Jadi ingat setahun lalu saat hendak pulang dari Kuala Lumpur, saya bertemu dengan seorang TKI, namanya mbak Siti, asal Jawa Tengah. Mulanya majikan mbak Siti, seorang ibu tua berwajah ramah dan berjilbab, yang menyapa saya saat antre di airport. Setelah mengetahui saya orang Indonesia, si ibu lantas menitipkan mbak Siti kepada saya, agar setidaknya ada teman di perjalanan. Ngobrol punya ngobrol, ternyata mbak Siti sangat beruntung mendapatkan seorang majikan yang baik. Sayangnya, setelah tiba di airport Cengkareng, kami terpaksa berpisah. Mbak Siti diajak pergi ke tempat lain oleh sejumlah petugas bandara, sementara saya bisa melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Terpikir oleh saya, akan diapakan saja ya mbak Siti oleh para petugas itu? Saya hanya bisa mengucap doa. Kapan ya TKI bisa merasa nyaman, aman, dan tenteram saat tiba di negeri sendiri?
Salam, Santi. Perhatian dan empati kita saja ternyata tak cukup untuk menolong para TKI di Bandara Soekarno-Hatta. Mereka sudah mirip domba lumpuh yang dikerubuti beramai-ramai oleh serigala-serigala birokrasi. Kerakusan mengaburkan kemanusiaan mereka yang tak ragu lagi menjadi jagal bagi yang takut dan tidak mengerti. Tidak heran jika melewati bandara ini, kadang menjadi mimpi buruk bagi para TKI. Baca pengalaman tragis Lani, buruh migran yang terlunta-lunta di Singapura sekaligus menjadi mangsa pemerasan persekongkolan aparat bandara. Baca pengalaman lani di blog kami: http://ecosocrights .blogspot. com/ salam yanti [Non-text portions of this message have been removed]
