http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/03/0232595/mengubah.sampah.menjadi.emas


Sampah akan tetap menjadi sampah jika tidak didaur ulang menjadi
sesuatu yang baru. Pemerintah Kota Taipei telah berhasil mengurangi
jumlah sampah dengan membuat sejumlah peraturan, mulai dari hulu
hingga hilir, sehingga persoalan sampah tidak lagi menjadi momok bagi
pemerintah dan masyarakat.

Selain mendorong industri untuk memproduksi kemasan yang bisa didaur
ulang dan sistem pengambilan sampah yang efektif di masyarakat,
Pemerintah Kota Taipei juga telah menemukan jalan keluar untuk mendaur
ulang sampah.

Target mereka pada 2010 adalah zero landfill activity. Mereka ingin
tidak ada sampah yang harus dibakar di insinerator karena akan membuat
pencemaran udara. Caranya adalah dengan memisahkan sampah.

Sampah dapur yang jumlahnya 30-40 persen dari sampah yang dihasilkan
masyarakat dipisahkan untuk menjadi makanan babi dan pupuk untuk
pertanian. Makanan yang telah dimasak dipisahkan dengan makanan yang
belum dimasak. Makanan yang telah dimasak akan dimasak ulang sebanyak
dua kali dengan temperatur tinggi, lalu dijadikan makanan babi.

Adapun makanan yang belum dimasak, termasuk tulang, akan dihancurkan
dan dicampur dengan bubuk kayu lalu difermentasi. Setelah 9-10 hari,
makanan ini akan menjadi pupuk organik yang sangat baik untuk pertanian.

Untuk sampah plastik, akan diubah menjadi bahan isian untuk bantal,
boneka, kasur, dan mantel. Gabus dan plastik tebal dijadikan rak baju,
pot bunga, dan material bangunan. Sedangkan botol kaca dan beling
dihancurkan menjadi bahan untuk batu bata, aspal, kursi, dan meja.

Kertas bekas akan diolah menjadi kertas baru. Satu ton kertas bekas
bisa menghasilkan 800 kilogram kertas baru. Jika membuat kertas baru
dari batang pohon, diperlukan 20 batang pohon berusia 20-40 tahun.
Sungguh pengorbanan yang luar biasa bagi generasi masa datang.

Kebijakan khusus

Terhadap barang-barang elektronik, sepeda bekas, dan furniture rusak,
Pemerintah Kota Taipei mempunyai kebijakan khusus. Semua barang ini
dikumpulkan di satu tempat, lalu diperbaiki oleh tukang-tukang yang
sangat terampil. Barang yang sudah diperbaiki dan dicat ulang lalu
dijual lagi di tempat pelelangan dengan harga yang murah. Cara seperti
ini sangat membantu masyarakat kalangan bawah karena mereka bisa
mendapatkan barang yang baik dengan harga terjangkau.

Dari tempat pembakaran insinerator, debu dan endapan pembakaran juga
masih menjadi persoalan. Semula sisa pembakaran ini hanya dikubur.
Namun, lama-kelamaan sisa pembakaran ini makin lama makin banyak.
Lahan yang disiapkan untuk mengubur sisa pembakaran tidak lagi mencukupi.

Akhirnya pada tahun 2005 Pemerintah Kota Taipei memutuskan memakai
sisa pembakaran ini sebagai penutup galian infrastruktur kota dan juga
urukan lahan pembangunan. Bahkan, saat ini pemerintah kota sedang
membuat penelitian intensif untuk mengubah sisa pembakaran menjadi semen.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan kota-kota lain bisa mencontoh
Pemerintah Kota Taipei mengubah sampah menjadi emas. Dengan demikian,
tidak akan ada lagi tumpukan sampah yang menggunung sehingga membuat
pemulung-pemulung tewas karena tertimpa sampah seperti terjadi di
Bandung, Jawa barat, beberapa waktu lalu. (M Clara Wresti)

Kirim email ke