http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/03/02504738/kehancuran.ekonomi.bisa.dahsyat


Washington, Kamis - Dunia kini sedang mengarahkan perhatian pada paket
dana talangan, yang akan melepas korporasi raksasa Amerika Serikat
dari belenggu utang. Jika paket itu gagal lagi, taruhannya adalah
kehancuran ekonomi AS yang sangat dahsyat.

Menurut Warren Buffett, investor kawakan AS, akan terjadi ekonomi
”Pearl Harbour” merujuk kehancuran AS akibat serangan Jepang. ”Kita
tentu tidak ingin itu terjadi,” kata Buffett.

Jaringan televisi AS, ABC, bertanya kepada peraih Hadiah Nobel Ekonomi
2001, Joseph E Stiglitz, ”Apa yang akan terjadi jika dana talangan itu
gagal?”

”Itu akan menjadi faktor yang cukup untuk membuat sektor keuangan
meledak. Saya tidak khawatir dengan kerugian Wall Street (para
investor dan korporasi). Hal yang sangat saya khawatirkan akan terjadi
keadaan di mana lembaga keuangan berhenti meminjamkan dana ke sektor
riil (perusahaan). Jika ini terjadi, akan ada pengurangan produksi dan
pekerja. Resesi atau keadaan lebih buruk dari resesi kemungkinan akan
terjadi,” kata Stiglitz, yang sejak tahun 2003 sudah memperingatkan
bahwa posisi keuangan korporasi AS sudah ”berbahaya” karena penyaluran
dana yang terlalu besar ke sektor perumahan di AS.

Setelah paket dana talangan itu ditolak DPR AS pada hari Senin (29/9)
lalu, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA, New York) langsung
anjlok 778 poin, penurunan terbesar sepanjang sejarah AS dalam sehari
saja. Kejatuhan besar-besaran juga diikuti bursa global.

Paket dana talangan bertujuan memberi korporasi keuangan raksasa AS,
aliran dana baru. Konsekuensinya, perusahaan itu untuk sementara
menjadi milik Pemerintah AS. Dana talangan ini diberikan agar
korporasi AS bisa mengembalikan pinjaman-pinjaman yang didapat dari
lembaga keuangan di seantero dunia, seperti Eropa, Jepang, China, dan
negara-negara kaya lainnya.

Masalahnya, korporasi AS yang menerima pinjaman global itu telah
menanamkan dana di sektor perumahan, yang kini tak laku. Keadaan di AS
mirip dengan kebangkrutan di Asia, dekade 1990-an, di mana lembaga
keuangan mengucurkan pinjaman luar negeri ke sektor properti yang
dibangun begitu banyaknya, tetapi daya serap pasar rendah sehingga tak
laku jual.

Di samping aksi jorjoran ke sektor properti, praktik penipuan keuangan
di kalangan eksekutif AS juga marak, sebagaimana diutarakan Avery
Goodman, ahli pasar uang AS. Goodman mengatakan pada periode
2001-2007, para eksekutif terbuai oleh iming- iming bonus besar jika
berhasil menyalurkan pinjaman besar-besaran ke sektor properti.

Dari kesuksesan penyaluran pinjaman, lepas dari potensi pinjaman tak
bisa dikembalikan, para eksekutif mendapat bonus.

Masalah muncul. Pemberian bonus tidak didasarkan pada kinerja keuangan
perusahaan. Misalnya, kata Goodman, walau secara finansial Lehman
Brothers sudah mulai bangkrut sejak tahun 2003, pada tahun 2007
eksekutif Lehman Brother, Richard Fluid, menerima bonus dua juta
dollar AS. Para eksekutif korporasi AS tak menaruh perhatian pada
posisi keuangan, tetapi membiarkan perusahaan terjerat utang.

Eropa mengecam

Hal ini membuat dunia menjadi taruhan. Seandainya utang- utang ini
tidak dibayarkan, rangkaian kerja dari sistem keuangan dunia akan
terhenti. Jika kewajiban-kewajiban AS ini seret, efek domino akan
merembes ke berbagai bank. Contoh terbaru adalah Fortis, lembaga
keuangan Belanda-Belgia, yang sudah kehilangan likuiditas dan terpaksa
diselamatkan karena ditinggal para nasabahnya.

Jika efek domino yang dialami Fortis meluas, lembaga keuangan besar
dunia lainnya juga akan terimbas. Efek domino itu, antara lain, bisa
berupa penarikan simpanan dari bank yang dianggap ”bahaya”, seperti
yang menimpa Bank East Asia, Hongkong.

Sadar akan rangkaian bahaya ini, para pemimpin dunia, termasuk Eropa,
mengecam AS. ”Saya kira AS harus bertanggung jawab terhadap dunia dan
juga kepada mereka sendiri,” kata Perdana Menteri Inggris.

Begitu besarnya masalah ini sehingga Paus Benediktus XVI juga
menyarankan agar korporasi finansial menghentikan aksi ambil untung
besar tanpa mengindahkan risiko.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menyerukan kepada AS dan
negara-negara maju mengambil tanggung jawab menstabilkan sektor keuangan.

Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan, Kongres akan mencoba meloloskan
paket dana talangan itu, Jumat pagi.

Steny Hoyer, pemimpin kubu Demokrat di DPR AS, juga mengatakan ada
kesempatan baik bahwa dana talangan itu akan diloloskan.

Pekan lalu Senat AS juga sudah meloloskan paket itu, tetapi ditolak di
tingkat DPR AS. Pada hari Rabu, Senat AS sudah meloloskan paket itu,
tetapi masih harus menunggu persetujuan DPR AS.

Presiden AS George W Bush dan Menkeu AS Henry Paulson berkali-kali
menegaskan betapa pentingnya paket itu karena taruhannya adalah
keadaan ekonomi, yang memperlihatkan gejolak penurunan.
(REUTERS/AP/AFP/MON/HAR)

Kirim email ke