ya kalo begitu, artinya mereka mereka ini tidak profesional kerjanya, keirian pribadi kok ya dibawa ke pekerjaan.
regards, William 2008/9/4 A. Mubarik Ahmad <[EMAIL PROTECTED]> > Ada cerita menarik dari seorang kawan yang tinggal di Swiss. > Kebetulan dia berjilbab, sewaktu mendarat didatangi petugas persis sama > kejadiannya dengan cerita bung Ghozan tersebut. > Kawan saya tersebut iseng mau ngerjain si petugas, dia layani pertanyaan > dengan jawaban dan juga balik bertanya layaknya seorang TKW yang mudah > dibodoh2i dan digertak. > Eh... tiba2 muncul anak lelakinya yang ngajak ngomong pake bahasa Perancis, > kontan si petugas langsung balik badan terdiam dengan malu, mungkin... > itupun kalau dia masih punya rasa malu hehehe.... > Tapi jujur saya ingin katakan, mereka para petugas tersebut (mungkin) > 'terpaksa' melakukannya karena gaji yang diterimanya setiap bulan jauh dari > mencukupi kebutuhan dasar mereka... berapalah gaji seorang Satpam sekalipun > itu Satpam/Security Bandara. > Dulu diawal tahun 90an, petugas2 Imigrasi melayani pembuatan Paspor dan > EXIT > PERMIT dengan sinis dan mustahil tanpa ngasih uang... bisa2 tuh Paspor dan > Exit Permit gak jadi :( > Baru saya ingat, bahwa mereka itu walau pekerjaannya setiap hari bikinin > orang2 lain Paspor dan kasih stempel Exit Permit tapi mungkin kebanyakan > diantara petugas Imigrasi tersebut belum pernah punya Paspor, apalagi > bepergian ke LN... mungkin saja mereka iri. > Sampai kinipun bagi sebagian besar orang Indonesia, bepergian ke LN adalah > hal yang sangat mewah dan menjadi 'cita-cita' kebanyakan orang. Gak heran > kalau mendengar ada Wakil Rakyat atau Pejabat yang bepergian ke LN tanpa > alasan yang jelas, rakyat spontan bereaksi karena gak rela duit mereka > dipakai buat bersenang-senang para waklinya. > Duhh kapan ya bangsa ini sejahtera dan berdiri sejajar dengan bangsa2 > lainnya??? > Salam, Mubarik
