Real politics,artinya politik yang sudah terjadi benar-benar dihadapan kita adalah : JK keluar dari koalisi karena ingin jadi Presiden. Lalu ketika peluang untuk menang Presiden terlihat kecil, JK (entah dengan tebal muka atau tidak) memutuskan kembali masuk ke koalisi,sangat terlihat pragmatisme-nya,dan itu sudah terjadi (fakta).
Sekarang kalau mengacu pada prinsip real politics,kita tidak bisa dong menduga-duga apa dibalik sikap PKS. Mesti kita akui dengan sportif,karena itu yang terjadi benar-benar dihaapan wajah kita,bahwa PKS bersikap cukup elegan dan komit terhadap agenda reformasi,terbukti dari awal,sebelum masa kampanye tebuka saat suara Demokrat belum ada tanda-tanda dan belum ada dugaan akan menjulang seperti sekarang,PKS tetap memilih mencoba menjalin koalisi dengan partai-paratai yang sebelumnya tidak dijagokan akan meraih posisi juara 1-2,partai-partai yg disebut golden bridge seperti PKB,Demokrat. PAdahal kita semua juga tahu,JK yang ketika itu merasa dan dirasa oleh orang-orang partai Gokar punya peluang besar untuk mengungguli SBY,sudah sempat berkunjung ke kantor DPP PKS untuk mencoba menawarkan koalisi.Kalaulah memang PKS bersikap pragmatis seperti pragmatisnya Golkar tentu tawaran koalisi tersebut akan diterima. Sikap saya sebagai pribadi juga sudah jadi antipati pada JK,prgamatis ya pragmatis,tapi jangan seperti menari telanjang didepan taman publik seperti itu. Kita sudah sulit berharap bahwa kedepannya pak JK akan mampu bersikap proporsional terhadap negosiasi-negosiasi kepentingan praktis macam kasus Lapindo dengan Bakrie-nya,karena toh bagi JK dan Golkar,itu semua cuma soal negosiasi dan tawaran. 2009/4/16 Hery Marijanto <[email protected]> > > > Indonesia akan jauh lebih maju,lebih bersih dan lebih baik jika SBY > bersanding dengan NHW
