Untuk Lemah Padas,

Koreksi untuk nama Lanud di Malang adalah Lanud Abdurrahman Saleh, sedangkan 
Lanud di Madiun bernama Iswayudi.

Seharusnya adik Anda melaporkan kasus tersebut ke Puspom TNI agar perilaku 
oknum yang tidak terpuji tersebut diproses hukum. Untuk daerah Malang, Puspom 
TNI sepertinya di kawasan Jl Bromo.

Zaman sekarang bukan waktunya lagi ada oknum TNI yang main tangan.

Salam prihatin

Ari Junaedi
------------------------------------------------------------------------------
Sent from my BlackBerry Wireless Handheld
Powered by MATRIX and INDOSAT GPRS Network


-----Original Message-----
From: Lemah Padas <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Wed, 25 Jun 2008 10:13:58 
To: <[email protected]>
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] TENTARA MAIN PUKUL di LANUD MALANG


Salam merdeka,
Kemarin sekitar jam 4 sore 24 Juni 2008, adik saya melintas di kawasan Lapangan 
Udara (LANUD) Iswahyudi Malang. Karena adik saya tidak tahu kondisi jalan di 
kawasan tersebut, adik saya salah jalan. Tanpa ba-bi-bu seorang tentara 
Angkatan Udara yang berjaga, bernama Praka BIANTORO asal Blitar, menghentikan 
adik saya dan membawa adik saya ke ruang pos penjagaan yang gelap. Di pos 
penjagaan yang gelap tersebut, tanpa ditanya panjang lebar, adik saya di pukul 
perutnya sampai TERPELANTING dan mengeluarkan air kencing.
Setelah kejaidan ini adik saya melapor ke kantor Polisi. Polisi menyarankan 
agar adik saya menemui komandan di LANUD. Karena polisi menyarakan seperti itu, 
maka adik saya diantar oleh seorang saudara menemui komandan Praka Biantoro. 
Adik saya di pertemukan dengan Praka Biantoro, dan dengan berat hati akhirnya 
diputuskan berdamai, dengan syarat Praka Biantoro meminta maaf dan menanggung 
pengobatan.
Namun saya menyesalkan dua hal: pertama, dalam kondisi TNI yang namanya semakin 
buruk karena seringnya melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM) 
warga negara, masih ada saja anggota tentara yang masih secara brutal 
menganiaya warga negara (rakyat) yang membayar mereka melalui pajak. Rupanya 
anggota TNI masih merasa bahwa mereka hidup di jaman Orde Baru, dimana tentara 
sangat ditakuti dan bisa berbuat seenaknya seperti di rimba belantara; kedua, 
saya menyayangkan sikap polisi yang sangat tidak profesional dan diskriminatif. 
Seharusnya polisi berani menangkap dan mengambil langkah hukum atas pengaduan 
yang dilakukan adik saya, tanpa merasa takut bahwa yang melakukan penganiayaan 
adalah anggota TNI AU. Kalau polisi tidak berani melakukan itu, jangan salahkan 
jika rakyat terus tidak percaya terhadap janji Kapolri bahwa, Polri akan 
menjadi polisi komunitas yang profesional.
Demikian, semoga bangas dan negara ini terus melangkah maju dengan meninggalkan 
dan menggilas para pecundang yang saat ini menempati posisi sebagai pejabatnya.
Salam Merdeka,


Lemah



Kirim email ke