Sebenarnya hanya beda kondisi saja Pak, siapa sih sebenarnya yang tidak mau 
melepaskan anaknya agar mandiri? Tapi kondisi dahulu dan sekarang teramat 
sangat berbeda terutama soal keamanan dan sarana umum lainnya. Jaman saya SD 
(sudah masuk jam 7 pagi ketika itu) kelas 3 SD saya sudah berani kok naik bemo 
atau jalan kaki ke sekolah, kebetulan SD pertama jauh dari rumah kemudian 
pindah ke SD yang dekat rumah ke dua-duanya negeri. Seandainya pada saat ini 
kondisi keamanan sama kemudian standarisasi SD negeri dan swasta hanya beda 
pada biaya &  fasilitas, sementara outputnya sama (seperti jaman saya orang 
malu kalau masuk swasta kecuali sekolah katholik) saya yakin akan banyak ortu 
yang menyekolahkan anak-anaknya sedekat mungkin dengan rumah mereka, tapi apa 
daya kondisi berbeda dan selaku ortu tentu kita ingin memberikan yang terbaik 
buat anak. Balik lagi ke kondisi kendaraan umum saat ini (terutama di Jakarta) 
apakah aman buat anak-anak sekolah? Saya aja yang sudah bangkotan pernah juga 
kok ke seret metro mini..apalagi anak-anak, belum lagi masalah tawuran yang 
tiada akhirnya, atau masalah narkoba atau masalah  phedofile, maukah anak kita 
menjadi korban yang tidak seharusnya? Lain kalo di daerah, contoh di kota 
kelahiran saya deh, di Bandung, walaupun sudah semakin semerawut tetap saja 
nyaman naik angkutan umum. Kalau dibilang over protected, ya mau gimana lagi, 
anak ada karena keinginan kita sebagai orangtua bukan dari keinginan dia 
sendiri jadi mereka adalah tanggungjawab terbesar orangtua, tidak akan pernah 
berakhir. Apalagi dengan kondisi tidak ada jaminan keamanan untuk anak.

salam
-wenny-
  ----- Original Message ----- 
  From: A. Mubarik Ahmad 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, November 23, 2008 8:05 AM
  Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Mulai 1 Januari, Sekolah Masuk Pukul 
06.30/ KASIHAAAN....KASIHAAAN


  Saya pernah baca kisah DN Aidit yang dikirim orang tuanya dari Belitung
  (Bangka?) ke Jakarta hanya diantar sampai di pelabuhan Belitung. Dia baru
  saja tamat SD kala itu, pergi seorang diri ke Jakarta.
  Kelas 2 SMP pergi ke Tanjung Priok untuk menjemput adiknya yang akan
  bersekolah SMP di Jakarta.
  Ada banyak kisah lainnya yang mirip pada saat itu.
  Saya melihat anak2 lainnya jauh lebih 'berani' ketimbang anak2 saya, anak
  pertama saya baru 'berani' naik bis-kota sendirian setelah kelas 2
  SMA...duh...selama ini kemana-mana selalu diantar ibunya pake...Trajet.
  Anak saya ini sepatunya saja sudah no.47, kebayang segede apa badannya
  hehehe...
  Kebetulan rumah dimana kami tinnggal dekat dengan SD, SMP dan SMA....dipagi
  hari penuh dengan mobil yang mengantar anak2 sekolah, sama ketika mereka
  pulang sekolah.
  Kita semua, paling tidak saya :), menaruh rasa KASIHAN berlebih kepada
  anak-anak, over protected, takut terjadi ini-itu kepada anak-anak kita.
  Bahkan ketika anak pertama saya tersebut menyebut Yogya untuk melanjutkan
  studinya nanti, itu artinya jadi anak kost dan jauh dari ortu yang tinggal
  di Jakarta....timbul berbagai macam kekhawatiran hehehe...
  Memang benar sekali bahwa anak adalah ujian bagi orang tuanya.
  Eh ternyata kemarin ibu sayapun masih saja 'khawatir' dan memikirkan 'nasib'
  saya...., itu disampaikannya untuk kesekian kalinya ketika beliau sengaja
  bertandang kerumah kami.
  Duh....
  Alhamdulillah, saya ucapkan dengan tulus atas kasih sayang dan do'a yang
  tidak ada putusnya dari seorang ibu kepada anak-anaknya. Hal ini saya sadari
  benar sedari dulu, sedari kecil hingga kini....
  Salam, Mubarik

 

Kirim email ke