Salam,
  Waktu pak LEO WATTIMENA menjadi dubes di Italia( Roma) beliau sangat membenci 
orang Indonesia yang datang ke kedutaan hanya untuk minta bantuan ( 
uang).Kebanyakan adalah anak buah kapal orang-2 Indonesia yang karena satu dan 
lain hal terdampar di Italia.Kebetulan pula mereka banyak yang dari suku Ambon. 
Tidak hanya satu atau 2 orang saja yang digebugi  dan ditendang keluar pintu 
oleh pak Wattimena. Kasus lain yanmg menjadi persoalan polisi tetapi diredam 
karena  status diplomatik, adalah TUKANG CUKUR di pukul oleh Dubes karena  
waktu itu ia kesakitan kena pisau cukur si tukang cukur tersebut.
Wasalam,
  Wal Suparmo

Bambang Soetedjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Saya pernah mengalami pemukulan yang terjadi di Belgia. Seorang 
diplomat (Kepala Bagian Ekonomi) karena permintaan penjemputan terlambat karena 
adanya kecelakaan di jalan dan datang terlambat, ternyata pegawai lokal bagian 
kendaraan ditempeleng sampai luka2 dipelipis kanan dan segera dibawa ke rumah 
sakit. Tanpa diskusi main tempeleng aja. Kebetulan saya tau namanya dan asal 
kampungnya darimana si diplomat tsb. Duta Besar saat itu juga meredam masalah 
dengan memihak diplomat tersebut tentunya. Siapa yang mau bela local staff 
kalau posisi di deplu sebagai diplomat terancam. Lebih baik semua ditutup 
mulutnya. Menurut saya seorang diplomat kan sudah harus bisa menahan emosi dan 
tanyakan dulu apa sebab terlambat. Kalau main tempeleng begini namanya orang 
tidak berpendidikan. Buat apa dia mewakili negara kalau kelakuannya seperti itu 
mana ngancam lagi pakai bawa senjata tajam. Saya justru kasihan sama diplomat 
yang begini dan saya anggap dia sakit jiwa.
Menurut informasi dia sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Jadi 
pendidikan dan menahan emosi sangat penting terutama bagi mereka yang berfungsi 
sebagai wakil negara.

Salam
BS

Kirim email ke