Dengan bangkrutnya lembaga keuangan ( investment banks) yang
terkenal, besar dan beken di AS seperti Lehman Brothers, Merrill
Lynch, Goldman Sachs, dan perusahan asuransi terbesar didunia AIG
dll, maka hal ini merupakan tanda dari awal berakhirnya supremasi
atau dominasi adidaya AS dibidang keuangan global, seperti yang
dikatakan beberapa hari lalu oleh menteri keuangan Jerman Peer
Steinbrueck didepan parlemen Jerman (Bundestag):"the end of the
United States as a superpower of the global financial system",
demikian juga dikatakan oleh Presiden Rusia Medvedev sebagai tanda
berakhirnya dominasi keuangan AS didunia.
Rontoknya sistim keuangan AS ini (disebut juga sebagai economic
Pearl Harbour, financial Armageddon atau financial Tsunami)
merupakan bentuk kegagalan sistim perekonomian pasar liberal
yang ditandai dengan kebijaksanaan deregulasi di sektor keuangan,
pengurangan pajak serta menyerahkan segalanya diatur oleh mekanisme
pasar bebas.
Program kebijaksanaan finansial ini dimulai sejak jaman
pemerintahan Reagan ditahun 1981 (Reaganomics) yang dilakukan
dengan intensif oleh Alan Greenspan, Chairman of Federal Reserve,
sebelum digantikan oleh Ben Bernanke hingga sekarang telah membawa
bencana terhadap sistim keuangan AS seperti saat kini..
Berakhirnya atau merosotnya pengaruh dan dominasi keuangan dunia AS
ini pada gilirannya juga mengakibatkan merosotnya pengaruh politik AS
di panggung politik dunia, apalagi AS dan sekutunya tidak atau belum
berhasil memenangkan perang asimetris (asymmetric warfare) di Irak
dan Afghanistan yang menghabiskan biaya itu (10 milliar dollar biaya
perang di Irak per bulannya).
AS yang merasa dirinya sebagai polisi dunia serta sering
mendiktekan "the American way of life" ke negara-negara lainnya
harus menghadapi perubahan dan kenyataan baru (new reality) pada
saat kini.
Kebijaksanaan AS yang sering bersifat standar ganda (double
standard) dan arrogan ini mendapat tentangan dari beberapa negara
yang selama ini hampir selalu mengikuti kehendak AS dan dianggap
sebagai negara halaman belakangnya (Latin Amerika), sekarang sudah
berani mengangkat suara menentangnya seperti Venezuela (Hugo Chavez)
dan Bolivia (Evo Morales).
Penolakkan Bush dalam meratifikasi Kyoto Protocol dan penanda-
tanganan penjanjian pembentukkan International Criminal Court
merupakan juga salah satu sikap arogan sebuah negara adidaya
(superpower) AS ini.
Terbatasnya pengaruh AS dalam menghadapi masalah internasional juga
dapat dilihat bagaimana reaksi AS dan sekutunya NATO dalam menghadapi
masalah intervensi militer Rusia ke Georgia baru-baru ini. AS dan
negara-negara NATO tidak dapat berbuat banyak menghadapi Rusia yang
mulai bangkit kembali dan menunjukkan kekuatan militernya, yang
selama ini disepelekan oleh AS. Bahkan Jerman sebagai negara
sekutunya sudah tidak sejalan lagi dalam beberapa hal dengan
kebijaksanaan AS dalam menghadapi Rusia dalam hal Georgia.
Sudah tentu, bahwa krisis keuangan AS berpotensi memicu krisis
keuangan global yang dapat menyeret negara-negara lainnya seperti
yang sudah dimulai dengan negara EU sekarang, dan negara Asia-pun
dapat terkena dampak krisis global ini, seperti pertumbuhan laju
ekonominya yang akan melambat, tetapi kedepan negara Asia akan ikut
menentukan nasib dunia, dengan atau tanpa AS ("Asia will shape the
fate of the world, with or without the United States") seperti yang
dikatakan oleh Parag Khanna dalam bukunya "The Second World:Empires
and Influence in the New Global Order".
