Sudah lama saya tidak percaya bahwa pasar bisa mengatasi segalanya. Nah, para ekonom SBY termasuk dari golongan Fundamentalis Pasar. Dan Fundamentalis Pasar ini ternyata lebih berbahaya dibanding fundamentalis agama. Sebab akibatnya menyengsarakan rakyat Indonesia. Maka hanya di zaman SBY ini ada orang bunuh diri di Istiqlal gara-gara depresi ekonomi. Dan SBY tidak menangis atas tragedi ini.
Jadi bisa dibayangkan, keruntuhan ekonomi AS bisa menghancurkan ekonomi makro negeri kita. Jadi bisa juga dibayangkan, waktu ekonomi makro kita bagus saja keadaan perekonomian nasional secara umum hancur lembur, gimana juga bila ekonomi makronya juga hancur lebur. Salam! Adhie M Massardi --- On Fri, 10/3/08, Golden Horde <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Golden Horde <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Kehancuran Ekonomi Bisa Dahsyat To: [email protected] Date: Friday, October 3, 2008, 9:59 AM Dengan bangkrutnya lembaga keuangan ( investment banks) yang terkenal, besar dan beken di AS seperti Lehman Brothers, Merrill Lynch, Goldman Sachs, dan perusahan asuransi terbesar didunia AIG dll, maka hal ini merupakan tanda dari awal berakhirnya supremasi atau dominasi adidaya AS dibidang keuangan global, seperti yang dikatakan beberapa hari lalu oleh menteri keuangan Jerman Peer Steinbrueck didepan parlemen Jerman (Bundestag): "the end of the United States as a superpower of the global financial system", demikian juga dikatakan oleh Presiden Rusia Medvedev sebagai tanda berakhirnya dominasi keuangan AS didunia. Rontoknya sistim keuangan AS ini (disebut juga sebagai economic Pearl Harbour, financial Armageddon atau financial Tsunami) merupakan bentuk kegagalan sistim perekonomian pasar liberal yang ditandai dengan kebijaksanaan deregulasi di sektor keuangan, pengurangan pajak serta menyerahkan segalanya diatur oleh mekanisme pasar bebas. Program kebijaksanaan finansial ini dimulai sejak jaman pemerintahan Reagan ditahun 1981 (Reaganomics) yang dilakukan dengan intensif oleh Alan Greenspan, Chairman of Federal Reserve, sebelum digantikan oleh Ben Bernanke hingga sekarang telah membawa bencana terhadap sistim keuangan AS seperti saat kini.. Berakhirnya atau merosotnya pengaruh dan dominasi keuangan dunia AS ini pada gilirannya juga mengakibatkan merosotnya pengaruh politik AS di panggung politik dunia, apalagi AS dan sekutunya tidak atau belum berhasil memenangkan perang asimetris (asymmetric warfare) di Irak dan Afghanistan yang menghabiskan biaya itu (10 milliar dollar biaya perang di Irak per bulannya). AS yang merasa dirinya sebagai polisi dunia serta sering mendiktekan "the American way of life" ke negara-negara lainnya harus menghadapi perubahan dan kenyataan baru (new reality) pada saat kini. Kebijaksanaan AS yang sering bersifat standar ganda (double standard) dan arrogan ini mendapat tentangan dari beberapa negara yang selama ini hampir selalu mengikuti kehendak AS dan dianggap sebagai negara halaman belakangnya (Latin Amerika), sekarang sudah berani mengangkat suara menentangnya seperti Venezuela (Hugo Chavez) dan Bolivia (Evo Morales). Penolakkan Bush dalam meratifikasi Kyoto Protocol dan penanda- tanganan penjanjian pembentukkan International Criminal Court merupakan juga salah satu sikap arogan sebuah negara adidaya (superpower) AS ini. Terbatasnya pengaruh AS dalam menghadapi masalah internasional juga dapat dilihat bagaimana reaksi AS dan sekutunya NATO dalam menghadapi masalah intervensi militer Rusia ke Georgia baru-baru ini. AS dan negara-negara NATO tidak dapat berbuat banyak menghadapi Rusia yang mulai bangkit kembali dan menunjukkan kekuatan militernya, yang selama ini disepelekan oleh AS. Bahkan Jerman sebagai negara sekutunya sudah tidak sejalan lagi dalam beberapa hal dengan kebijaksanaan AS dalam menghadapi Rusia dalam hal Georgia. Sudah tentu, bahwa krisis keuangan AS berpotensi memicu krisis keuangan global yang dapat menyeret negara-negara lainnya seperti yang sudah dimulai dengan negara EU sekarang, dan negara Asia-pun dapat terkena dampak krisis global ini, seperti pertumbuhan laju ekonominya yang akan melambat, tetapi kedepan negara Asia akan ikut menentukan nasib dunia, dengan atau tanpa AS ("Asia will shape the fate of the world, with or without the United States") seperti yang dikatakan oleh Parag Khanna dalam bukunya "The Second World:Empires and Influence in the New Global Order". Krisis keuangan AS ini ikut memperburuk kondisi lapangan pekerjaan lebih lanjut , dimana sejak tahun 1999 AS telah kehilangan 300 000 lapangan pekerjaan di sektor industri dan AS telah menjadi negara penghutang yang terbesar didunia. Amerika Serikat tentu masih tetap merupakan sebuah negara adidaya yang paling utama, terutama keunggulan militernya dan sebuah negara adidaya yang besar (global power), tetapi supremasi dan dominasinya di bidang perekonomian global dan pada gilirannya dominasi dibidang politik internasional sudah mulai memudar atau mengalami erosi. Konstelasi dunia unipolar yang didominasi AS saat kini sebagai pusat kekuasaan tunggal (abad Amerika) telah bergeser kearah dunia yang multipolar, dimana negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, China) akan lebih berperan sebagai sentra-sentra kekuatan dan realitas baru. W. Engdahl dari Global Research menyebutkan situasi sekarang ini sebagai "The decline of the American Century" dan majalah Der Spiegel dari Jerman menyebutkan sebagai "The end of arrogance" sedangkan Fareed Zakaria , editor Newsweek menyebutkan sebagai "post- American age". Gautama Harsha
