Oleh BE Julianery
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/04/03031326/sentimen.ras.vs.barack.hussein.obama




Sebagai negara yang menyandang moto "E Pluribus Unum"—atau bineka
tunggal ika—Amerika Serikat menegakkan demokrasi dan berusaha
mempersempit ruang gerak rasialisme. Namun, dalam politik di negeri
itu, isu ras masih membayang. Bagi bangsa Amerika, ras tetap merupakan
isu peka dan menjadi faktor penentu dalam pemilihan presiden.

Rasialisme diartikan sebagai serangkaian sikap, kecenderungan,
pernyataan, dan tindakan mengunggulkan atau memusuhi kelompok
masyarakat karena identitas ras (yang antara lain berupa perbedaan
warna kulit karena budaya dan etnis tertentu).

Politik antidiskriminasi melawan paham rasial di AS ditandai dengan
dikeluarkannya beberapa undang-undang hak sipil (civil rights act)
pada tahun 1960-an. Civil rights act yang melarang diskriminasi
berkenaan dengan fasilitas umum dan rekrutmen pekerja diberlakukan
sejak tahun 1964.

Setahun kemudian (1965) dikeluarkan voting rights act, yang memberikan
hak bagi warga kulit hitam untuk memberikan suara dalam pemilihan
umum. Tahun 1968 dikeluarkan pula civil rights act, yang melarang
diskriminasi dalam hal penjualan dan penyewaan rumah.

Meski berbagai peraturan antirasialisme sudah diluncurkan, kerusuhan
terkait dengan rasialisme tetap saja muncul. Yang lebih banyak
terekspos oleh media adalah kasus kriminalitas dan kekerasan.
Sementara yang terjadi dalam keseharian hidup sosial jauh lebih banyak
dan kompleks (lihat The End of Racism karya Dinesh D'Souza).

Anthony Giddens dalam Sociology (1997) mencatat bahwa bahkan 30 tahun
sejak dikeluarkannya civil rights act, ketegangan rasial di AS masih
bisa meningkat. Hal itu tampak dengan demonstrasi besar-besaran oleh
kelompok kulit putih dan kulit hitam di New York, Boston, Chicago, dan
Los Angeles.

Masih kuatnya isu rasialisme di AS juga tampak dari diangkatnya
tema-tema rasialisme di panggung Broadway atau layar perak. Beberapa
di antaranya berdasarkan kisah nyata. The Hurricane, film kisah nyata
tentang kehidupan petinju Rubin "Hurricane" Carter, Glory Road yang
bercerita tentang era ketika bola basket "haram" untuk orang kulit
hitam, Crash, Monster's Ball, Dreamgirls, dan The Color Purple.

Ujian demokrasi

Kehadiran senator dari Illinois, Barack Hussein Obama Jr, sebagai
kandidat presiden dari Partai Demokrat dengan popularitas yang lebih
baik dibandingkan dengan John McCain—rivalnya dari Partai
Republik—akan menjadi pembuktian siap atau tidak siapnya orang Amerika
mendudukkan keturunan kulit hitam di Gedung Putih.

Pada awal tahun ini, pada saat bersaing dengan Hillary Clinton untuk
maju sebagai kandidat presiden dari Partai Demokrat, Obama pernah
mengucapkan pidato dengan isu ras di Philadelphia. Dalam pidato itu,
dia mengungkapkan pengalaman pribadinya dan membeberkan gagasan
tentang kesetaraan ras di AS. Publik Amerika memuji pidato tersebut.
Daily Telegraph, salah satu surat kabar terkemuka di Inggris, menyebut
pidato itu sebagai rangkaian kata-kata retorika yang cerdas.

Namun, meski pidato Obama ini mendulang pujian, apakah semangat
Amerika yang sesungguhnya berada dalam gelombang yang sama dengan
pujian itu? Pengamat politik mengatakan, sejak peristiwa serangan
teroris atas World Trade Center, New York, 11 September 2001, semangat
"White, Anglo-Saxon, Protestant" sebagai identitas nasional AS justru
menguat lagi. Dalam berbagai segi, hal itu mengandung makna diskriminasi.

Perihal diskriminasi ini, pada tahun 1962, Jaksa Agung AS Robert
Kennedy, adik kandung Presiden John F Kennedy, menyatakan, "The Irish
were not wanted here. Now an Irish Catholic is President of the United
States. There is no question about it, in the next forty years a Negro
can achieve the same position."

Sejarah mencatat John dan Robert Kennedy adalah dua anggota klan
keluarga Kennedy yang akhirnya tewas karena "ketidaksukaan lawan
politik", termasuk kepada komentar di atas.

Saat ini, ada dugaan publik Barack Obama berada dalam orbit
diskriminasi yang masih serupa itu. Jika John Kennedy adalah keturunan
Irlandia Katolik pertama yang menjadi Presiden AS, apakah Barack Obama
akan menjadi keturunan kulit hitam pertama yang duduk di Gedung Putih?

Menurut sebagian pengamat politik di AS, demokrasi di AS hanya ada
pada tataran pemerintahan. Dalam sikap, rasialisme masih hidup di
tengah publik Amerika. Kendati Obama unggul dalam popularitas pada
hari-hari sebelum pemilihan, dominasi jumlah warga kulit putih (52
persen penduduk AS) berpotensi mematahkan popularitas itu. Ada dugaan
bahwa banyak pemilih kulit putih berbohong tentang penerimaan mereka
terhadap warga kulit hitam.

Jumlah penduduk AS keturunan Afro-Amerika seperti Obama hanya 24
persen, keturunan Hispanics (Meksiko dan Amerika Latin) 14 persen, dan
sisanya (7 persen) adalah keturunan Asia, termasuk Timur Tengah.

Jawabannya baru dapat ditemukan sesudah hasil pemilihan, 4 November
nanti. Yang jelas, belakangan ini banyak pendukung Obama yang
menyatakan khawatir isu ras akan menghambat jalan calon mereka itu ke
kursi kepresidenan. Kita akan melihat, seperti apa nurani rakyat
Amerika—yang demokrasinya diagung-agungkan di muka bumi— menerima
pluralisme, mengamalkan "E Pluribus Unum". (BE Julianery/ Litbang Kompas)

Kirim email ke