Duh, kenapa ya kok saya mikirnya ini adalah salah satu bagian dari
rencana besar untuk menghancurkan bangsa kita.... Soalnya kan rakyat
kecil sering tidak mampu beli daging, jadi lauk pauk sehari-hari ya
tahu tempe..... sukur-sukur ada cabe jadi bisa bikin sambel.... =(
Gimana rakyat bisa mikir, mengejar pendidikan, atau ikut membangun
negara kalau perutnya saja masih belum terisi... =(

Kenapa sih ya Indonesia masih harus impor kedelai.... ada yang bisa
mencerahkan kah...




--- In [email protected], heni widodowati
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> iya neh mas ghozan saya juga ikut sedih. Saya baru doyan makan tempe
setelah 4 tahun belakangan ini. Dulu saya lebih memilih daging atau
telor untuk lauk-pauk. Tapi sejak 4 tahun belakangan ini saya jadi
penyuka tempe atau tahu. Saya baru tahu klo tempe dan tahu akan
sedikit menghilang atau bahkan menghilang dari pasaran sekitar 3 hari
gara2 ikut belanja pembantu keluarga kami. Saya kira demo tukang tahu
n tempe hanya rumor ternyata memang benar saat saya jalan ke kantor di
Kwitang ketemu dengan rombongan pengusaha atau pedagang tahu dan tempe
yang akan demo. Yach saya berharap pemerintah bisa membantu dan
perhatian terhadap kondisi yang terjadi tidak hanya memperhatikan 1
orang saja, tapi tolong untuk perhatikan jutaan orang di Indonesia
sebagai konsumen, pengusaha dan pekerja tahu n tempe. Saya yakin kok
para pejabat juga suka makan tahu dan tempe. Tokh makan daging tidak
selalu jadi menu utama mereka. Ya kan Pak .... Bu....
> Salam damai
> Heni

Kirim email ke