Andai saja korupsi termasuk suatu cabang olahraga / sesuatu yang 
dikompetisikan, indonesia pasti di peringkat top, setidaknya tidak seperti 
prestasi olahraga indonesia di arena olimpiade.

Eric Soesilo
[EMAIL PROTECTED]

Sent from my BlackBerry�
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: "Agus Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Sat, 26 Jul 2008 18:31:50 
To: <[email protected]>
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Dari Kompor Gas Hingga Makam Dikorupsi


PENGEN jadi koruptor handal? Datang saja ke Indonesia. Semua proyek
dari yang nilainya besar hingga kecil pun bisa dikorupsi. Itulah fakta
yang sedang terjadi di tanah air. Mulai dari pengadaan kompas gas yang
akan dibagi gratis ke rakyat sebagai program konversi minyak tanah,
hingga pengadaan tanah makam pun juga jadi makanan empuk 'tikus berdasi'.

Yang cukup mengagetkan, korupsi dilakukan di saat pemerintah sedang
giat-giatnya memberantas korupsi. Kasus paling baru yakni kompor gas,
yang terjadi tahun 2007. Pengadaan alat deteksi flu burung terjadi
tahun 2006.

Pengadaan tanah makam di DKI Jakarta pada tahun 2006, pembuatan sumur
resapan di DKI Jakarta pada tahun 2006. Pembuatan data spasial untuk
mengetahui sumber daya alam daerah tertinggal di Kementrian Percepatan
Daerah Tertinggal (KPDT), juga terjadi tahun 2006.

Penahanan paling fenomenal, dilakukan Kejaksaan Agung tepat sehari
menjelang Hari Bhakti Adhyaksa (HBA) atau Ulang Tahun Kejaksaan pada
21 Juli lalu. 10 tersangka termasuk Direktur PT Pos Indonesia Hana
Suryana ditahan Kejagung sekaligus.

Modus yang dipergunakan koruptor untuk mengeruk keuntungan pribadi,
kini lebih canggih. Mereka tidak lagi menggunakan sistem penunjukkan
langsung pemenang tender. Tender dilakukan secara terbuka, namun di
dalamnya tender tersebut telah terjadi kongkalingkong untuk menggolkan
perusahaan tertentu.Selain itu, modus mark up harga juga masih digunakan.

Dalam kasus pengadaan alat pendeteksi flu burung di Direktorat
Jenderal Peternakan pada Departemen Pertanian, modusnya yakni dibuka
tender terbuka. Ada tiga perusahaan yang mengajukan penawaran. Namun
dalam penentuan tender, terjadi pengkondisian, sehingga PT Birofarma
bisa memenangkan tender senilai Rp 17,1 miliar.

Kasus ini terbongkar ketika rapid diagnosa kit yang berjumlah 191.000
unit yang dibagi ke daerah se-Indonesia, ternyata tidak dapat
digunakan. Akibatnya, negara dirugikan sebesar Rp 14,8 miliar.

Pada kasus pengadaan kompor gas yang telah ditingkatkan ke tahap
penyidikan oleh Kejagung, PT Pertamina juga melakukan tender terbuka.
11 perusahaan dinyatakan sebagai pemenang. Tujuh dari 11 perusahaan,
belakangan diketahui melakukan mark up. Yakni jumlah barang yang
diadakan, tidak sesuai dengan isi kontrak. Padahal, Pertamina telah
membayar lunas seluruh kompor yang tercantum dalam kontrak. Akibatnya,
negara dirugikan Rp 22,5 miliar.

Kasus pengadaan tanah makam Budha di Tanah Kusir Jakarta Selatan,
adalah bukti bobroknya sistem administrasi Pemda DKI Jakarta.
Pengadaan tanah senilai Rp12,96 miliar, ternyata hanya akal-akalan
pejabat Pemda DKI. Penyimpangan antara lain, uang penggantian yang
diterima oleh pemilik tanah berbeda dengan bukti kuitansi penerimaan,
luas tanah digelembungkan (mark-up) dan dokumen tanah dipalsukan
sehingga terdapat tanah yang sudah dibebaskan pada tahun 1976, namun
pada tahun 2006 dibebaskan lagi.

Satu kasus dengan modus penunjukkan langsung terjadi pada pembuatan
sumur resapan di Jakarta Selatan. Sumur resapan yang sedianya untuk
mencegah banjir sekaligus untuk penyediaan air tanah bagi warga
Ibukota, ternyata juga dikorupsi. Yakni pejabat DKI Jaksel menunjuk
langsung rekanan untuk membuat 65 sumur resapan tersebut Akibatnya,
negara dirugikan sekitar Rp 3,9 miliar.

Yulis Sulistyawan
Sumber : Persda Network

http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/26/21190441/dari.kompor.gas.hingga.makam.dikorupsi




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke