Yth Rekan-rekan milis,
Analisis yang bagus dari sdr.Shambazy,tentang persiapan pemilu. Begitu pula ada yang sudah muak dengan politik di Jakarta yang lmenyatakan ebih baik pulang kampung bertani dan membangun kampung,seperti pak Faisal Basri. Memang kondisi Indonesia dan tantangan bagi pemimpin saat ini dan masa depan akan lebih sulit lagi.Masalahnya adalah multi yang banyak multi-disiplin,multi-sektor, multi region,multi-budaya sehingga calon presiden atau leader di Indonesia harus melebihi : -Hitler yang dapat memobilisasi/membius rakyatnya dalam 4 tahun sehingga punya semangat bangkit dan bekerja untuk apa yang namanya Deutschland uber Alles. Dalam 4 tahun bisa menciptakan kerja para penganggur sebesar 12 juta orang saat itu,ekonomi kacau dll. Sudah tentu harus juga dapat menghilangkan segi negatifnya Hitler. Semangat yang dibangun Hitler mirip cara Bung Karno membangkitkan semangat bangsa Indonesia.Saya masih ingat bagaimana kalau 17 Agustus orang berbondong-bondong ke Istana Merdeka atau radio untuk mendengarkan pidato beliau yang berapi-api dan penuh semangat,padahal saat itu rakyat banyak yang lapar,......ngantri bulgur. Kata Kuncinya adalah Leadership dalam membangkitkan WILL POWER BANGSA. -Saking banyaknya masalah sehingga perlu 3P,yaitu priority,policy dan principle's. Perlu disiapkan oleh calon presiden dan mengingat masalahnya perlu team yang dapat membantu capres untuk menentukan 3 P. Sebenarnya para pendiri Republik sudah mengungkapkan sejak awal dalam Pembukaan UUD 45 kata kunci yaitu untuk menciptakan rakyat yang -sejahtera,cerdas dan damai, sehingga prioritasnya sudah jelas. Masalahnya adalah bagaimana melaksanakannya,karena setelah prioritas bagaimana membuat policy dan how to deliver policy.Mengerti masalah praktis dilapangan mulai dari Menko,Menterinya hingga birokrat pelaksananya. Contoh Menko Kesra,bagaimana konsepnya untuk sejahterakan rakyat dan bagaimana kebijakan pelaksanaannya,apakah hari ini lebih sejahtera dari kemarin ? Apakah kereta api lebih nyaman dan lebih tepat waktu ? Apakah lebih banyak SDM yang bisa sekolah dengan kwalitas baik ? Disini perlu strategi,taktik dan leadership agar birokrat mau jalan efektif menjalankan kebijakan yang telah ditetapkan. Kata kuncinya adalah STRATEGI dan TAKTIK/TEKNIS untuk IMPLEMENTASI. -Saran saya adalah para capres perlu belajar sistem sosial dan teknis agar wacana dan teknis pelaksanaan bisa sejalan,bisa klik Socio-technical System for Development. Wacana di Indonesia saking banyaknya hingga bingung pelaksanaannya,yang sebenarnya perlu di ikuti adalah istilah OODA,Observation,Orientation,Decision dan Action,karena biasanya berhenti di OO namun D dan A terlambat atau tidak konsisten putus ditengah jalan. -Untuk sikronisasi dan kordinasi bisa dipakai sebagai acuan www.strategy.gov.uk. Bukan untuk ditiru namun pelajari konsepnya untuk diterapkan di Indonesia. Hal ini mengingat sinyalemen Ibu Mega tentang birokrat sampah,meskipun tidak semuanya begitu. Hal ini dilaksanakan oleh PM.Blair ketika beliau mulai menjabat yerutama untuk mengatasi ancaman sapi gila yang bisa menghancurkan image peternakan di Inggeris. -Perlu pelajari Obama dengan pemanfaatan Information and Communication Technology. Dalam hal yang serba Multi dan Globalisasi dunia yang terus meluncur merupakan syarat utama dengan memanfaatkan konsep Triple Helix ABG plus dalam apa yang disebut Sistem Inovasi Nasional atau definisi saya tentang Reformasi yang