Gitu aja gak usah dipikirin mas,,,anggap aja obrolan warung kopi ...
Gak usah repot2 dipikar-pikir...

--- On Thu, 11/13/08, hersu_bsd <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: hersu_bsd <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Bankir Cantik … di KRLTanah Abang – Serpong
To: [email protected]
Date: Thursday, November 13, 2008, 9:05 PM











            Rabu sore  12 November saya naik KRL ekonomi AC Ciujung dari Tanah

Abang menuju Serpong. Saya berdiri di gerbong paling belakang, dekat

pintu. Ransel saya taruh di tempat bagasi, dan saya mencoba

menyamankan diri dalam posisi berdiri.

Kereta belum bergerak. Seorang perempuan muda yang duduk dekat saya

berdiri asyik bertelepon. Rupanya dia memanggil temannya untuk datang

ke gerbong tempat dia duduk. Dan tak lama kemudian datang seorang

perempuan lain, dugaan saya usianya lebih tua. Yang datang ini

mengenakan blazer warna kuning kunyit (saya nggak tahu, itu seragam

atau bukan). Karena tak mendapat tempat duduk, pandatang baru ini

berdiri di depan temannya, tepat di samping saya berdiri.

Tepat pukul 17.10 kereta yang lumayan penuh, tidak terlalu berdesakan,

meninggalkan Tanah Abang.

Tak lama kemudian kedua perempuan itu terlibat diskusi heboh, seolah

tak ada orang lain di sekitarnya. Dari apa yang mereka diskusikan,

saya menduga mereka bekerja di satu bank. Yang satu bercerita dengan

bangga bahwa dalam beberapa hari terakhir dia panen nasabah deposito

baru, dengan total angka ratusan miliar. Saya sepenuhnya percaya. Tadi

pagi harian Kontan bercerita jumlah rekening tabungan dan deposito di

atas dua miliar membengkak. Total jenis rekening ini tercatat naik

Rp70 triliun dalam sebulan menjadi Rp673 triliun dari total dana

perbankan di Indonesia yang sebesar Rp1.600 triliun.

Perempuan yang berblazer juga bercerita mengenai pekerjaannya.

Saya mencoba tidak terganggu oleh obrolan mereka. Toh ini tempat umum.

Kalau pun mereka ngomongin rahasia dapur mereka, ya silakan sajalah.

Toh mereka memang mau begitu.

Tetapi akhirnya saya tersengat mendengar sharing si mbak berblazer,

lebih dalam kapasitas saya sebagai salah satu nasabah bank. Saya coba

rekonstruksi obrolan mereka, walau tentu saja tidak tepat benar.

"Tahu nggak lu, kapan hari gue salah blokir kartu (saya nggak pasti

kartu kredit, kartu debit, atau kartu ATM) nasabah," katanya sambil

ketawa cekikikan.

"Loh, kok bisa sih," kata perempuan yang duduk.

"Si ibu itu kan punya dua kartu. Begitu dia minta satu kartunya

diblokir, eh yang gue blokir kartu yang satunya," kata si mbak

berblazer.

"Terus?"

"Seminggu kemudian si ibu telepon. Dia tanya kok kartunya yang satu

keblokir."

"Lu jawab apa?"

"Dia kan nggak ngerti. Saya jawab gini, `Bu, maaf, waktu saya panggil

nama ibu di komputer, saya langsung blokir begitu saja. Saya nggak

tahu kalau ibu punya dua kartu."

"Si ibu marah?"

"Nggak tuh, malah dia minta maaf. `Maaf ya mbak, ngerepotin', dia

bilang gitu."

Kedua perempuan itu pun tertawa berderai.

Sedih rasanya mendengar sharing itu. Begini rupanya cara perempuan

muda ini bekerja. Pertama jelas si blazer kuning kunyit melakukan

kesalahan, dan kesalahannya menurut saya fatal, bukan hanya karena dia

memblokir kartu yang tidak seharusnya diblokir, tetapi justru tidak

memblokir kartu yang seharusnya diblokir. [Saya menulis ini justru

karena hari ini, Jumat 14 November 2008, di harian Kompas ada surat

pembaca yang berisi keluhan bahwa orang sudah memblokir kartu ATM-nya,

tetapi pembobolan masih terjadi]. Kedua, dia tidak mengakui

kesalahannya di depan nasabah, bahkan membohongi si nasabah.

Rasa sedih belum hilang, dan kepala dipenuhi aneka macam tanda tanya

ketika kereta berhenti di Stasiun Pondok Ranji. Kedua perempuan itu

turun, dan saya mencari-cari tempat kosong, untuk menaruh pantat

sekadar membuang penat. ([EMAIL PROTECTED] com)





Kirim email ke