BOGOR, KOMPAS - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau
PDI-P Megawati Soekarnoputri mengaku tidak peduli pada beberapa hasil
survei yang menyatakan bahwa dirinya kalah populer dibandingkan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Lha, itu kan ya survei, biar aja survei ngomong," ujarnya, Selasa
(18/12), seusai panen perdana padi dan pencanangan program nasional
PDI-P "Mari Sejahterakan Petani" di Desa Sukajadi, Kecamatan Cariu,
Bogor, Jawa Barat.

Beberapa survei memang menempatkan Susilo Bambang Yudhoyono lebih
unggul dari Megawati. Menurut survei Indo Barometer, misalnya, SBY
lebih unggul dengan 36,5 persen, sedangkan Mega 25,5 persen.

Meski enggan mengomentari hasil survei, Mega mengatakan, berbagai
survei yang ada tetap menjadi bahan masukan bagi partainya. "Terserah
surveinya lah, nanti dipikir saya ngongkosin survei. Tapi, tentunya
survei itu kami jadikan masukan," tambahnya.

Mega juga menyatakan optimismenya untuk maju pada Pemilihan Presiden
2009. "Waktu saya kalah saja, saya enggak bilang kalah tapi kekurangan
suara. Saya selalu menunjukkan (bahwa) saya optimistis," ujarnya.

Calon wakil presiden

Mengenai calon wakil presiden yang akan mendampinginya pada Pemilu
2009, Mega menjelaskan, hingga saat ini PDI-P belum membahas soal itu.

Menurut dia, sebelum Pemilu 2009, PDI-P masih akan menyelenggarakan
dua kali rapat kerja nasional (rakernas). Dalam forum rakernas itulah
calon pendamping Mega akan dibahas.

"Keputusannya itu bagaimana, apakah mau dipilih begitu saja atau
tidak, itu tergantung hasil rakernas. Sebagai ketua umum saya akan
mendengarkan suara dari rakernas," ujar Mega.

Pada kunjungannya ke Cariu itu, Mega juga meluncurkan benih padi
unggul lokal jenis emespe yang ditemukan oleh Surono Danu dari Serikat
Tani Nasional (Sertani).

Menurut Mega, peluncuran benih padi unggul itu merupakan salah satu
bentuk tanggung jawab partai dalam menyejahterakan rakyat yang
sebagian besar adalah petani.

"Partai tidak hanya memikirkan politik saja, tetapi secara nyata
menggerakkan ekonomi masyarakat," ungkapnya. (A09) 

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/19/Politikhukum/4091646.htm

Kirim email ke