SEJARAH dan KULTUR KEBOHONGAN Oleh: Muhammad Akbar Wijaya Penulis adalah
Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro Angkatan 2004. Sejarah
semestinya dapat dimaknai sebagai media pembelajaran, bagi setiap
generasi. Demikian, menurut Karl Poper ketika ditanya apakah sejarah
memiliki makna atau tidak.
Di Indonesia sendiri,sejarah ternyata tidak lebih dari sekedar kumpulan
tulisan yang sarat akan dendam, serta penindasan. Keduanya dilakukan
demi satu tujuan yakni melegitimasikan kekuasaan. Karena ketakutan dari
status quo untuk tidak berkuasa lagi (Benny Susetyo 97: 2004).
Setidaknya, hal ini dapat dibuktikan pada historiografi yang diciptakan
oleh orde baru. Kultur kebohongan
Gagalnya historiografi kemanusiaan, telah dimulai pada masa transisi
kekuasaan dari orde lama menuju orde baru, di tahun 1965-1967. Pada
fase inilah kultur kebohongan penguasa kepada publik dimulai melalui
sejarah. Dimana kepentingan politik telah memonopoli kebenaran sejarah
secara tunggal. Padahal kebenaran itu tidak tunggal. Melainkan sebuah
proses dialog untuk berkomunikasi dalam sebuah perbedaan. Memonopoli Kebenaran
Pada tahun 1966, mantan Presiden Sukarno dalam pidatonya yang berjudul
JASMERAH (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah). Menyatakan, bahwa
dirinya mengutuk GESTOK (Gerakan Satu Oktober) karena dianggap kontra
revolusioner. Menurut Asvi Warman Adam peneliti senior LIPI. Kutukan
ini telah dijadikan pembenaran oleh sekelompok orang untuk membunuh
lebih dari 500.000 anak bangsa sendiri. Selain itu, program bersih
lingkungan yang diterapkan oleh orde baru, semakin memperparah kondisi
para korban dan keluarganya. Mengutip istilah Jalalludin Rahmat, para
korban dan telah menjadi blooming the victim
(korban yang dipersalahkan). Dimana stigma komunis yang terus melekat
dan dilekatkan, membuat para korban selalu memperoleh perlakuan
diskriminatif di lingkungan sosialnya. Padahal menurut undang-undang
dasar 1945, dinyatakan bahwa setiap warga negara memiliki kesamaan hak
di mata hukum. Sayangnya, historiografi yang berkembang pun hanya menampilkan
diskursus seputar pembunuhan
enam orang Jendral perwira tinggi dan seorang perwira pertama. Akan
tetapi tidak pernah berupaya menyentuh apalagi membongkar efek yang
ditimbulkan dari peristiwa di malam 1 oktober 1965 itu. Hal ini tentu
saja hanya akan membuat masalah perpecahan di tubuh bangsa kian
berlarut larut. Padahal sejatinya, bangsa ini sedang membutuhkan
konsensus bersama untuk keluar dari krisis multi dimensi yang
berkepanjangan. MEREKONSTRUKSI INGATAN KOLEKTIF Pemerintah
sebagai lembaga tertinggi, yang berkewajiban melindungi segenap
warganya, harus berani mengambil langkah progressif terhadap para eks
tapol 1965 itu. Tidak saja secara materi namun juga secara moriil.
Misalnya dengan merehabilitasi nama baik mereka di masyarakat. Selain
itu, pemerintah juga harus mengembalikan hak-hak mereka sebagai
warganegara sesuai dengan konstitusi, seperti hak politik, hak ekonomi,
dan hak sosial. Menurut Prof. Dr.
Taufik Abdullah, sejarawan dan budayawan yang juga mantan ketua Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Pemerintah sekarang harus mau
menata ingatan kolektif masyarakat untuk persatuan bangsa yang masih
banyak menyimpan dendam sejarah. Sudah
saatnya pemerintah menjadikan sejarah sebagai sarana pembuka cakrawala
berpikir maupun wahana untuk mempengaruhi nilai-nilai dan cara
masyarakat bersikap. Dan bukan malah justru menjadikan fakta-fakta yang
tersaji dalam rangkaian angka, tahun, nama pelaku, tempat kejadian dan
peristiwa sebagai alat untuk membohongi dan menindas rakyatnya.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
=====================================================
Pojok Milis Forum Pembaca KOMPAS :
1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]
KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/