Oleh Satjipto Rahardjo
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/03/01585124/indonesia.mudik



Mudik adalah tema yang tepat untuk menggambarkan hiruk pikuk Idul
Fitri saat ini. Orang berebut tiket bus, kereta api, dan pesawat untuk
kembali ke kampung halaman dan dilakukan dengan ”mati-matian”.

Magnet kampung halaman amat kuat sehingga sering mengabaikan akal
sehat. Mangan ora mangan, anggere kumpul (biar tidak makan yang
penting kumpul ngariyung).

Mudik mencari fitrah

Kampung halaman bagai magnet besar karena tidak sekadar kembali ke
rumah, tetapi ke suasana mistis yang mengelilingi rumah atau kampung
halaman. Di situ ada pemuasan kerinduan kepada masa lalu yang penuh
tawa dan polos, sebuah daya tarik yang tak dapat dijelaskan dengan
akal. Kampung menjadi simbol otentisitas kehidupan. Mudik adalah
simbol pergerakan ”dari- masyarakat-ke-komunitas”. Jakarta itu
masyarakat, tetapi Kebumen, Sragen, Tuban, Grobogan, dan Trenggalek
adalah komunitas yang dirasakan lebih otentik, lebih kental daripada
masyarakat.

Mudik Lebaran tahun ini sebaiknya menjadi inspirasi bagi bangsa
tentang perlunya menemukan otentisitas kehidupannya. Banyak tanggal
pada tahun 2008 berbicara tentang mudik atau kembali ke kampung. Kita
mudik ke tahun 1908 saat organisasi Boedi Oetomo (BO) didirikan. Mudik
ke tahun 1928 saat ”Sumpah Pemuda” (SP) dikumadangkan. Kembali ke BO
dan SP untuk menemukan, mencium, dan menghirup kembali aroma berbangsa
yang otentik dan segar. Kita ingin mudik karena banyak hal otentik
yang sudah hilang dari kehidupan berbangsa. Kita ingin kembali ke
”sangkan paraning (asal muasal) Indonesia”.

Semua hari itu memalingkan hati ke belakang. Jika para Tofflerian
(dari futurolog Alvin Toffler) berbicara tentang ”guncangan masa
depan”, kita ingin mundur ke belakang karena kekuatan ”magnet masa
lalu” itu.

Bangsa kita memiliki banyak kearifan dan filsafat lokal untuk
mengekspresikan suasana mistis, seperti sangkan paraning dumadi (dari
mana dan ke mana kehidupan manusia). Almarhum Prof Soemantri
Hardjoprakoso, ahli ”psikiatri Jawa” dan seorang Jungian (dari Carl
Gustav Jung), menggunakan kata oergreest, Suksma Kawekas, jiwa dan zat
yang menjadi asal segalanya.

Mudik itu mencari fitrah, keaslian, sesudah kesasar dalam hidup. Dalam
sindrom mudik, berdesak-desakan konsepsi yang berputar di sekitar
otensitas atau keaslian itu. Saat manusia terlempar ke dunia dengan
centang-perenangnya, mereka juga kehilangan kompas kehidupan. Maka,
orang memburu kompas yang sudah hilang. Jung mengatakan, sesudah
muncul ”kesadaran individual” dengan berbagai akibat yang
menderitakan, orang merindukan ”kesadaran kolektif”, ke suasana damai.

Fitrah manusia

Indonesia menghadapi aneka krisis. Kita bingung, mau ke mana dan apa
yang salah? Pada saat seperti itu, fenomena mudik menjadi sumber
inspirasi.

Puasa sebulan menjadi momentum untuk tafakur atau berkontemplasi.
Ujung tafakur membawa kita kembali kepada sangkan paraning
dumadi/urip. Diterjemahkan secara lain, kita ingin hidup fitri, jujur,
dan beramanah. Bagi manusia yang hidup dalam ”comberan dunia”, sangkan
paran itu menjadi suatu oase penuh keindahan, kejujuran, dan kesalehan
di tengah ”zaman edan” yang penuh kepalsuan dan keserakahan. Filsafat
urip mung mampir ngombe (hidup hanya singgah untuk minum) sudah
dirobek menjadi hidup untuk makan minum sekenyangnya dan menimbun
kekayaan sebanyak mungkin dengan segala cara.

Kontemplasi yang jujur membawa kita kepada pengakuan, banyak orang
Indonesia tidak hidup dan bekerja secara otentik dan beramanah.
Mengapa harus korupsi jika hidup ini hanya sebentar? Mengapa harus
menjadi kepala daerah jika otentisitas kita adalah ahli dalam menjahit
atau bercocok tanam? Korupsi mengabaikan kejujuran dan keamanahan
menjalankan pekerjaan. Menjadi presiden, menteri, gubernur, dan kepala
daerah dianggap lebih gemerlap daripada petani, guru, atau penjaga
pintu kereta api. Akibatnya orang melecehkan pekerjaan guru, petani,
penyapu jalan, dan lainnya. Pekerjaan asal dijalankan. Orang
meninggalkan fitrahnya sebagai tukang jahit, petani, dan guru.
Pekerjaan menjadi palsu.

Senyampang dalam suasana Idul Fitri, kita harus kembali kepada fitrah,
otentisitas masing- masing. Kita bertindak otentik dan beramanah dalam
pekerjaan masing-masing. Pekerjaan sekecil apa pun dijalankan dengan
penuh martabat (dignity). Mari menjadikan Indonesia mudik dan kembali
menjadi bangsa yang penuh otentisitas.

Satjipto Rahardjo Guru Besar Emeritus Sosiologi Hukum Universitas
Diponegoro, Semarang

Kirim email ke