jadi cerita benerny agiman asih PakMula

baca tulisanmu jadi tambahbingung


yg pasti memang ada berita ttg intrevensi pemerintah soal pembukaan 
suspend  bakrie.

kalau soal sikap keras Bu Mul utk hal yg nyimpang spt intervensi ini, 
sudah beberapa kali saya dnegar

HS

At 05:39 AM 08-11-08, you wrote:

>Inilah kebiasaan Kompas yang menjengkelkan saya sebagai pembaca. Dia
>suka sekali memuat berita yang sebenarnya adalah bagian pertengahan
>atau ujung dari sebuah peristiwa, sementara awal dari peristiwa
>tersebut tak pernah dimuatnya.
>
>Bagi orang yang aksesnya terhadap berita datang dari berbagai
>beberapa media massa, kebiasaan ini mungkin akan luput dari
>perhatian. Tapi bagi orang yang aksesnya terhadap berita hanya
>mengandalkan Kompas, kebiasaan ini sering membuat kebingungan.
>
>Kalau kebiasaan ini dilakukannya pada masa pemerintahan Orde Baru
>maka saya masih bisa memakluminya, yaitu bahwa Kompas mau mencari
>jalan aman. Dia menunggu dulu reaksi penguasa. Tapi kalau kebiasaan
>ini masih juga dilakukannya pada era kebebasan dan keterbukaan ini,
>maka saya sungguh tidak mengerti.
>
>Rupanya di luar sana beredar desas-desus bahwa Menteri Keuangan Sri
>Mulyani telah mengajukan permohonan pengunduran diri. Desas desus
>tentang rencana pengunduran dan alasan yang menyebabkan pengunduran
>diri itu tidak dimuat oleh Kompas, tapi dimuat oleh sebuah media
>lain. Kemudian ketika desas-desus itu sudah semakin santer, dan
>wartawan menanyakan kebenarannya kepada Menteri Sekretaris Negara
>Hatta Rajasa, barulah Kompas memuat bantahannya. Dan alasan mengenai
>rencana pengunduran diri itu pun hanya dikutip Kompas dari sumber
>lain.
>
>Bobot berita malu-malu dan terlambat yang dimuat Kompas itu jadi
>mengingatkan saya akan gaya jurnalisme yang diterapkan oleh
>tayangan "infotainment" di stasiun-stasiun televisi kita: Mula-mula
>presenter memberitakan adanya desas-desus tentang artis A yang
>selingkuh. Lalu ditayangkan wawancara dengan artis A yang--tentu saja-
>-membantah perselingkuhan itu. Lalu ditayangkan wawancara dengan
>pasangan selingkuhnya yang juga membantah. Lalu ditayangkan wawancara
>dengan supir si artis, supir si pasangan selingkuh, orang tua si
>artis, sahabat si artis dsb, dan semua membantah. Walhasil saya
>sebagai penonton hanya bisa terbodoh-bodoh dan berkata, "Lalu, kalau
>memang tak ada persoalan, mengapa desas-desus itu harus diangkat?"
>
>Jangan gitu akh, Kompas!
>
>Mula Harahap

Kirim email ke