2008/2/27 tjuk kasturi sukiadi <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Mas Robama yang peka dan peduli,
> Kepekaan dan kepedulian terhadap penderitaan sesama warga bangsa dan
> terhadap kehancuran lingkungan alam, lingkungan kehidupan dan kemanusiaan
> adalah masalah besar bangsa kita. Bangsa ini telah "terbentuk" menjadi
> bangsa yang egois, permisip dan indolens. Oleh karena itu salah satu agenda
> utama perjuangan Gerakan Menutup Lumpur Lapindo adalah membangkitkan kembali
> sisa-sisa "spirit " kepedulian dan kepekaan tersebut. Nasib dari kawan-kawan
> dari lebih 8 desa "diluar peta terdampak pasti merupakan konsen kita. Itulah
> sebabnya kita mendukung tuntutan warga korban untuk "MENCABUT DAN ATAU
> MERUBAH PERPRES 14 TH 2008". Disamping itu manakala perjuangan menutup
> sumber lumpur Lapindo berhasil maka "BIANG KEROK"  dari semua maslah ini
> akan berhenti. Ketakutan untuk hidup dalam ketidak pastian dan ketakutan
> untuk 50 tahun kedepan bisa dihentikan. Baru kemudian disusul dengan proses
> "Kompensasi dan Rehabilitasi". Besok pagi 28 Februari 2008, GMLL akan
> seharian di Jawa Timur. Jam 10.00 menghadap Gubernur dan dilanjutkan menemui
> Bupati Sidoarjo.  Kemudian pada jam 14.00 diselenggarakan Forum Sosialisasi
> Keberadaan, Visi dan Misi Gerakan Menutup Lumpur Lapindo di Kampus Fakultas
> Ekonomi Universitas Airlangga. Alhamdulillah ada pertanda baik yang
> memberikan harapan. Melihat senior mereka si dosen gaek Tjuk KS "jungkir
> balik-sungsal sambel" spontan muncul beberapa dosen yunior yang menawarkan
> bantuan mereka. Yang mengharukan mereka langsung buat list untuk daftar
> urunan untuk membiayai forum tersebut. Semoga Tuhan Allah Swt
> memberikan Ridho, Taufik Hidayah, Inayah dan Rahmatnya kepada kita yang
> tetap konsisten istiqomah membela perjuangan para korban lumpur,
> menyelamatkan lingkungan dan Uang Negara. Salam perjuangan Tjuk KS
>


> *elrobama <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
>  Setuju banget mas Tjuk, ini harus jadi GERAKAN. Namun sayangnya,
> sebagai gerakan kok ada kendala besar ya. Yaitu KEPEKAAN kita
> terhadap penderitaan orang lain maupun terhadap bangsa ini sangat
> kecil. Sulit membayangkan apa yang akan terjadi di 50 tahun ke depan,
> bila lumpur itu belum berhenti juga. Peta 22 Maret 2007 saja (Perpres
> 14/2007) sudah tidak relevan dengan sekarang. Desa Besuki, Siring,
> Pedarakan, Kedung Cangkring yang kini menuntut toh tidak ada yang
> bisa menjawab. Apalagi di tahun ke-50 nanti.
>
> Seharusnya masyarakat Jawa Timur lebih peka dalam hal ini, tapi
> dilematis. Yaitu kuatir dianggap premordial, yang dirasakan oleh Dr.
> Daniel Siparinga yang pribumi asli dari Porong (satu contoh saja).
> Sebaliknya, gimana masyarakat luar Jatim akan ikut GERAKAN kalau yang
> di Jawa Timur saja tidak bergerak? Saya teh urang Bandung, seperti
> juga Dr. Rudi Rubiandini, jadi era (malu) kalau harus bergerak di
> depan (Masyarakat Bandung Peduli Lumpur telah ikut mensukseskan Hari
> Sumpah Pemuda di Porong). Kecuali kita sudah punya rasa nasionalisme
> yang serasa. Bukan paaing-aing (individualistis).
>
> Anyhow, goodluck, robama.

Kirim email ke