PANGAN SEBAGAI PONDASI VITAL EKSISTENSI SEBUAH NEGARAOleh Muhammad Akbar
WijayaMahasiswa Ilmu Sejarah UNDIP
Ibarat
ayam mati kelaparan di lumbung padi. Itulah istilah yang cocok
digunakan untuk menggambarkan parade kemiskinan yang melanda sebagian
besar rakyat Indonesia. Betapa tidak! sebagai negara yang mayoritas
kehidupan ekonomi masyarakatnya ditopang dari sektor agraris, rakyat
Indonesia ternyata masih mengalami kesulitan dalam memperoleh makanan
pokok. Kemiskinan dan kelaparan masih menjadi problem terbesar bangsa
ini. Baru-baru
ini kita disuguhkan oleh berita miris yang menyesakkan dada. Di
Pasuruan Jawa Timur contohnya, 21 orang meninggal dunia karena
berdesak-desakan demi mendapatkan uang zakat yang jumlahnya (maaf)
hanya sebesar Rp. 30.000,-. Dilain tempat kita menyaksikan puluhan
warga miskin berebut makanan limbah untuk dikonsumsi kembali, yang
sebenarnya makanan itu sudah tak layak sama sekali untuk dikonsumsi
oleh manusia. Hal ini sukar dipercaya mengingat kenyataan bahwa
Indonesia adalah suatu negara yang kaya akan sumber daya alam, bahkan
Mutatuli menyebutnya dengan untaian zamrud khatulistiwa sebagai
gambaran betapa kaya dan suburnya negeri ini. Setidaknya terdapat dua faktor
yang menyebabkan seseorang hidup digaris kemiskinan. Yang pertama adalah faktor
alamiah, faktor
ini disebabkan oleh beberapa hal: sumber daya alam yang terbatas,
bencana alam, dan kemampuan fisik yang tidak memungkinkan bagi
seseorang untuk berikhtiar. Yang kedua adalah
faktor buatan. Kondisi ini hadir sebagai akibat dari sistem yang
berlaku di suatu negara yang membuat sebagian besar masyarakat tidak
mampu mengakses berbagai sarana ekonomi dan fasilitas yang tersedia.
Contohnya: kebijakan pemerintah menaikan harga BBM yang tidak dibarengi
dengan upaya peningkatan daya beli masyarakat. Hal ini membuat warga
miskin semakin sulit memenuhi kebutuhan hidupnya, padahal harga
kebutuhan pokok juga ikut melonjak naik. Yang tak kalah penting adalah
lemahnya penegakkan hukum bagi para koruptor. Jika
melihat kondisi riil di Indonesia yang kaya akan sumber daya alam,
tampaknya problem kemiskinan yang dihadapi oleh jutaan rakyat Indonesia
lebih dominan disebabkan oleh kemiskinan buatan. Salah satu sebabnya
terkait erat dengan lemahnya komitmen pemerintah sebagai penyelenggara
negara dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan membangun sumber daya
manusia (SDM) Indonesia yang potensial, melalui pendidikan. Selain
itu, kebijakan pemerintah dalam memberikan jaminan proteksi kepada
masyarakat miskin tidak cukup hanya dicanangkan, dideklarasikan atau
bahkan ditulis dalam perundang-undangan. Namun semua kebijakan tersebut
harus disertai kemauan untuk memantau dan mengevaluasi, agar dapat
diketahui titik hasil yang sudah dicapai. Sampai
saat ini, Pemerintah memang telah berupaya memberi jalan keluar kepada
masyarakat melalui program-program yang bergerak dalam peningkatan
kreatifitas dan produktifitas masyarakat seperti “Program Kredit Usaha
Rakyat”. Namun dalam prakteknya, tidaklah semudah membalikkan telapak
tangan. Untuk itu, dalam mengatasi problem kemiskinan dan kelaparan,
pemerintah juga perlu mengutamakan kepentingan petani dengan sebisa
mungkin menutup keran liberalisasi ekonomi pertanian. Sebab kebijakan
liberalisasi pertanian hanya menjadikan petani tergantung terhadap
input dari luar. Kebijakan liberalisasi akan mengikis kedaulatan dan
kemandirian para petani dalam memenuhi kebutuhan pangan bangsa ini Diperlukan
suatu kesadaran bersama mengenai pentingnya pangan sebagai pondasi
vital eksistensi sebuah bangsa dan negara. Sekuat dan sebesar apa pun
sebuah bangsa, ia akan mudah bertekuk lutut dibawah kepentingan asing,
selama bangsa itu tidak mampu bersikap mandiri dalam hal memenuhi
kebutuhan pangan rakyatnya. Bukankah usia negeri ini sudah cukup tua
untuk terus menerus dijajah?. MERDEKA!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
=====================================================
Pojok Milis Forum Pembaca KOMPAS :
1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]
KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/