Oleh M Zainuddin
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/19/opini/4092058.htm
=====================

Pada bulan Desember ini, umat Islam dan Kristiani sama-sama memiliki
momentum baik untuk merenung dan introspeksi bagi terbentuknya manusia
saleh. Umat Islam merayakan hari raya kurban atau Idul Adha dan umat
Kristiani merayakan Natal.

Ibadah kurban tidak sekadar ibadah simbolik dengan mengorbankan
ternak. Ibadah kurban yang dilakukan Nabi Ibrahim merupakan upaya
memerangi egoisme.

Hikmah yang bisa dipetik dari Idul Kurban adalah bagaimana mengaitkan
ajaran tauhid dengan dimensi kepedulian sosial. Para nabi merupakan
tokoh yang menjadi uswah kepedulian dan perubahan sosial.

Kesediaan orang mukmin menyembelih kurban seperti dicontohkan Nabi
Ibrahim merupakan wujud pengamalan iman untuk lebih mendekatkan diri
(taqarrub) kepada Allah SWT.

Selain itu, seluruh tugas sosial setiap Muslim dalam bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara merupakan tanggung jawab sosial yang harus
ditunaikan secara individual ataupun kolektif.

Adapun bagi umat Kristiani, Natal merupakan ibadah gerejawi yang
terkait karya penyelamatan Yesus Kristus, termasuk hari raya Jumat
Agung, Paskah, Kenaikan Tuhan Yesus, dan Pantekosta.

Bagaimana umat beragama merefleksikan momentum hari raya dalam
kehidupan sehari-hari dengan introspeksi, memperbaiki hubungan
harmonis, dan memperbaiki citra religiusitasnya?

Uskup Agung Dom H Camara dalam Spiral Kekerasan menyerukan agar semua
umat beragama bersatu dan membuka kembali kitab suci masing-masing
untuk menemukan ajaran kemanusiaan universal guna melawan ketidakadilan.

Aktivis Muslim, Asghar Ali Engineer (1993:29, 80), mengimbau perlunya
memperjuangkan problem bipolaritas spiritual-material kehidupan
manusia dengan menata kembali kehidupan sosial yang adil dan egaliter.
Karena itu, orang beriman sejati adalah mereka yang menegakkan
keadilan dan memperjuangkan kelompok tertindas (al-mustadh’afin).
Untuk menuju kedamaian dan keutuhan umat, keadilan harus terus
diperjuangkan.

Peran agama

Secara umum, peran agama dalam kehidupan manusia dapat dilihat dari
dua aspek.

Pertama, aspek konatif, terkait kemampuan agama dalam menyediakan
sarana kepada masyarakat dan anggotanya untuk membantu menyelesaikan
berbagai masalah kehidupan.

Kedua, aspek kognitif, terkait peran agama dalam menetapkan kerangka
makna yang dipakai manusia dalam menafsirkan secara moral berbagai
kesukaran dan keberhasilan pribadi, termasuk sejarah masyarakat di
masa silam dan di masa kini.

Pemahaman atas peran agama seperti ini bisa ditemukan dalam berbagai
sumber suci agama-agama semit. Dalam Islam, Al Quran tidak hanya
mewajibkan umatnya melakukan ibadah ritual-seremonial yang memberi
kelegaan emosional dan spiritual, tetapi juga membuka ruang penafsiran
intelektual guna membantu manusia mendapatkan makna atas pengalaman
hidupnya.

Peran seperti ini tampak dalam hampir setiap ibadah ritual yang selalu
mengandung pesan moral. Bahkan begitu pentingnya pesan moral ini,
"harga" suatu ibadah dalam Islam dinilai dari sejauh mana pesan
moralnya bisa dijalankan oleh manusianya. Jika suatu ibadah tidak bisa
meningkatkan moral seseorang, ibadahnya dianggap tidak ada maknanya.
Karena itu, ketika seseorang melakukan hal-hal yang terlarang secara
fikih dalam ibadah, maka tebusannya adalah menjalankan pesan moral itu
sendiri.