berdasarkan ilmu pengetahuan.Referensinya OECD Manual National Innovation System. Triple Helix ABG plus yaitu sinergi Akademisi,pe-Bisnis/Inustri dan Government seperti yang dianjurkan MenRistek dan banyak pengamat lainnya. Innovate or Die. -Banyak model kekuatan bangsa dan pada kesempatan ini saya ajukan model R.S.Cline sbb: P = (E + M + C mass)( S + W ) P=power E=ekonomi M=militer Cmass =massa yang mempunyai Strategi dan Will yang positif untuk bangsa, W= will atau niat untuk jadi leader atau jadi Presiden itu APA ? Kalau kata Pak Sugeng Sarjadi apabila beberapa ribu eselon 1 hingga 4 di Indonesia bisa menjadi efisien dan efektif maka selamatlah bangsa ini sehingga menjadi bagian dari C mass,critical mass.Karena berdasarkan teori massa nuklir dibawah Cm maka reaksi berantai sesuatu sistem tak akan berjalan alias senin kemis. Ditambah kriteria untuk Sukses dalam memenuhi P adalah : A.C. = (Produksi + Jasa ) / (KKN + Kemubaziran ) >> 1 Kalau bisa diatas seribu.Ternyata KKN dan Kemubaziran sulit untuk mencapai nol, oleh karena kita masih manusia biasa. Demikian sumbang saran kalau mau jadi Presiden saya akan pelajari dengan baik dalam suatu Team menjelang Kampanye Pilpres,pilkada atau Caleg. Saya tutup dengan ungkapan : It is better to light a candle than to forever curse the darkness. Selamat berkampanye. --- On Sat, 7/26/08, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Andai Aku Jadi Presiden To: [email protected] Date: Saturday, July 26, 2008, 12:30 AM Oleh Budiarto Shambazy http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/07/26/ 01480662/ andai.aku. jadi.presiden Kampanye untuk memilih anggota legislatif resmi telah dimulai. Tak ada yang terkejut, yang ramai malah kampanye tak resmi memilih presiden. Anomali ini terjadi lantaran absennya kepemimpinan. Rakyat yang kayak anak ayam kehilangan induk ingin segera punya pemimpin baru. Minat terhadap partai menurun drastis. Banyak yang mencibir jumlah partai kelewat banyak meski pada Pemilu 1955 jumlah itu lebih dari dua kali lipat. Oleh sebab itu, figur lebih berpengaruh ketimbang partai. Jajak-jajak pendapat membuktikan figur-figur yang populer menjadi calon presiden adalah wajah-wajah lama lagi. Mereka yang resmi mencalonkan diri adalah Mbak Mega, Bang Yos, Gus Dur, dan Yusril Ihza Mahendra. Ini strategi tepat karena democracy waits for no one. Wajah-wajah lama lain yang berpotensi masih â€�menari poco- pocoâ€�. Tiba-tiba muncul sejumlah wajah baru dari kalangan nonpartai. Ada yang membuat blunder menghardik capres-capres tua menyingkir saja. Ini â€�demokrasi portalâ€� yang serba melarang. Ada yang bersikap rumongso gede, gede rumongso. Ada pula yang ingin serius memimpin. UUD 1945 mengatakan, capres harus diajukan partai, tak bisa lain. Tercuat harapan ada partai berminat mengusung mereka. Sasaran lainnya mungkin uji coba untuk tahun 2014. Atau bisa juga mematok target tertinggi sebagai capres. Kalau gagal, ya jadi cawapres. Jika masih tak kesampaian, ya cukup jadi menteri saja. Itulah politik yang urusannya who gets what, when, how. Kini saatnya merebut kekuasaan secara legal dengan cara modern. Negara seperti Amerika Serikat dan Rusia menjadi model. Ada harapan â€�faktor Obamaâ€� dimanfaatkan sebagai referensi diterapkan di sini. Obama produk jadi yang tinggal dipasarkan. Hari Kamis (24/7) di Berlin, Jerman, ia menyedot sekitar 200.000 orang untuk mendengarkan pidatonya. Sayang, tak ada Obama versi Indonesia. Ikon