Saya inget kok, Bung Anton. Malahan dulu waktu masih kecil saya ikut ketawa 
ngakak kalo nonton mereka. Tapi tiu sebabnya saya tak menyebut nama-nama mereka 
dalam contoh-contoh yang saya kasih untuk pelawak yang mampu melucu tanpa 
mengeksploitasi perbedaan yang dimiliki orang lain.
�
Sekarang ini tarafnya udah keterlaluan. Nyaris segala perbedaan dijadikan bahan 
tertawaan: etnisitas jadi bahan ketawaan, ukuran badan jadi bahan ketawaan, 
jender jadi bahan ketawaan, Tujuannya memang buat menghibur orang (sekalian 
cari duit tentunya), tapi ini semua dilakukan di atas stigamtisasi terhadap 
kelompok-kelompok yang dijadikan objek ketawaan itu.
�
Saya cuma khawatir kalo ini terus-menerus terjadi, lama-lama diterima sebagai 
norma, dan kita tak lagi bisa melihat ada sesuatu yang tak beres di dalam hal 
yang kita tertawakan itu. Dan saya juga khawatir kita pelan-pelan kehilangan 
rasa sensitif dan empati kepada yang liyan. Kalau ini terjadi, kita jadi bangsa 
yang tak punya adab di tengah-tengah peradaban yang kian maju.
�
manneke

--- On Tue, 9/2/08, anton_djakarta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: anton_djakarta <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: KPI Peringatkan Tayangan "Kebanci-bancian"
To: [email protected]
Received: Tuesday, September 2, 2008, 7:35 PM






Pak Manneke lupa dulu ada Kardjo AC/DC, Prapto kalo jadi banci
namanya isje, esther temennye Jojon juga berlagak banci, Susi Sunaryo
juga berperan sebagai banci yang duetnya harry koko juga lucu banget.
Mama Hengky kemana ya???? dia juga banci. Kalo Tessy berperan banci
sejak bergabung dengan Srimulat Surabaya dan dimulai pada awal karir
Mamiek Prakoso di tahun 1984. Dan jangan lupa waktu di HBS Bung Karno
pernah didandani sebagai perempuan lalu melawak..... .....

Banci dalam dunia lawak adalah sebuah gambaran bagaimana struktur
karakter yang abu-abu bisa menjadi sesuatu yang ganjil. Seperti Kredo
Teguh Srimulat "Sesuatu yang ganjil dan aneh adalah sebuah bentuk
kelucuan"

Anton

Kirim email ke