Rabu sore 12 November saya naik KRL ekonomi AC Ciujung dari Tanah
Abang menuju Serpong. Saya berdiri di gerbong paling belakang, dekat
pintu. Ransel saya taruh di tempat bagasi, dan saya mencoba
menyamankan diri dalam posisi berdiri.
Kereta belum bergerak. Seorang perempuan muda yang duduk dekat saya
berdiri asyik bertelepon. Rupanya dia memanggil temannya untuk datang
ke gerbong tempat dia duduk. Dan tak lama kemudian datang seorang
perempuan lain, dugaan saya usianya lebih tua. Yang datang ini
mengenakan blazer warna kuning kunyit (saya nggak tahu, itu seragam
atau bukan). Karena tak mendapat tempat duduk, pandatang baru ini
berdiri di depan temannya, tepat di samping saya berdiri.
Tepat pukul 17.10 kereta yang lumayan penuh, tidak terlalu berdesakan,
meninggalkan Tanah Abang.
Tak lama kemudian kedua perempuan itu terlibat diskusi heboh, seolah
tak ada orang lain di sekitarnya. Dari apa yang mereka diskusikan,
saya menduga mereka bekerja di satu bank. Yang satu bercerita dengan
bangga bahwa dalam beberapa hari terakhir dia panen nasabah deposito
baru, dengan total angka ratusan miliar. Saya sepenuhnya percaya. Tadi
pagi harian Kontan bercerita jumlah rekening tabungan dan deposito di
atas dua miliar membengkak. Total jenis rekening ini tercatat naik
Rp70 triliun dalam sebulan menjadi Rp673 triliun dari total dana
perbankan di Indonesia yang sebesar Rp1.600 triliun.
Perempuan yang berblazer juga bercerita mengenai pekerjaannya.
Saya mencoba tidak terganggu oleh obrolan mereka. Toh ini tempat umum.
Kalau pun mereka ngomongin rahasia dapur mereka, ya silakan sajalah.
Toh mereka memang mau begitu.
Tetapi akhirnya saya tersengat mendengar sharing si mbak berblazer,
lebih dalam kapasitas saya sebagai salah satu nasabah bank. Saya coba
rekonstruksi obrolan mereka, walau tentu saja tidak tepat benar.
"Tahu nggak lu, kapan hari gue salah blokir kartu (saya nggak pasti
kartu kredit, kartu debit, atau kartu ATM) nasabah," katanya sambil
ketawa cekikikan.
"Loh, kok bisa sih," kata perempuan yang duduk.
"Si ibu itu kan punya dua kartu. Begitu dia minta satu kartunya
diblokir, eh yang gue blokir kartu yang satunya," kata si mbak
berblazer.
"Terus?"
"Seminggu kemudian si ibu telepon. Dia tanya kok kartunya yang satu
keblokir."
"Lu jawab apa?"
"Dia kan nggak ngerti. Saya jawab gini, `Bu, maaf, waktu saya panggil
nama ibu di komputer, saya langsung blokir begitu saja. Saya nggak
tahu kalau ibu punya dua kartu."
"Si ibu marah?"
"Nggak tuh, malah dia minta maaf. `Maaf ya mbak, ngerepotin', dia
bilang gitu."
Kedua perempuan itu pun tertawa berderai.
Sedih rasanya mendengar sharing itu. Begini rupanya cara perempuan
muda ini bekerja. Pertama jelas si blazer kuning kunyit melakukan
kesalahan, dan kesalahannya menurut saya fatal, bukan hanya karena dia
memblokir kartu yang tidak seharusnya diblokir, tetapi justru tidak
memblokir kartu yang seharusnya diblokir. [Saya menulis ini justru
karena hari ini, Jumat 14 November 2008, di harian Kompas ada surat
pembaca yang berisi keluhan bahwa orang sudah memblokir kartu ATM-nya,
tetapi pembobolan masih terjadi]. Kedua, dia tidak mengakui
kesalahannya di depan nasabah, bahkan membohongi si nasabah.
Rasa sedih belum hilang, dan kepala dipenuhi aneka macam tanda tanya
ketika kereta berhenti di Stasiun Pondok Ranji. Kedua perempuan itu
turun, dan saya mencari-cari tempat kosong, untuk menaruh pantat
sekadar membuang penat. ([EMAIL PROTECTED])