Menurut kata data resmi   , kita punya sapi 11 juta ekor, dan anda 
boleh tahu, bhw data itu stagnan selama 10 tahuun terakhir, gak 
pernah naik..gak pernah ad akemajuan, walau konon kita bebas PMK.

kalau di tanya kepada para  praktisi, kebanyakan bilang bhw data 11 
juta itu palsu, jumlahnya malah lebih kecil dr itu.


Misal Pak Djaya Gunawan , kini alm, praktisi yg seumur hidupnya  di 
bidang petyernakan sapi , bilang pada ,saya , kalau ada 6 juta aja udah bagus..
Apa artinya  , status bebas PMK kita bagi kemajuan peternakan 
???  gak berarti apa apa..  Peternakan kiita tetap terpuruk..

kenapa ??

Krn kebijakan yg salah,, krn ketiadaan investasi yg benar ..

Saya selalu berpendapat bhw penggemukan sapi impor dr Australia 
adalah kebijakan yg salah .. kenapa .??? . ,  lha sapi  kok diimpor 
utk di gemukkan. Misal berat datang 400 kg , lalu di gemukkan 
jadi  500 kg, Komponen lokal cuma 20 persen, itupun kalau makannnya 
dr produk dalam negeri, nyatanya banyak yg diimpor juga,


Dan usaHA INI  gak menambah populasi sapi Indoneisa. Menurut sy lebih 
baik dipotong di Asustralia aja, ongkos angKut nya murah, krn gak 
harus angkut darah , , tulang dan  manure nya,   .. belum lg selama 
di perjalanan susut  beratnya.


Akibatnya harga daging yg diimpor dalam bentu sapi hidup jadi jauh 
lbh mahal dr harga daging yg diimpor dlm bentuk daging ..  Sebagai 
contoh di musim lebaran ini, harga daging yg di beli dlm bentuk 
daging, hanya di jual seharga Rp.55.000 sedang daging yg berasal dr 
sapi impor harganya Rp.75.000 .( harga sapi hidupnya aja sudah 
Rp.23.500 per kg)

Ini fakta..


Kalau bgt kan mending impor daging.. aja  , kan ada pajak masuknya ( 
pajak sapi impor 0persen ) , dan pajak nya ini yg seharusnya bisa 
digunakan utk membangun peternakan sesungguhnya. Konon di Malaysia , 
pajak bea masuk hsl pertanian dipakai utk mengembangkan komoditi 
ituhingga suatu hari justru bisa berhenti impor.

Lebih bebat lg, kalau impornya dr negara yg murah dagingnya, pajaknya 
bisa lebih banyak   .modal utk membangun peternakan sapi sesungguhnya 
( bukan penggemukan) akan terkumpul.



Bagaimana dgn resiko  kalau kena PMK... ??
ah itu mudah..

Kita bisa bagi negara kita dua wilayah.. satu Zone peternakan.., yg 
harus bebas  dr masuknya segala yg berisiko penyakit, yaitu Kepulauan 
Nusta Tenggara , Sulawesi dan Irian,  sementara 3 pulau gede, Jawa, 
Kalimantan dan Sumatra , gak usah ada peternakan, dimana daging sapi 
sehat adan aman berasal dr Free Zone bebas PMK , atau bahkan 
compartemen yg bebas PMk , boleh masuk dgn di pajaki secara significant.


Jadi senadainya Suhadji dkk benar ada resiko PMK, maka krn di pulau 
pulau itu gak ada peternakan ya gak papa, sementara bagi manusia, krn 
daing sebelum dimakan pasti di masak ya gak maslah juga. PMK sangat 
mudah di bunuh dgn pemanasan.

Dengan adanya batas perairan diantara kepulauan, bisa dipastikan 
didaerah peternakan dapat diamankan dgn mudah.

Yang indah kalau kita juga menganut sis tim Zone beas, kalau 
mengimpor .., maka kita juga bisa negekspor dgn sistim yg 
sama.Artinya.. Bila Sulawesi misalnya bebas Avian Flue, tapi punya 
banyak aya,m , maka kita tetap bisa  mengekspor ayam dr Sulawesi. 
Kalau kita ngotot utk menganut sistin negara bebas.., maka jika satiu 
kecamatan saja terkena avian flue atau penyakit lain, maka ternak dr 
seluruh Indoensia tidak bisa diekspor.


Mana  yg lebih untung  ??.

Kompas, terus menerus menulis .. ucapan.., Suhadji, Mangku, yg 
nyatanya cuma punya kebanggaan kosong ttk starus bebas PMK, tanpa bis 
a membuktikann manfaatnya bagi bangsa Indonesia. Mrk inilahyg 
bertanggung jawab atas mandeg nya peternakan Indoensia dan rendahnya 
konsumsi per kapita daging rakyat Indoensia , yg berujung kurang 
berkembangnya otak..


Buat Mas Agus , yg mau memuat tulisanku yg mengkoreksi KOmpas, terima 
kaish..anda objektip utk berharap spy Kompas bisa berbuat lebih baik...
Ini kan saya gak sekedar kritik..  beri solusi juga...smiloe..


HS




Kirim email ke