Rekan-Rekan FPK, Sebelum kutipan Rapimnas saya ulas, setidaknya kita sepakat dua hal: 1) INTERMITTENT RESOURCES perlu didampingi oleh BASELOAD POWER. Penjelasan lengkapnya bisa dilihat di : http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/82179 2) Indonesia membutuhkan semua bentuk energi baik air, surya dan angin walaupun sumber-sumber ini adalah INTERMITTENT RESOURCES (tidak bisa dijamin ketersediaannya).
Yang ditentang habisan kalangan anti PLTN, memang PLTN itu sendiri (yang termasuk golongan BASELOAD POWER). Di sini lah ada perbedaan. Mari kita bahas datanya: 1) cadangan minyak bumi utuk 24 thn Saat ini Indonesia IMPOR minyak. Untuk 24 tahun itu apakah stabil 900.000 barel per tahunnya? 2) gas bumi 59 thn Asumsi tingkat konsumsinya berapa? Kalau separuh konsumsi TRANSPORTASI dikonversi ke gas bumi sisa berapa tahun? 3) batu bara 93 thn Data ini data kapan? Kalau Pembangkit Listrik Batubara 10 GW nanti beroperasi semua, sisa berapa tahun? 4) tenaga air 76 ,67 GW INTERMITTENT RESOURCES, kalau Indonesia sudah masuk bulan Juli nanti, sudah terbayang bakal ada pemadaman listrik. Silakan tanya orang Kalimantan yang punya Pembangkit Listrik Riam Kanan. 5) panas bumi 27 GW Kalau ini sepakat, cuma Bung Manneke saja yang masih tersesat (lagi?) 6) > Biomass 49,81 gw > sURYA SETARA DGN 4.8 KUH/M2/DAY > > ANGIN 9.2 gw > URANIUM 3 gw Data Biomass s/d angin, anggap saja itu betul. Kalau Uranium, mestinya dihitung sisa berapa tahun seperti minyak bumi, gas bumi dan batu bara. Rangkumannya adalah: 1) AIR 76 ,67 GW (kita anggap saja kita di musim hujan, lupakan dulu musim kemarau) 2) PANAS BUMI 27 GW (semoga yang tersesat sudah kembali ke jalan yang benar) 3) BIOMASS 49,81 GW 4) Surya (Intermittent Resources apalagi kalau musim hujan) 5) Angin (Intermittent Resources walaupun di musim hujan) Jadi total BASELOAD POWER (di luar PLTN) = (76,67 + 27 + 49,81) GW = 153,48 GW Kita hitung juga proyeksi demandnya dengan asumsi sbb: Pertumbuhan ekonomi 5% (saya korting deh) Kapasitas Pembangkit Listrik saat ini 25 GW (jangan tersesat lagi lho) Artinya setiap 14 tahun, kita butuh Pembangkit Listrik DUA KALI LIPAT dari sebelumnya (coba hitung 1,05 pangkat 14 hasilnya berapa?). Jadi kebutuhan PEMBANGKIT LISTRIK BARU adalah: 1) Pada tahun 2022 (14 tahun lagi) butuh 25 GW 2) Pada tahun 2036 (28 tahun lagi) butuh 50 GW 3) Pada tahun 2050 (42 tahun lagi) butuh 100 GW. Jadi 42 tahun lagi, Indonesia butuh total 175 GW PEMBANGKIT LISTRIK BARU. Sedangkan yang tersedia CUMA 153,48 MW. Masih yakin belum butuh PLTN? Ini pun dengan asumsi kalau listrik tidak dipakai untuk TRANSPORTASI. Btw, coba dikonfirmasi dulu dengan Dekan FTUI, sudah pinjam kalkulator belum? Supaya waktu ditanya wartawan Kompas, tidak dengan cara mencongak. Kalau untuk TAHUN INI, saya memang sepakat dengan Dekan FEUI, PERTUMBUHAN EKONOMI tidak mungkin 6% (menurut info Bung Manneke), bahkan saya berani bilang cuma 3% (bakal banyak pengangguran, termasuk para lulusan S1). Tapi nanyanya mesti lengkap, apa dampaknya kalau Pertumbuhan Ekonomi konsisten di bawah 5% selama 42 tahun berturut-turut? Semoga tidak tersesat (lagi). Best Regards, Rudyanto To be OR not to be, that is the question Selama masih pakai OR, tidak bisa dikatakan kacamata kuda :) --- In [email protected], Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > baru pulang dr acara Rapimnas kadin, pembicaranya antara lain Menteri > energi Subroto, dia kasih data ini > > > cadangan minyak bumi utuk 24 thn > gas bumi 59 thn > batu bara 93 thn > > sedang potensi yg ada utk maisng dibawah ini : > > tenaga air 76 ,67 GW > panas bumi 27 GW > Biomass 49,81 gw > sURYA SETARA DGN 4.8 KUH/M2/DAY > > ANGIN 9.2 gw > URANIUM 3 gw > > > LHA SIAPA BILANG KITA 50 THN LAGI SUDHA PASTI BUTUH NUKLIR... > > ( > > Salam > > Haniwar
