Bung Anton yg sangat cendekia, maaf komentar ini agak terlambat.
Kita memang harus lebih teliti dan jernih menguak sejarah bangsa kita yang 
memang tidak punya budaya tulis dan budaya teknologi. Tentang ketidak percayaan 
anda bahwa sangat muskil bahwa Bung Karno tidak tahu ada sebelas orang yang 
diambil dari penjara Jogya untuk dibawa ke Ngalihan , menurut saya hal itu 
adalah sesuatu yang sangat mungkin saja terjadi.  Perlu kita ingat pada 
tahun-tahun revolusi phisik sistem pemerinthan kita adalah sistem parlementer 
sebagai konsekuensi Maklumat Wakil Presiden Nr X th 1945. Bung Karno sebagai 
presiden hanya berfungsi sebagai kepala negara. Kepala Pemerintahan ada di 
tangan Perdana Menteri. Kedudukan semacam ini yang sangat dibenci oleh 
Soekarno. Ketika itu saya ingat benar bagaimana Bung Karno dengan nada tinggi 
menyerang upaya-upaya sistematis dari para lawan politiknya untuk " MEMISAHKAN 
PEMIMPIN BESAR REVOLUSI DENGAN RAKYAT!.  Beliau baru dapat menyatukan fungsi 
pemimpin,kepala negara dan kepala pemerintahan sejak
 Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dengan dukungan Angkatan Darat.(Sebuah ironi 
mengingat peristiwa 17 Oktober 1952). Hubungan Bung Karno dengan Angkatan Darat 
boleh dikata tidak baik, karena yang lebih punya kuasa selama 14 tahun 
pemerintahan beliau adalah Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan.Belum lagi 
peranan besar Jendral Suwarto sebagai "Guru Besar" SSKAD yang secara sistematis 
dan organisatoris menjadi "Panutan Ideologi para perwira menengah AD" yang pada 
dasarnya  merupakan "anti thesa" dari banyak pemikiran Bung Karno. Tentang 
hubungan BK dengan Gatot Subroto saya pernah dari sahabat dekat Jendral 
Jatikusumo. Sebagai KSAD Jendral Jatikusumo beberapa mkali mengajak Kolonel 
Gatot Subroto untuk  ke istana Jogya berbincang-bincang dengan Bung Karno.Kita 
semua tahu basis pendidikan umum Gatot Subroto yang sangat minim dan dia adalah 
Ex Sersan Mayor KNIL (senior idola Pak Harto). Nampaknya dalam beberapa diskusi 
Bung Karno sangat kecewa terhadap
 kemampuan Gatot Subroto. Sampai suatu saat Bung Karno mengatakan kepada 
Jendral Jatikusumo  dengan kalimat sebagai berikut : " Jat, liyo dino boc ah 
kuwi ojo kok jak mrene. Aku bingung mergo ora ngerti opo sing diomongke!" ( 
Jat, lain hari anak itu jangan kau ajak kemari. Aku bingung karena nggak ngerti 
apa yang dia bicarakan). Sejak itu Jatikusumo tidak pernah lagi mengajak Gatot 
Subroto untuk konkow-2 dengan BK di Istana Jogya. Lebih lanjut kita tahu bahwa 
Bung Karno memang sangat suka kepada orang yang pintar dan terpelajar. Itulah 
sebabnya mengapa dia memilih Yani ketimbang Suharto untuk menggantikan Nasution 
sebagai KSAD. Dan tentu hal ini menjadi salah satu alasan Suharto utk kecewa 
kepada BK.
Pada bulan Oktober 1965 ketika itu Bung Karno berusaha untuyk mencegah 
terjadinya pembunuhan massal terhadap simpatisan PKI di Jateng,Jatim dan Bali 
dengan mengirim orang kepercayaannya ke daerah . Tetapi sama sekali tidak 
digubris oleh penguasa-penguasa militer daerah yang memang sudah dibawah 
komando Jendral Suharto dan yang dilapangan ditopang penuh oleh Kolonel Sarwo 
Edhi dengan satuan RPKAD nya. Untuk diketahui Sarwo Edhi juga punya ganjelan 
dengan Bung Karno karena terpaksa turun pangkat karena terlibat peristiwa 17 
Oktober 1952.  Bahkan Bung Karno mencoba membuat siaran (selebaran) tentang 
korban Lubang Buaya ( BK de ngan menquote keterangan dokter pemeriksa 
menyatakan ttg tidak adanya Tarian Bunga Harum Gerwani dan mutilasi thd jasad 
para jendral yang terbunuh)untuk menafikkan siaran dari penguasa militer yang 
berusaha menghancur leburkan citra PKI dan organisasi ondebouwnya. Kontan saja 
selebaran-selebaran tsb ditengah jalan disita oleh para
 penguasa militer dan si pembawa ditangkap dengan tuduhan sebagai kader PKI. 
Masih banyak lagi kisah-kisah lain dari sejak zaman revolusi  yang membuktikan 
bahwa " Bung Karno banyak diperdaya dan dibohongi ( istilah beliau diketutin). 
Paparan ini  sengaja saya ketengahkan kepada Bung Anton untuk mencoba 
membuktikan bahwa Bung Karno dalam 20 tahun pemerintahannya acapkali "tidak 
tahu apa2", bahkan "tanganya terbelenggu" sehingga tidak dapat berbuat yang 
lebih tepat dahn lebih baik bagi bangsa ini. Demikian  dan salam perjuangan 
Tjuk KS

--- Pada Sen, 28/7/08, anton_djakarta
 <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: anton_djakarta <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: Bls: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Debat Tan Malaka dan Siapa Amir 
Sjarifudin itu?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 28 Juli, 2008, 1:37 PM











            Yang jelas peristiwa Madiun merupakan sebuah proxy war paling awal

dari percaturan politik di Asia pasca Perang dunia II, dan ini harus

dimasukkan ke dalam agenda riset sejarah dunia.



Sikap Sukarno sendiri pada Konferensi Sarangan 1948 juga perlu

diselidiki, serta gagalnya Sukarno mencegah dibawanya sebelas orang

ke Boyolali oleh pasukan Jenderal Gatot, karena penjara di Yogya dan

Istana Negara yang ditempati Bung Karno berhadap-hadapan. Jadi sangat

aneh bila Bung Karno tidak tahu dibawanya Amir cs ke Ngalihan.



Yang jelas pada saatnya nanti tidak akan ada lagi stigma sejarah,

namun kita harus melihat secara proporsional bagaimana peran manusia

dalam sejarah, seperti apa yang dilakukan Pak Tjuk sendiri terhadap

pembelaan korban Lapindo adalah sebuah tindakan kepahlawanan yang

akan dinilai secara proporsional bagi generasi yang akan datang.



ANTON

Kirim email ke