Oleh Budiarto Shambazy http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/26/01480662/andai.aku.jadi.presiden
Kampanye untuk memilih anggota legislatif resmi telah dimulai. Tak ada yang terkejut, yang ramai malah kampanye tak resmi memilih presiden. Anomali ini terjadi lantaran absennya kepemimpinan. Rakyat yang kayak anak ayam kehilangan induk ingin segera punya pemimpin baru. Minat terhadap partai menurun drastis. Banyak yang mencibir jumlah partai kelewat banyak meski pada Pemilu 1955 jumlah itu lebih dari dua kali lipat. Oleh sebab itu, figur lebih berpengaruh ketimbang partai. Jajak-jajak pendapat membuktikan figur-figur yang populer menjadi calon presiden adalah wajah-wajah lama lagi. Mereka yang resmi mencalonkan diri adalah Mbak Mega, Bang Yos, Gus Dur, dan Yusril Ihza Mahendra. Ini strategi tepat karena democracy waits for no one. Wajah-wajah lama lain yang berpotensi masih âmenari poco- pocoâ. Tiba-tiba muncul sejumlah wajah baru dari kalangan nonpartai. Ada yang membuat blunder menghardik capres-capres tua menyingkir saja. Ini âdemokrasi portalâ yang serba melarang. Ada yang bersikap rumongso gede, gede rumongso. Ada pula yang ingin serius memimpin. UUD 1945 mengatakan, capres harus diajukan partai, tak bisa lain. Tercuat harapan ada partai berminat mengusung mereka. Sasaran lainnya mungkin uji coba untuk tahun 2014. Atau bisa juga mematok target tertinggi sebagai capres. Kalau gagal, ya jadi cawapres. Jika masih tak kesampaian, ya cukup jadi menteri saja. Itulah politik yang urusannya who gets what, when, how. Kini saatnya merebut kekuasaan secara legal dengan cara modern. Negara seperti Amerika Serikat dan Rusia menjadi model. Ada harapan âfaktor Obamaâ dimanfaatkan sebagai referensi diterapkan di sini. Obama produk jadi yang tinggal dipasarkan. Hari Kamis (24/7) di Berlin, Jerman, ia menyedot sekitar 200.000 orang untuk mendengarkan pidatonya. Sayang, tak ada Obama versi Indonesia. Ikon seperti Obama atau Diego Maradona lahir hanya sekali dalam 1.000 tahun. Ada pula yang menyebut Presiden Rusia Dmitry Medvedev model pemimpin muda yang ideal karena baru 40 tahun. Padahal, ia boneka Vladimir Putin. Sekali lagi, usia pengalaman lebih menentukan kepemimpinan daripada umur. Silakan pilih mana yang lebih dipercaya dalam politik: life begins at 40 or 50? Calon-calon alternatif mencuri perhatian karena kebetulan pasar politik tumbuh merekah. Siapa pun berpeluang terkenal sampai ke pelosok Tanah Air asal berkocek tebal. Di AS jadi orang kaya dulu baru menjadi presiden. Di sini jadi presiden dulu untuk jadi orang kaya. Politik memang tak bisa dipisahkan dari uangâ"bedakan dengan âpolitik uangâ. Obama, misalnya, butuh hampir 1 juta dollar AS untuk iklan pendek di televisi. Dana kampanye Pilpres 2008 di AS mencetak rekor baru 1 miliar dollar AS. Tarif iklan sehalaman penuh di koran-koran negeri ini mencapai angka ratusan juta rupiah sekali muat. Untung relatif mudah masuk berita koran atau âkotak ajaibâ jika Anda doktor yang masih fresh, bisa melucu, berwajah ganteng, seksi, atau ahli sinetron. Media massa ibarat kawah candradimuka untuk menjadi capres. Itu sebabnya, sukar membedakan komentator politik dengan politisi. Ia sama dengan komentator sepak bola yang biasanya tak bisa menyepak si kulit bundar. Komedian menjadi anggota DPR, sebaliknya tak sedikit anggota DPR yang lucu tanpa perlu melawak. Bintang sinetron merasa mampu mengabdi walau enggak ngerti politik adalah pengabdian. Banyak capres beralih ke âGalaksi Internetâ yang gratis. Bukan hanya Obama, band pop raksasa, seperti Radiohead atau Coldplay, juga memanfaatkan internet untuk memasarkan diri dan produk masing-masing. Pengguna internet di Barat per tahun 2008 lebih dari separuh jumlah populasiâ"AS 71,9 persen, Inggris 64,2 persen, Perancis 54,4 persen, dan Jerman 53,5 persen. Di sini hanya 8,5 persen. Nah, inkompabilitas politik itu menciptakan kultur âseolah-olahâ. Obama seolah-olah orang Indonesia, padahal cuma pernah tinggal sebentar di Jakarta. Medvedev seolah-olah bukan boneka, padahal ia disetir Putin. Gelar doktor seolah-olah akhir kehidupan, padahal baru awal perjuangan. Film dan sinetron seolah-olah versi asli kehidupan, padahal palsu. âKotak ajaibâ seolah-olah sumber ilmu, padahal tak mendidik. Rakyat seolah-olah 24 jam berselancar di internet, padahal listrik mati melulu. Jadi presiden seolah-olah gampang, padahal susahnya setengah edan. Hanya satu takkan seolah- olah: kita mau dibawa kemana sih? Saya ngeri bahkan hanya sekadar membayangkannya. Izinkan saya bertanya kepada mereka yang seolah-olah mampu jadi presiden: sanggupkah Anda memimpin kami? Izinkan saya kasih saran: jangan nekat sebelum jadi bahan olokan. Kultur seolah-olah menyuburkan manusia yang gemar berandai-andai. Saya ingat lagu Cuma Khayalan karya Oppie Andaresta yang berandai-andai jadi orang kaya. Maaf Oppie, liriknya saya ubah. Pengen punya istana mewah/Lengkap dengan jubir, pengawal, dan ajudan pribadi. Ke mana-mana pake sirene ngeong-ngeong/Duduk santai sambil karaokean sama kutu kupret/Enggak kepanasan lagi uihh dingin. Pengen punya rumah gedong/ Lengkap dengan pelayan, perabotan luks plus kolam renang. Mau ini itu tinggal perintah/ Hidup serasa di istana/Trus kalo kepanasan saya ajak temen-temen gue nyebur deh basah/Andai a...a...a...a...aku jadi presiden.
