Saya pernah baca kisah DN Aidit yang dikirim orang tuanya dari Belitung (Bangka?) ke Jakarta hanya diantar sampai di pelabuhan Belitung. Dia baru saja tamat SD kala itu, pergi seorang diri ke Jakarta. Kelas 2 SMP pergi ke Tanjung Priok untuk menjemput adiknya yang akan bersekolah SMP di Jakarta. Ada banyak kisah lainnya yang mirip pada saat itu. Saya melihat anak2 lainnya jauh lebih 'berani' ketimbang anak2 saya, anak pertama saya baru 'berani' naik bis-kota sendirian setelah kelas 2 SMA...duh...selama ini kemana-mana selalu diantar ibunya pake...Trajet. Anak saya ini sepatunya saja sudah no.47, kebayang segede apa badannya hehehe... Kebetulan rumah dimana kami tinnggal dekat dengan SD, SMP dan SMA....dipagi hari penuh dengan mobil yang mengantar anak2 sekolah, sama ketika mereka pulang sekolah. Kita semua, paling tidak saya :), menaruh rasa KASIHAN berlebih kepada anak-anak, over protected, takut terjadi ini-itu kepada anak-anak kita. Bahkan ketika anak pertama saya tersebut menyebut Yogya untuk melanjutkan studinya nanti, itu artinya jadi anak kost dan jauh dari ortu yang tinggal di Jakarta....timbul berbagai macam kekhawatiran hehehe... Memang benar sekali bahwa anak adalah ujian bagi orang tuanya. Eh ternyata kemarin ibu sayapun masih saja 'khawatir' dan memikirkan 'nasib' saya...., itu disampaikannya untuk kesekian kalinya ketika beliau sengaja bertandang kerumah kami. Duh.... Alhamdulillah, saya ucapkan dengan tulus atas kasih sayang dan do'a yang tidak ada putusnya dari seorang ibu kepada anak-anaknya. Hal ini saya sadari benar sedari dulu, sedari kecil hingga kini.... Salam, Mubarik
2008/11/22 Razif Halik <[EMAIL PROTECTED]> > BANGSA ORTU CENGENG. > > Kalau mau mengukur kecengengan suatu bangsa, tengoklah berapa sering > digunakan kata KASIHAN, kasihan ini, kasihan itu, kasihan anak2 harus > bangun > pagi, kasihan jalanan macet, kasihan dia agak sakitan, kasihan dia belum > sarapan, kasihan bapaknya jarang ketemu anak, ..dan beribu-ribu kasihan > yang > lain. > > Kalau diperhatikan, orang2 kita pra modal asing masuk berlomba mengelola > kekayaan bumi Indonesia, kata KASIHAN itu sangat jarang dipakai. Apalagi > dizaman pra kemerdekaan de facto. > > Para pejuang, biar berdarah-darah DENGAN SEGALA PENGORBANANNYA,tidak > menyebut-nyebut kassian..aduuh kassian.aduh kassian..tak bisa terbang > sayapnya luka (lagu anak2)..aduh ini.aduh itu..SEJAK KECIL DIAJARKAN > MENGADUH > > Bagaimana kita bisa menjadi bangsa kuat kalau teruus minta dikasihani dan > mencari-cari alasan untuk dikasihani? > > SALAM&SORI, Opung > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]
