Penulis "Indie" di Dunia Nyata Oleh PEPIH NUGRAHA http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/22/01545348/penulis.indie.di.dunia.nyata
Inti setiap interaksi dan sosialisasi dari blog serta situs pertemanan di dunia maya adalah gaul. Setiap sosialisasi, jika diperas dan diperas lagi, tetap gaul itulah yang menetes. Maka, seorang Menristek Kusmayanto Kadiman pun sampai pada kesimpulan bahwa dia harus gaul ketika secara sadar menyatakan diri sebagai bagian dari dunia maya. Yang terjadi, sepadat apa pun acaranya, seusai mengantarkan PM Thailand Abhisit Vejjajiva, dari Bandara Internasional Cengkareng Kusmayanto langsung menuju Bentara Budaya Jakarta (BBJ) dengan kawalan polisi. "Ini agar tidak terlambat sampai di BBJ meski harus sedikit berbuat salah," katanya saat di daulat menyampaikan kesannya tentang Kompasiana. Kompasiana adalah blog para jurnalis dan publik yang beralamat di http://kompasiana.com, diluncurkan 22 Oktober 2008. Saat acara itu berlangsung, tercatat lebih dari 1.800 posting atau tulisan, baik dari para jurnalis Kompas dan jurnalis di lingkungan Kelompok Gramedia, blogger tamu, maupun blogger publik dengan lebih dari 12.000 komentar. Sementara anggota yang sudah mendaftarkan diri ada 850 orang. Kompasiana Gathering yang berlangsung meriah dan diikuti sekitar 100 peserta itu juga memunculkan satu semangat "militansi" yang besar. Bukan dari sekadar beragamnya orang yang hadir dengan berbagai profesi masing-masing, tetapi jarak pun tidak menjadi penghalang. Seorang penulis Kompasiana, dr Anugra Martyanto, dokter spesialis kanker, datang dari Purwokerto. Dari Bandung, ada Agus Candra yang tidak keberatan datang lebih awal. Prayitno Ramelan, Marsekal Muda (Purn) yang dikenal sebagai analis politik "Indie", juga hadir. Suasana menjadi cair seakan-akan tidak ada strata di "kopi darat" Kompasiana yang pertama itu. Empat bulan sejak kelahirannya, menurut situs Alexa, Kompasiana sudah berada di ranking 50.000-an dengan pembaca 150.000 orang setiap bulannya dari 132 negara. Sebagaimana layaknya para sahabat di dunia blog, bertemu dan bertatap muka, tawa riang, kenalan, berfoto bersama, tukar menukar kartu nama pastilah terjadi secara alamiah. Bagaimana, misalnya, seorang Marsekal (Purn) Chappy Hakim, mantan Kepala Staf Angkatan Udara yang merupakan penulis aktif Kompasiana, bisa lepas menimpali blogger lainnya dan bahkan unjuk kebolehan bermain musik, memetik gitar, dan meniup saksofon. Pemred Kompas Rikard Bagun juga menyatakan kekagetannya atas antusiasme peserta yang mempertemukan para penulis "indie" dan jurnalis ini. "Semangat kebersamaan komunitas itu begitu besar," katanya. Chappy Hakim mengakui, memasuki masa pensiun bukanlah kendala untuk makin produktif. "Kalau kita pensiun, harusnya punya kegiatan untuk mengolah otak, salah satunya menulis di Kompasiana," katanya. Salah satu tulisannya berjudul Mungkin Dirut Pertamina Dianggap Tidak Tahu "Adat"? mengundang banyak pembaca dan komentar beberapa saat setelah tulisan itu ditayangkan. Kusmayanto berpendapat, gaul adalah sebuah kebutuhan bagi setiap manusia sebagai makhluk sosial. Gaul juga berkaitan dengan interpersonal skill dan dalam beberapa sektor yang sering dijumpainya, interpersonal skill memiliki nilai plus. "Jadi, gaul itu penting," kata Kusmayanto yang mengaku sebelumnya tidak suka ngeblog. Namun, karena memiliki kesukaan menulis dan membutuhkan wadah untuk menyalurkan pemikiran-pemikirannya, jalan termudah yang ditempuhnya adalah dengan menjadi blogger di Kompasiana. Postingan Kusmayanto berjudul Change: What's In It for Me langsung mengundang 52 komentar yang rata-rata menyatakan mendapat pencerahan. Rekor tulisan dengan komentar terbanyak masih dipegang Agus Hermawan, jurnalis Kompas, dengan tulisan UU Pornografi Manekin Telanjang yang mengundang 113 komentar. Tulisan Agus juga mencatat rekor pembaca terbanyak, 6.009 orang! Awalnya untuk jurnalis Direktur Kompas.com Taufik Mihardja mengatakan, dalam perjalanannya sejak kelahirannya empat bulan lalu, Kompasiana sebagai sebuah komunitas blogger dan penulis "indie" telah mengalami serangkaian metamorfosis karena tingginya antusiasme para blogger. "Awalnya disediakan untuk wartawan Kompas saja, lalu untuk wartawan Kompas Gramedia, lalu karena banyak peminatnya, maka kita undang beberapa penulis lain. Kemudian muncul lagi dari pihak publik, maka muncul rubrik di Kompasiana," kata Taufik. Dalam usia yang baru empat bulan, sebanyak 1.800 tulisan sudah dimuat di Kompasiana dengan 12.000 komentar. Oleh karena itu, Kompas.com sebagai "induk" dari Kompasiana, optimistis komunitas akan terus berkembang. Bahkan, tahun ini, Kompasiana akan melebarkan sayapnya untuk kemudahan akses. "Kami akan menambah desain dan fitur lain, seperti untuk mobile, Blackberry dan i-Phone application," ungkap General Manager Bisnis Kompas.com Edy Taslim. Selain acara kangen-kangenan dan saling mengenal, Kompasiana Gathering juga diselingi talk show membahas bagaimana menulis artikel untuk Kompas. Sementara wartawan Ohmy News, Lily Yuulianti Farid, yang mewakili penulis "indie" memaparkan kemungkinan lahirnya apa yang ia sebut "Super Media", yakni ketika jurnalis profesional bersenyawa dengan penulis warga (citizen journalist) dalam sebuah media yang interaktif. Kompasiana Gathering juga menghadirkan para penulis buku dan bahkan aktor yang lahir dari kegiatan menulis di blog, yakni Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono.
