Salam kenal.
Saya kira, mengenai tahu tidaknya BK soal eksekusi terhadap Amir Cs bisa 
ditangkap secara tersirat dari percakapannya dengan pelukis Soedjojono, 
beberapa bulan setelah eksekusi di Ngalihan itu dilakukan.

Seperti diceritakan oleh Joesoef Isak;
 Sudjoyono melontarkan pertanyaan kepada Soekarno:
<I>Mas Karno, ben jij nog steeds een Marxist?</I>  (Mas Karno apa masih 
Marxist?).
Sukarno: <I>Naturlijk Jon Ik ben nog steeds een Marxist!</I> ( Pasti saya masih 
tetap Marxist ! ).
Soedjojono: <I>En waarom blijtbt je maar stil, terwijl jow vrienden die 
Marxisten waren doodgeschoten warden?</I>  ( Kalau masih mengaku Marxist, 
kenapa kau biarkan teman-teman Marxismu di tembak mati? ).
Mendengar pertanyaan itu  Bung Karno tak menjawabnya. Terharu dan  lama berdiam 
dan meneteskan air mata.

Kalau melihat literatur, Aidit dan umumnya kalangan komunis menilai Hatta 
sebagai pemberi order eksekusi. Namun menurut saya, AH Nasution pun layak 
diperhitungkan. Siang hari sebelum pelaksanaan eksekusi, dalam perjalanan ke 
Jogja yang tengah diserang Belanda (Agresi Militer II), Gatot Subroto menemui 
sendiri Nasution di Stasiun Solo. Mungkinkah ada pembicaraan soal eksekusi Amir 
dan 10 rekannya?

tabik

tbs

tjuk kasturi sukiadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             
Bung Anton yg sangat cendekia, maaf komentar ini agak terlambat.
 Kita memang harus lebih teliti dan jernih menguak sejarah bangsa kita yang 
memang tidak punya budaya tulis dan budaya teknologi. Tentang ketidak percayaan 
anda bahwa sangat muskil bahwa Bung Karno tidak tahu ada sebelas orang yang 
diambil dari penjara Jogya untuk dibawa ke Ngalihan , menurut saya hal itu 
adalah sesuatu yang sangat mungkin saja terjadi.  Perlu kita ingat pada 
tahun-tahun revolusi phisik sistem pemerinthan kita adalah sistem parlementer 
sebagai konsekuensi Maklumat Wakil Presiden Nr X th 1945. Bung Karno sebagai 
presiden hanya berfungsi sebagai kepala negara. Kepala Pemerintahan ada di 
tangan Perdana Menteri. Kedudukan semacam ini yang sangat dibenci oleh 
Soekarno. Ketika itu saya ingat benar bagaimana Bung Karno dengan nada tinggi 
menyerang upaya-upaya sistematis dari para lawan politiknya untuk " MEMISAHKAN 
PEMIMPIN BESAR REVOLUSI DENGAN RAKYAT!.  Beliau baru dapat menyatukan fungsi 
pemimpin,kepala negara dan kepala pemerintahan sejak
  Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dengan dukungan Angkatan Darat.(Sebuah ironi 
mengingat peristiwa 17 Oktober 1952). Hubungan Bung Karno dengan Angkatan Darat 
boleh dikata tidak baik, karena yang lebih punya kuasa selama 14 tahun 
pemerintahan beliau adalah Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan.Belum lagi 
peranan besar Jendral Suwarto sebagai "Guru Besar" SSKAD yang secara sistematis 
dan organisatoris menjadi "Panutan Ideologi para perwira menengah AD" yang pada 
dasarnya  merupakan "anti thesa" dari banyak pemikiran Bung Karno. Tentang 
hubungan BK dengan Gatot Subroto saya pernah dari sahabat dekat Jendral 
Jatikusumo. Sebagai KSAD Jendral Jatikusumo beberapa mkali mengajak Kolonel 
Gatot Subroto untuk  ke istana Jogya berbincang-bincang dengan Bung Karno.Kita 
semua tahu basis pendidikan umum Gatot Subroto yang sangat minim dan dia adalah 
Ex Sersan Mayor KNIL (senior idola Pak Harto). Nampaknya dalam beberapa diskusi 
Bung Karno sangat kecewa terhadap
  kemampuan Gatot Subroto. Sampai suatu saat Bung Karno mengatakan kepada 
Jendral Jatikusumo  dengan kalimat sebagai berikut : " Jat, liyo dino boc ah 
kuwi ojo kok jak mrene. Aku bingung mergo ora ngerti opo sing diomongke!" ( 
Jat, lain hari anak itu jangan kau ajak kemari. Aku bingung karena nggak ngerti 
apa yang dia bicarakan). Sejak itu Jatikusumo tidak pernah lagi mengajak Gatot 
Subroto untuk konkow-2 dengan BK di Istana Jogya. Lebih lanjut kita tahu bahwa 
Bung Karno memang sangat suka kepada orang yang pintar dan terpelajar. Itulah 
sebabnya mengapa dia memilih Yani ketimbang Suharto untuk menggantikan Nasution 
sebagai KSAD. Dan tentu hal ini menjadi salah satu alasan Suharto utk kecewa 
kepada BK.
 Pada bulan Oktober 1965 ketika itu Bung Karno berusaha untuyk mencegah 
terjadinya pembunuhan massal terhadap simpatisan PKI di Jateng,Jatim dan Bali 
dengan mengirim orang kepercayaannya ke daerah . Tetapi sama sekali tidak 
digubris oleh penguasa-penguasa militer daerah yang memang sudah dibawah 
komando Jendral Suharto dan yang dilapangan ditopang penuh oleh Kolonel Sarwo 
Edhi dengan satuan RPKAD nya. Untuk diketahui Sarwo Edhi juga punya ganjelan 
dengan Bung Karno karena terpaksa turun pangkat karena terlibat peristiwa 17 
Oktober 1952.  Bahkan Bung Karno mencoba membuat siaran (selebaran) tentang 
korban Lubang Buaya ( BK de ngan menquote keterangan dokter pemeriksa 
menyatakan ttg tidak adanya Tarian Bunga Harum Gerwani dan mutilasi thd jasad 
para jendral yang terbunuh)untuk menafikkan siaran dari penguasa militer yang 
berusaha menghancur leburkan citra PKI dan organisasi ondebouwnya. Kontan saja 
selebaran-selebaran tsb ditengah jalan disita oleh para
  penguasa militer dan si pembawa ditangkap dengan tuduhan sebagai kader PKI. 
Masih banyak lagi kisah-kisah lain dari sejak zaman revolusi  yang membuktikan 
bahwa " Bung Karno banyak diperdaya dan dibohongi ( istilah beliau diketutin). 
Paparan ini  sengaja saya ketengahkan kepada Bung Anton untuk mencoba 
membuktikan bahwa Bung Karno dalam 20 tahun pemerintahannya acapkali "tidak 
tahu apa2", bahkan "tanganya terbelenggu" sehingga tidak dapat berbuat yang 
lebih tepat dahn lebih baik bagi bangsa ini. Demikian  dan salam perjuangan 
Tjuk KS
 

Kirim email ke