif. Maksudnya, kita tak boleh hanya omong. Kita tak boleh hanya
berteori dan berangan-angan.

Kecuali itu, sistem pewarisan nilai-nilai kebudayaan tadi tercermin
tidak saja di dalam pendidikan resmi melalui sistem persekolahan,
melainkan juga di dalam kehidupan kesenian kita, termasuk unsur seni
bela diri.

Di dalam seni ini muatan moral tadi tersirat, tetapi jelas bagaikan
tersurat: guru silat masih selalu menyisakan satu dua jurus yang tak
diajarkan pada murid buat berjaga-jaga mengatasi bilamana ada murid
durhaka yang melakukan pemberontakan melawan guru dan perguruannya.

Seluruh bangsa yang disebut rumpun Melayu paham akan perkara ini.
Bangsa China yang besar lebih paham lagi. "Wisdom" dunia seni bela
diri yang diangkat dari novel-novel silat menjadi tema heroik di dalam
seni perfilman. Maka, muncullah film-film silat dari negeri China yang
dahsyat dan juga film silat dari negeri kita sendiri.

Seni mengatur negara, seni sastra dan seni bela diri, di zaman lampau
merupakan satu rangkaian yang tak terpisahkan. Negara yang kuat
membutuhkan tentara, pesilat-pesilat tangguh, ahli seni di bidang
taktik dan strategi politik, dan seniman di bidang sastra yang
mendalam dan mahir menuliskan kisah-kisah sang raja dan keluarga
bangsawan menjadi kisah memikat hati.

Kalau begitu, sempurnakah kebudayaan kita?

Tidak. Dilihat dari segi munculnya anak durhaka macam Malin Kundang,
terbuktilah bahwa ada yang kurang dalam kebudayaan kita.

Namun, dilihat dari ungkapan bijak masa lalu, yang mengatakan "bukan
salah bunda mengandung, buruk suratan tangan sendiri" jelas bagi kita
bahwa Si Malin Kundang menjadi anak durhaka bukan karena salah
kebudayaan. Malin Kundang muncul dalam kebudayaan bukan karena ia pada
dasarnya anak salah asuhan.

Oleh karena itu, kebudayaan merasa berhak mengutuknya menjadi batu
agar anak durhaka tak dilahirkan kembali oleh proses sosial-ekonomi
kapitalistis yang memang angkuh, terlalu percaya diri, tetapi tak
cukup tahu diri seperti tetangga kita.

Rumusan moral kita jelas: terkutuklah semua anak durhaka. Dan, kita
tak perlu lagi berpayah-payah mengutuk mereka? Kita cukup menjadi
orang tua yang bijak, guru yang sabar, dan tak perlu risau menghadapi
kedurhakaan anak atau muridnya?

Saya tidak tahu. Namun, saya tak mau menjadi orang tua dan guru
seperti itu. Saya harus bertindak. Saya akan selalu memegang pedang
untuk mengusir semua anak dari "neraka". Maksudnya, saya akan mencegah
anak-anak berbuat durhaka supaya mereka tak harus mengalami tragedi
mengenaskan, menjadi batu menangis.

Sikap saya ini terakomodasi dengan baik di dalam ungkapan lama juga:
"Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah". Maka, saya pun
menyanggah sikap durhaka itu.

Tetangga kita itu mengejek kita Indon. Mereka tak tahu bahwa bila
Indon itu dicarikan kata lainnya yang serumpun, misalnya Indu; maka
kita ini berarti bulan. Dan, bulan itu cantik.

Jadi, kita bukan sekadar truly Asia karena truly Asia pada dasarnya
hanya truly Malingsia. Sebaliknya, kita "truly Indu", sungguh-sungguh
bulan yang cantik memesona.

Dan, kalau Indon itu makssudnya Indun, maka artinya juga mentereng:
sapaan penuh sayang. Sebaliknya, kalau Indon itu Indus, dan bertemu
dengan nesos, jadilah Indos nesos, atau Indonesia. Indus artinya air,
yaitu lautan-lautan kita yang cantik, biru memesona. Nesos, artinya
pulau-pulau, yang sebagian sudah mereka maling.

Ini tindakan durhaka. Kita dulu guru mereka. Ketika agak makmur secara
ekonomi, mereka merasa sudah pandai. Padahal, ternyata belum tahu
etika bertetangga yang baik. Dalam perkara ini saya heran, mengapa
pemerintah dan rakyatnya sama-sama congkak, cingkak, dan angkuh?

Mereka hendak belajar mengelola minyak dan kita bersedia menjadi guru
yang baik hati. Mereka minta diajari bikin kantor berita dan kantor
berita Antara menjadi guru yang pemurah. Ini semua karena semangat
untuk mengajari orang-orang bodoh agar kita bisa menerangi mereka
dengan cahaya ilmu.

Akan tetapi, mereka lupa kebaikan kita. Bukan salah bunda mengandung,
buruk suratan jelas hasil kecongkakan mereka sendiri. Bangsa apa
tetangga kita ini? Karena saya berguru kepada bangsa dan negara
Australia, sikap saya kepada mereka sangat hormat. Banyak warga kita
yang juga hormat sekali kepada bangsa dan negara Amerika karena mereka
berguru di sana. Begitu pula mereka yang belajar di Inggris, di
Perancis, Belanda, Rusia, Denmark, Norwegia, dan di negara-negara
Eropa lainnya.

Kenapa kita memiliki satu murid saja menjadi murid durhaka? Tak
tahukah mereka pesan tersirat dalam dongeng-dongeng moral yang
menggambarkan betapa tragis akibat tindakan durhaka?

Tak tahukah mereka, tragedi anak durhaka itu menjadi batu, yang selalu
menangis karena menyesal, tetapi sesal itu tak berguna?

Sudah berkali-kali mereka meludahi wajah kita. Namun, pemerintah kita
yang sangat bijaksana itu diam saja. Sombonglah terhadap bangsa yang
sombong karena melawan kesombongan dengan sikap sombong itu sedekah.

Dan, ke mana pula pemuda-pemuda yang merasa dirinya sudah siap
memimpin itu? Mengapa pemimpin bisu terhadap isu-isu internasional
yang sangat menginjak harga diri dan martabat bangsa kita? Apa beda
mereka dengan orang tua? Dikemanakan jiwa Bung Karno yang heroik dan
patriotik?

Jangan biarkan mereka menjadi batu. Selamatkan bangsa Fir'aun itu
dengan tongkat Musa di tangan kita agar mereka tak tenggelam ke dalam
lautan kesombongan mereka sendiri. Selamatkan mereka, setidaknya Anwar
Ibrahim dan keluarganya, agar kita tak dipersalahkan dunia. Anwar dan
keluarganya bukan bagian dari pencuri itu. Dan, dia bukan si anak durhaka.

Mohamad Sobary Budayawan 

Kirim email ke