Bung Fana Soediharto, Membaca penjelasan anda soal tanggung jawab Pemerintah dan KPU tentang penyusunan DPT, bahwa secara prinsip pemerintah harus independen dan tidak mencampuri urusan KPU dalam pelaksanaan Pemilu 2009, itu sih saya setuju banget. Tetapi karena ada masalah dengan kewenangan yang tidak dimiliki oleh KPU untuk memerintahkan setiap Ketua RT, Ketua RW dan masyarakat yang sudah memiliki hak pilih agar sepenuhnya membantu pekerjaan KPU agar hasilnya bisa optimal, maka saya tetap berpendapat bahwa sampai batas tertentu pemerintah harus tetap ikut campur tangan agar program KPU bisa berjalan secara optimal. Lha sejak kapan KPU punya kewenangan untuk memerintahkan Ketua RT, Ketua RW dan masyarakat yang sudah memiliki hak pilih untuk sepenuhnya membantu pekerjaan KPU? Yang punya kewenangan itu cuma pemerintah, bukan KPU. Kalau pemerintah tidak mau ikut campur sama sekali, lha metode kerja KPU jangan dirubah, minimal seperti pola kerja KPU di Pemilu 2004. Setelah partisipasi mereka tidak seperti yang diharapkan oleh KPU sehingga DPT menjadi bermasalah, KPU langsung cuci tangan dan menuduh masyarakat, Ketua RT dan RW lah yang paling bertanggung jawab. Anehnya Pemerintah melihat kesulitan KPU ini cenderung diam saja dan terus menyampaikan ke masyarakat bahwa tidak ada masalah dengan DPT. Presiden menjamin atas kualitas DPTbaik dan tidak bermasalah. Tetapi setelah terbukti DPT bermasalah diseluruh penjuru tanah air, tiba - tiba Presiden cucitangan dan menolak untuk ikut bertanggung jawab atas kekacauan DPT. Lha ini bagaimana? Dimana tanggung jawab Pemerintah? Salam, Adyanto Aditomo
--- Pada Sel, 14/4/09, Fana Soediharto <[email protected]> menulis: Dari: Fana Soediharto <[email protected]> Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kemajuan negara, kerja seorang Presiden Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 14 April, 2009, 11:56 PM Boss, Saya termasuk yg kehilangan DPT, tentu saya kecewa luar biasa. Tempat tinggal saya yg sering pindah membuat saya sedikit maklum kalau saya kehilangan DPT saya. 2004 saya sering pindah, dan waktu itu saya masih dapet DPT. Kita mungkin sdh terbiasa dg jaman order baru, dimana pemerintahan sangat terpusat, sangat diktator malah, dari seorang Soeharto. Semua orang di bawahnya, sampe RT/RW, nurut, sabdo pendito ratu. Omongan raja adalah sabda dari pemuka agama, wakil Tuhan di bumi. Jaman Habibi dan Mega, KPUnya masih kuat, masih banyak akademisi di situ. Kita semua sdh tahu, bahwa kekuatan yg terlalu besar dari Presiden, malah berakibat tidak baik dari sisi terpusatnya kekuasaan dan fulus di antara mereka saja. Pemilu jaman orde baru sdh bisa ditebak siapa pemenangnya, tinggal brp persen dapetnya. Lalu kita lihat KPU yg sekarang, liat Ketua KPU saja, saya dah gak yakin. Saya melihat pemerintah memberikan porsi lebih banyak ke KPU, Banwaslu. Itu benar menurut saya, karena untuk menghilangkan stigma, bahwa ruling parties bisa memanfaatkan Pemilu untuk melanggengkan kekuasaan. Anda lihat bagaimana KPU membaca dan mengumpulkan data dari lapangan. Pake scaner, kuno, lama, gak akurat. Sbg orang yg kerja di bidang IT, ini tentu menggelikan. Gemes banget saya. Apa gak bisa pake SMS gateway? Quick Count aja bisa demikian akurat pake data sample. Apalagi kalau pake cara quick count dg data seluruh populasi. Lalu kalau pemerintah turun tangan, menentukan operasional ini itu, diikuti pemerintah daerah sampai level desa, RT/RW. Apa orang gak makin curiga sama campur tangan pemerintah. Jadi kalau ada masalah DPT dan hasil Pemilu, pemerintah bisa bilang, itu KPU. Saya malah setuju pemerintah jaga jarak dg KPU. Itu sdh benar. Itu sdh konsisten dari bbrp tahun yg lalu. Untuk kasus Jatim, saya lahir di sana, terus terang saya kecewa juga hal itu terjadi di tanah kelahiran saya. Tapi, kalau dilihat lbh jauh, pemilihan ulang sdh dilaksanakan, kalau masalah politik lokal membesar, deket Pemilu Nasional, bisa dibayangkan eskalasi masalahnya. Bagaimana kalau banyak orang minta Pemilu Nasional juga diulang? Bagaimana imbasnya ke nilai tukar Rp, ke outlook peringkat utang ke luar negeri, ke bursa saham? Dg pemilu yg aman saja, sekarang bursa langsung naik tajam, walaupun NIKKEI turun. Rupiah makin menguat. Saat ini saya sdh was2, karena barisan sakit hati yg kalah Pemilu, mulai berulah di Teuku Umar. Milih jubirnya Wiranto, Rizal Ramli. Bisa apa orang2 itu. Apa mereka tanggung jawab mereka kalau nilai saham yg saya miliki di BEI turun lagi? Apa mereka mau ganti rugi? Apa mereka mau nalangin bunga utang luar negeri membengkak? Mereka hanya peduli perutnya sendiri. Bagaimana bisa jual BUMN lagi setelah dapet kekuasaan. Untuk kasus jaksa yg dilepas, saya setuju Kejaksaan Agung dah mulai melamban, saya berharap gak sampai lumpuh. Guru Besar yg saya hormati, dan menurut saya mustahil untuk berbuat jahil thd teman (jahil dalam kerangka bercanda), apalagi korupsi, juga ditangkep, dibui sekarang. Kami, para alumni, yg bingung. Kerjanya bgmn sih kejaksaan? Kok gak bisa milah mana penjahat, mana kambing hitam? Malah dianggap prestasi lagi, nangkep guru besar. Untung sekarang dah ada KPK. Saya dan Anda mengalami kesedihan yg sama. Tapi saya berharap, siapapun yg terpilih sbg Presiden nanti, dia tidak diposisikan spt peran Soeharto, menjadi setengan diktator. Siapapun Presidennya, saya berharap, dia bisa membawa kita ke masyarakat madani, yg berdaya, santun dan damai. Itu yg membawa keadilan. Itu yg membawa kemakmuran. Anda lihat nama saya Fana Soediharto. Saya lahir pas 40 hari kematian Soekarno. Jalan dari rumah ibu saya ke rumah sakit melewati rumah keluarga Bu Wardoyo, kakak Bung Karno. Waktu itu saya hampir lahir di jalan, karena kawasan itu hiruk pikuk waktu itu. Orang tua saya memilih nama yg kira2 mewakili suasana waktu itu. Fana artinya tidak kekal, untuk memangkas istilah "Presiden Seumur Hidup". Soediharto artinya pilihlah Soeharto. Itu nama yg dikasih orang tuan saya. Tapi saya tidak mau kita kembali dipimpin Presiden yg st Soeharto. Saya lbh memilih masyarakat madani. Langkah Direktorat Pajak dalam meremajakan personil dan cara kerjanya, harus kudu wajib ditularkan ke seluruh direktorat dan departemen. Dep Dalam Negeri harusnya jadi target berikutnya. Rgds, Fana