seperti Obama atau Diego Maradona lahir hanya sekali dalam 1.000 tahun. Ada pula yang menyebut Presiden Rusia Dmitry Medvedev model pemimpin muda yang ideal karena baru 40 tahun. Padahal, ia boneka Vladimir Putin. Sekali lagi, usia pengalaman lebih menentukan kepemimpinan daripada umur. Silakan pilih mana yang lebih dipercaya dalam politik: life begins at 40 or 50? Calon-calon alternatif mencuri perhatian karena kebetulan pasar politik tumbuh merekah. Siapa pun berpeluang terkenal sampai ke pelosok Tanah Air asal berkocek tebal. Di AS jadi orang kaya dulu baru menjadi presiden. Di sini jadi presiden dulu untuk jadi orang kaya. Politik memang tak bisa dipisahkan dari uangâ€"bedakan dengan â€�politik uangâ€�. Obama, misalnya, butuh hampir 1 juta dollar AS untuk iklan pendek di televisi. Dana kampanye Pilpres 2008 di AS mencetak rekor baru 1 miliar dollar AS. Tarif iklan sehalaman penuh di koran-koran negeri ini mencapai angka ratusan juta rupiah sekali muat. Untung relatif mudah masuk berita koran atau â€�kotak ajaibâ€� jika Anda doktor yang masih fresh, bisa melucu, berwajah ganteng, seksi, atau ahli sinetron. Media massa ibarat kawah candradimuka untuk menjadi capres. Itu sebabnya, sukar membedakan komentator politik dengan politisi. Ia sama dengan komentator sepak bola yang biasanya tak bisa menyepak si kulit bundar. Komedian menjadi anggota DPR, sebaliknya tak sedikit anggota DPR yang lucu tanpa perlu melawak. Bintang sinetron merasa mampu mengabdi walau enggak ngerti politik adalah pengabdian. Banyak capres beralih ke â€�Galaksi Internetâ€� yang gratis. Bukan hanya Obama, band pop raksasa, seperti Radiohead atau Coldplay, juga memanfaatkan internet untuk memasarkan diri dan produk masing-masing. Pengguna internet di Barat per tahun 2008 lebih dari separuh jumlah populasiâ€"AS 71,9 persen, Inggris 64,2 persen, Perancis 54,4 persen, dan Jerman 53,5 persen. Di sini hanya 8,5 persen. Nah, inkompabilitas politik itu menciptakan kultur â€�seolah-olahâ€�. Obama seolah-olah orang Indonesia, padahal cuma pernah tinggal sebentar di Jakarta. Medvedev seolah-olah bukan boneka, padahal ia disetir Putin. Gelar doktor seolah-olah akhir kehidupan, padahal baru awal perjuangan. Film dan sinetron seolah-olah versi asli kehidupan, padahal palsu. â€�Kotak ajaibâ€� seolah-olah sumber ilmu, padahal tak mendidik. Rakyat seolah-olah 24 jam berselancar di internet, padahal listrik mati melulu. Jadi presiden seolah-olah gampang, padahal susahnya setengah edan. Hanya satu takkan seolah- olah: kita mau dibawa kemana sih? Saya ngeri bahkan hanya sekadar membayangkannya. Izinkan saya bertanya kepada mereka yang seolah-olah mampu jadi presiden: sanggupkah Anda memimpin kami? Izinkan saya kasih saran: jangan nekat sebelum jadi bahan olokan. Kultur seolah-olah menyuburkan manusia yang gemar berandai-andai. Saya ingat lagu Cuma Khayalan karya Oppie Andaresta yang berandai-andai jadi orang kaya. Maaf Oppie, liriknya saya ubah. Pengen punya istana mewah/Lengkap dengan jubir, pengawal, dan ajudan pribadi. Ke mana-mana pake sirene ngeong-ngeong/ Duduk santai sambil karaokean sama kutu kupret/Enggak kepanasan lagi uihh dingin. Pengen punya rumah gedong/ Lengkap dengan pelayan, perabotan luks plus kolam renang. Mau ini itu tinggal perintah/ Hidup serasa di istana/Trus kalo kepanasan saya ajak temen-temen gue nyebur deh basah/Andai a...a...a... a...aku jadi presiden. [Non-text portions of this message have been removed]