Aspek kognitif peran agama seperti itu juga bisa dijumpai dalam agama
Kristen. Narasi tentang Ayub dalam Kitab Suci, misalnyaâ€"atau Nabi
Ayyub dalam Al Quranâ€"merupakan simbol persoalan kemanusiaan yang
mengandung ajaran moral yang sangat dalam. Kesungguhan Ayub
menjalankan kewajiban sosial dan keagamaan tidak serta-merta
menjadikannya bahagia, sebaliknya menyebabkan dia memperoleh cobaan
penderitaan.

Namun, kesungguhan Ayub dalam menghayati nilai-nilai sakral yang ada
dalam perintah-perintah Tuhan bukan hanya menyebabkan dia bertahan
atas penderitaan itu, tetapi juga membantunya menemukan makna dari
seluruh pengalaman hidupnya. Karena itu, ketika Ayub minta keterangan
kepada Tu han tentang apa yang terjadi, bukan keadaan dirinya yang
diutamakan, tetapi nasib buruk yang menimpa seluruh umatnya yang
dikedepankan (EK Nottingham, 1995:108-109).

Pesan agama yang terpantul dari kisah Ayub itu adalah ketidaksamaan
nasib untung dan malang manusia tidak dapat dijelaskan menurut ukuran
baik buruk manusiawi. Hal itu harus dilihat dari penilaian-penilaian
Tuhan di dalamnya. Di situlah terletak (salah satu) fungsi penting
agama, yaitu "memberi makna moral dalam berbagai pengalaman
kemanusiaan". Makna moral di sini paralel dengan apa yang dikatakan
Paul B Horton dan Chester L Hunt (1993:304), semua agama besar
menekankan kebajikan seperti kejujuran dan cinta sesama. Kebajikan ini
amat penting bagi keteraturan perilaku dan agama membantu manusia
memandang serius kebajikan.

Perbedaan pemahaman

Persoalan makna agama seperti tergambar pada ajaran Islam dan Kristen
itu merupakan persoalan makna agama dalam pengalaman individual.
Secara esensial, masalah yang sama bisa juga ditemukan pada masyarakat
secara keseluruhan. Berbagai persoalan seperti ketidakadilan sosial,
kesenjangan ekonomi, dan persoalan kekuasaan merupakan rahasia umum
dalam kehidupan manusia.

Fenomena semacam ini secara sosiologis bisa mendorong timbulnya aneka
penafsiran moral terhadap tertib sosial (yang ada). Pada situasi dan
kondisi tertentu tidak jarang dapat menimbulkan konflik-konflik
sosial, jika interpretasi yang dilakukan oleh tiap anggota masyarakat
tidak mencapai titik temu.

Atas dasar pemahaman seperti itu, masalah makna agama dalam pengalaman
masyarakat menjadi lebih unik dan rumit dibanding pengalaman individu.
Jika suatu masyarakat mampu memahami peran agama dalam membantu
menafsirkan secara moral pengalaman hidupnya, agama akan hadir
sebagaimana fungsinya. Sebaliknya, jika mereka salah melakukan
interpretasi itu, agama bisa menjadi lahan subur bagi perkembangan
konflik di tengah masyarakat.

Konflik atau intoleransi sosial yang diakibatkan oleh salah penafsiran
terhadap ajaran agama sedikitnya ada dua bentuk.

Pertama, konflik intern agama atau yang lazim disebut konflik
antar-mazhab. Konflik semacam ini biasanya bermuara dari perbedaan
pemahaman terhadap ajaran agama di antara sesama pemeluk suatu agama.

Kedua, konflik antar-agama atau disebut juga konflik antarumat
beragama. Dalam konflik seperti ini, karena skalanya bisa lebih luas
dari yang pertama, faktor-faktor lain pun memiliki peran besar.
Misalnya, faktor ekonomi, politik, mekanisme dakwah, dan struktur sosial.

Oleh karena itu, dalam momentum hari raya bagi dua agama besar ini,
amat tepat untuk dilakukan kerja sosial, membangun komitmen bersama
bagi terwujudnya kehidupan berbangsa dan bernegara secara adil dan
demokratis, penuh keharmonisan dan kedamaian.

M Zainuddin Dosen UIN Malang, Aktivis Dialog Antarumat Beragama 

Kirim email ke