Krisis keuangan AS ini ikut memperburuk kondisi lapangan pekerjaan
lebih lanjut , dimana sejak tahun 1999 AS telah kehilangan 300 000
lapangan pekerjaan di sektor industri dan AS telah menjadi negara
penghutang yang terbesar didunia.
Amerika Serikat tentu masih tetap merupakan sebuah negara adidaya
yang paling utama, terutama keunggulan militernya dan sebuah negara
adidaya yang besar (global power), tetapi supremasi dan dominasinya
di bidang perekonomian global dan pada gilirannya dominasi dibidang
politik internasional sudah mulai memudar atau mengalami erosi.
Konstelasi dunia unipolar yang didominasi AS saat kini sebagai
pusat kekuasaan tunggal (abad Amerika) telah bergeser kearah
dunia yang multipolar, dimana negara-negara BRIC (Brasil, Rusia,
India, China) akan lebih berperan sebagai sentra-sentra kekuatan dan
realitas baru.
W. Engdahl dari Global Research menyebutkan situasi sekarang ini
sebagai "The decline of the American Century" dan majalah Der
Spiegel dari Jerman menyebutkan sebagai "The end of arrogance"
sedangkan Fareed Zakaria , editor Newsweek menyebutkan sebagai "post-
American age".
Gautama Harsha
--------------------------------------------------------------
> Washington, Kamis - Dunia kini sedang mengarahkan perhatian pada
paket
> dana talangan, yang akan melepas korporasi raksasa Amerika Serikat
> dari belenggu utang. Jika paket itu gagal lagi, taruhannya adalah
> kehancuran ekonomi AS yang sangat dahsyat.
>
> Menurut Warren Buffett, investor kawakan AS, akan terjadi ekonomi
> âPearl Harbourâ merujuk kehancuran AS akibat serangan Jepang.
âKita
> tentu tidak ingin itu terjadi,â kata Buffett.
>
> Jaringan televisi AS, ABC, bertanya kepada peraih Hadiah Nobel
Ekonomi
> 2001, Joseph E Stiglitz, âApa yang akan terjadi jika dana
talangan itu
> gagal?â
>
> âItu akan menjadi faktor yang cukup untuk membuat sektor keuangan
> meledak. Saya tidak khawatir dengan kerugian Wall Street (para
> investor dan korporasi). Hal yang sangat saya khawatirkan akan
terjadi
> keadaan di mana lembaga keuangan berhenti meminjamkan dana ke sektor
> riil (perusahaan). Jika ini terjadi, akan ada pengurangan produksi
dan
> pekerja. Resesi atau keadaan lebih buruk dari resesi kemungkinan
akan
> terjadi,â kata Stiglitz, yang sejak tahun 2003 sudah
memperingatkan
> bahwa posisi keuangan korporasi AS sudah âberbahayaâ karena
penyaluran
> dana yang terlalu besar ke sektor perumahan di AS.
>
> Setelah paket dana talangan itu ditolak DPR AS pada hari Senin
(29/9)
> lalu, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA, New York) langsung
> anjlok 778 poin, penurunan terbesar sepanjang sejarah AS dalam
sehari
> saja. Kejatuhan besar-besaran juga diikuti bursa global.
>
> Paket dana talangan bertujuan memberi korporasi keuangan raksasa AS,
> aliran dana baru. Konsekuensinya, perusahaan itu untuk sementara
> menjadi milik Pemerintah AS. Dana talangan ini diberikan agar
> korporasi AS bisa mengembalikan pinjaman-pinjaman yang didapat dari
> lembaga keuangan di seantero dunia, seperti Eropa, Jepang, China,
dan
> negara-negara kaya lainnya.
