Temasek

Oleh ADHIE M MASSARDI

TEMASEK itu melanggar undang-undang, makanya didenda Rp 250 miliar. Tapi 
Mahfud, kawan saya, menganggap itu terlalu ringan. “Temasek itu musuh bangsa. 
Kehadirannya di Tanahair hanya mbah-nambah kerusakkan moral,” katanya dengan 
logat Madura.

Marwan yang sudah lama tak setuju Temasek menguasai hajat hidup orang banyak, 
menepuk-nepuk bahu Mahfud. Akhirnya ada juga yang sependapat dengan dirinya. 
“Tapi perjuangan kita belum selesai, Cak. Mafia peradilan bisa main di 
tikungan,” kata Marwan cemas.

Merasa dapat angin, Mahfud makin semangat. Katanya, untuk mencegah mafia 
peradilan main di tikungan, itu soal gampang. Kita upayakan pengadilannya di 
jalan lurus, katanya.

Cuma Mahfud menyayangkan kenapa juga DPR tak kunjung bikin undang-undang APP. 
“Temasek itu bisa dijerat dengan UU APP. Kalau masih membandel, kita kirim FPI 
untuk melakukan pressure,” katanya.

Mendengar ini Marwan Batak, seperti juga kita, merasa yakin Mahfud “nggak 
nyambung” dengan pokok masalah. Apa hubungannya Temasek dengan UU APP dan FPI? 
Meskipun sama-sama bikin kita nafsu, Temasek bukan “tema seks”. Tapi bukan 
orang Madura kalau tidak bisa menyambungkan persoalan sederhana begini. 

“UU Anti-Penjajahan dan Penjarahan itu penting guna melindungi bangsa dan 
kekayaan negara. Nah, untuk mengamankan UU itu, aparat hukum kita pasti nggak 
mampu. Makanya harus dimobilisasi Front Pembela Indonesia,” tutur Mahfud. 

Kalau ini kita setuju. Soalnya di negeri kita banyak elite politiknya tapi 
tidak ada kepemimpinan politik. Kata orang Madura, besar bedanya antara elite 
politik dan pemimpin politik. Kalau elite politik berjuang untuk kemakmuran 
diri sendiri. Sedangkan pemimpin politik berjuang demi harkat, martabat dan 
kesejahteraan rakyatnya. Untuk itu, semboyan yang dipakai adalah: “tujuan 
menghalalkan cara”.

Demi kejayaan Amerika, halal bagi Bush mengebom Afganistan atau menyerbu Irak. 
Atau menyampuri urusan dalam negeri orang lain. (Cuma belakangan teman Bush di 
Inggris jatuh, di Australia jatuh. Siap menyusul teman Bush di negara 
lainnya...!)

Demi kemakmuran rakyatnya, PM Singapura mengundang siapa saja pemilik uang. Tak 
penting itu hasil korupsi atau bukan. BUMN-nya juga diijinkan melakukan semacam 
penjarahan di negeri orang, asal dapat laba banyak.

Demi meningkatkan harkat dan martabat bangsa menyusul kemajuan ekonominya, 
pemimpin politik Malaysia mengakuisisi budaya bangsa lain, dan mengakuinya 
sebagai budaya bangsanya. Tak penting itu dianggap melanggar hak cipta atau 
disebut “penjarah budaya”. 

Jadi bila pemimpin politik di negara lain semboyannya “tujuan menghalankan 
cara”, elite politik kita “nggak tahu apa tujuannya”.

Kita hanya bisa termangu melihat negeri ini dijadikan TKP pemimpin politik 
kedua negeri tetangga itu. Di mata mereka, jangan-jangan Republik Indonesia ini 
“pasar loak raksasa”. Segalanya sangat murah, nyaris gratis malah.

Dan Temasek, BUMN Singapura itu, ketika menguasai Indosat dan Telkomsel memang 
nyaris gratis bila dibandingkan dengan harganya sekarang ini. 

Maka tekad Chandra Wijaya dari HIPMI memobilisasi dana untuk menguasai kembali 
Indosat dan Telkomsel, adalah upaya mengembalikan harkat dan martabat bangsa. 
Makanya sulit dan nyaris mustahil. 

*) Tulisan ini dimuat di kolom POLiTiSiANA koran Rakyat Merdeka edisi Rabu, 28 
November 2007




      
____________________________________________________________________________________
Get easy, one-click access to your favorites. 
Make Yahoo! your homepage.
http://www.yahoo.com/r/hs 

[Non-text portions of this message have been removed]



=====================================================
Pojok Milis Komunitas FPK:

1.Milis komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke