Ada cerita menarik dari seorang kawan yang tinggal di Swiss. Kebetulan dia berjilbab, sewaktu mendarat didatangi petugas persis sama kejadiannya dengan cerita bung Ghozan tersebut. Kawan saya tersebut iseng mau ngerjain si petugas, dia layani pertanyaan dengan jawaban dan juga balik bertanya layaknya seorang TKW yang mudah dibodoh2i dan digertak. Eh... tiba2 muncul anak lelakinya yang ngajak ngomong pake bahasa Perancis, kontan si petugas langsung balik badan terdiam dengan malu, mungkin... itupun kalau dia masih punya rasa malu hehehe.... Tapi jujur saya ingin katakan, mereka para petugas tersebut (mungkin) 'terpaksa' melakukannya karena gaji yang diterimanya setiap bulan jauh dari mencukupi kebutuhan dasar mereka... berapalah gaji seorang Satpam sekalipun itu Satpam/Security Bandara. Dulu diawal tahun 90an, petugas2 Imigrasi melayani pembuatan Paspor dan EXIT PERMIT dengan sinis dan mustahil tanpa ngasih uang... bisa2 tuh Paspor dan Exit Permit gak jadi :( Baru saya ingat, bahwa mereka itu walau pekerjaannya setiap hari bikinin orang2 lain Paspor dan kasih stempel Exit Permit tapi mungkin kebanyakan diantara petugas Imigrasi tersebut belum pernah punya Paspor, apalagi bepergian ke LN... mungkin saja mereka iri. Sampai kinipun bagi sebagian besar orang Indonesia, bepergian ke LN adalah hal yang sangat mewah dan menjadi 'cita-cita' kebanyakan orang. Gak heran kalau mendengar ada Wakil Rakyat atau Pejabat yang bepergian ke LN tanpa alasan yang jelas, rakyat spontan bereaksi karena gak rela duit mereka dipakai buat bersenang-senang para waklinya. Duhh kapan ya bangsa ini sejahtera dan berdiri sejajar dengan bangsa2 lainnya??? Salam, Mubarik
2008/9/4 ghozan_gmail <[EMAIL PROTECTED]> > Kamis, 4 September 2008 | 00:50 WIB > Perilaku Kasar Petugas kepada TKI di Bandara Soekarno-Hatta > > Bagi para tenaga kerja Indonesia, perasaan bahagia dan bangga serta rindu > kepada keluarga dan negara Indonesia akan segera terobati setibanya di > Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang. > > Namun, ada yang selalu membuat sedih, yaitu pelayanan petugas yang katanya > disediakan untuk memberikan kemudahan, keamanan, dan pelayanan kepada TKI > untuk bisa sampai dengan selamat dan aman sampai tempat tujuan. Kenyataan > yang terjadi di lapangan, para petugas tersebut terkesan memaksa dan tidak > ramah, tidak ada senyuman atau ucapan selamat datang. > > Kejadian yang tidak menyenangkan itu terjadi pada 5 Agustus 2008 saat saya > tiba di bandara pada pukul 11.00-12.00 dari perjalanan Miami-Los > Angeles-Hongkong-Jakarta. Setahun dua kali saya pulang ke Indonesia. Setelah > semua urusan selesai, saya dengan membawa koper berjalan menuju pintu > keluar. > > Sebelum saya sampai untuk melewati sinar-X, datang seorang petugas Is yang > tanpa sopan atau ramah, apalagi senyum, menanyakan paspor saya. Nadanya > seperti preman yang meminta sesuatu. Saya benar-benar terkejut. Dan yang > lebih heboh lagi saat saya berusaha untuk mengingatkan dia untuk sopan, > tetapi ia tampak lebih marah lagi. Yang bersangkutan berpikir, dengan cara > seperti itu saya akan takut, padahal saya sudah tahu praktik kotor di > bandara dimaksud dan saya terbiasa pulang pergi Jakarta- Amerika yang sudah > berlangsung enam tahun. > > Saya sangat mengharapkan pihak-pihak terkait lebih memerhatikan tingkah > laku para petugas di lapangan. Kalau perlu, mereka diberikan pengarahan agar > bersikap ramah dan bersahabat karena TKI merupakan salah satu penyumbang > devisa bagi negara. Mereka juga bersusah payah untuk mendapat rezeki di > negeri orang, jauh dari orang-orang yang dicintai. Perlakukan TKI secara > manusiawi, bukan seperti sapi perah. > > Rina Jalan Kebantenan RT 002 RW 005, Cilincing, Jakarta > > http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/04/00505540/redaksi.yth > > [Non-text portions of this message have been removed]