>
> Masalahnya, korporasi AS yang menerima pinjaman global itu telah
> menanamkan dana di sektor perumahan, yang kini tak laku. Keadaan di
AS
> mirip dengan kebangkrutan di Asia, dekade 1990-an, di mana lembaga
> keuangan mengucurkan pinjaman luar negeri ke sektor properti yang
> dibangun begitu banyaknya, tetapi daya serap pasar rendah sehingga
tak
> laku jual.
>
> Di samping aksi jorjoran ke sektor properti, praktik penipuan
keuangan
> di kalangan eksekutif AS juga marak, sebagaimana diutarakan Avery
> Goodman, ahli pasar uang AS. Goodman mengatakan pada periode
> 2001-2007, para eksekutif terbuai oleh iming- iming bonus besar jika
> berhasil menyalurkan pinjaman besar-besaran ke sektor properti.
>
> Dari kesuksesan penyaluran pinjaman, lepas dari potensi pinjaman tak
> bisa dikembalikan, para eksekutif mendapat bonus.
>
> Masalah muncul. Pemberian bonus tidak didasarkan pada kinerja
keuangan
> perusahaan. Misalnya, kata Goodman, walau secara finansial Lehman
> Brothers sudah mulai bangkrut sejak tahun 2003, pada tahun 2007
> eksekutif Lehman Brother, Richard Fluid, menerima bonus dua juta
> dollar AS. Para eksekutif korporasi AS tak menaruh perhatian pada
> posisi keuangan, tetapi membiarkan perusahaan terjerat utang.
>
> Eropa mengecam
>
> Hal ini membuat dunia menjadi taruhan. Seandainya utang- utang ini
> tidak dibayarkan, rangkaian kerja dari sistem keuangan dunia akan
> terhenti. Jika kewajiban-kewajiban AS ini seret, efek domino akan
> merembes ke berbagai bank. Contoh terbaru adalah Fortis, lembaga
> keuangan Belanda-Belgia, yang sudah kehilangan likuiditas dan
terpaksa
> diselamatkan karena ditinggal para nasabahnya.
>
> Jika efek domino yang dialami Fortis meluas, lembaga keuangan besar
> dunia lainnya juga akan terimbas. Efek domino itu, antara lain, bisa
> berupa penarikan simpanan dari bank yang dianggap âbahayaâ,
seperti
> yang menimpa Bank East Asia, Hongkong.
>
> Sadar akan rangkaian bahaya ini, para pemimpin dunia, termasuk
Eropa,
> mengecam AS. âSaya kira AS harus bertanggung jawab terhadap dunia
dan
> juga kepada mereka sendiri,â kata Perdana Menteri Inggris.
>
> Begitu besarnya masalah ini sehingga Paus Benediktus XVI juga
> menyarankan agar korporasi finansial menghentikan aksi ambil untung
> besar tanpa mengindahkan risiko.
>
> Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menyerukan kepada AS dan
> negara-negara maju mengambil tanggung jawab menstabilkan sektor
keuangan.
>
> Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan, Kongres akan mencoba
meloloskan
> paket dana talangan itu, Jumat pagi.
>
> Steny Hoyer, pemimpin kubu Demokrat di DPR AS, juga mengatakan ada
> kesempatan baik bahwa dana talangan itu akan diloloskan.
>
> Pekan lalu Senat AS juga sudah meloloskan paket itu, tetapi ditolak
di
> tingkat DPR AS. Pada hari Rabu, Senat AS sudah meloloskan paket itu,
> tetapi masih harus menunggu persetujuan DPR AS.
>
> Presiden AS George W Bush dan Menkeu AS Henry Paulson berkali-kali
> menegaskan betapa pentingnya paket itu karena taruhannya adalah
> keadaan ekonomi, yang memperlihatkan gejolak penurunan.
> (REUTERS/AP/AFP/MON/HAR)
>