Opini yang cukup tajam soal PRD & PUDI sebagai partai pengolok-olok Orba. Sebab, di kakilima, di pasar, maupun warteg jaman itu, kebanyakan orang sempat menyangka keduanya adalah partai pendobrak, sekurangnya terhadap undang-undang politik yang hanya mengakui 2 partai dan satu golongan (pertanyaannya, kalau PRD & PUDI sebagai pengolok, lalu sebagai apa gerangan PPP & PDI yang setia-sekata dengan Orba?).
Soal kenapa PRD tidak bisa seperti PKS - atau partai laris lainnya, seorang satpam yang menemani ngopi malam-malam di sebuah rumahsakit berolok-olok, itu lantaran PRD nggak nambahin embel-embel. Maksudnya, jadi "PRDS" kek, "PRDP" kek, atau sekalian "Gol-PRD"... ajeg= --- Sulaeman_H. <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Opini pribadi saya, PRD didirikan sebagai bentuk mengolok-olok > (macam orang Amerika mengacungkan jari tengah dan mengepalkan > jari lainnya sambil bilang "f**k you!!) kekuasaan Orde Baru yang > terlalu kuat dan tidak kenal kompromi terhadap kebebasan > berserikat, berkumpul serta mengeluarkan pendapat masyarakat > ketika itu. Dasar olok-ololok ini juga dilakukan oleh Sri Bintang > Pamungkas dengan parti PUDI-nya. Malah jauh sebelum itu HJ Naro > (ketua PPP jaman Orba) sangat terkenal dengan olok-olok demokrasi > gaya Pak Harto di parlemen dengan "ngeyel"-nya mau maju > mencalonkan diri bertarung sebagai wakil presiden RI. > > Mereka semua tahu dan seratus persen sadar bahwa mendirikan > partai baru atau mencalonkan diri sebagai wakil presiden ketika > Pak Harto kuat berkuasa sangatlah nihil peluang suksesnya (kalau > tidak mau dibilang sangat mustahil). Tapi keberhasilan itu memang > bukan tujuan utama mereka, tujuan sebenarnya adalah mereka hanya > mau mengolok-olok karena benci dan muak dengan kemandegan yang > ada sementara tidak banyak pihak lagi yang sudi bergerak apalagi > berkorban mencoba memecah kemandegan. Maklum kebanyakan kan > tipenya orang kita hanya mencari selamat, mencari bola muntah > atau bola liar baru bisa mengocek bola. > > Jadi bagi saya sangatkah tidak relevan membandingkan PKS dan PRD > atau PUDI karena sebenarnya motif pendiriannya. Kalau Budiman (si > perintis PRD) lari ke PDIP itu bukan karen dia tidak konsisten > atau mencari jalan pintas cepet meraih sukses, tapi itu tadi > karena PRD didirikan bukan sebagai wadah beneran. Sebab itu > Budiman ngacir dari PRD. Sayangnya sudah banyak pemuda-pemudi pro > Budiman yang mengira PRD adalah parti sungguhan dengan planning > jangka panjang. Jadi mereka kecewa dan kemudian menyalahkan > Budiman sebagai tidak konsisten dengan perjuangan partai. > > Saran saya. bagi mereka yang kadung cinta PRD maka lupakanlah > Budiman. > > Jadikan PRD partai sungguhan dan coba merumuskan kembali apa itu > PRD dan bagaimana bentuk perjuangannya. Lupakan saja Budiman. > Kalau ternyata PRD jadi besar maka Budiman akan menyesal > meninggalkan PRD. > > Salam > SH - Pendukung PRD seperti Pram.
