http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/20/16272221/Hati-hati.dengan.Wartawan.Bodreks
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com Wakil Ketua Dewan Pers SL Batubara meminta
masyarakat dan lembaga berhati-hati terhadap ulah oknum wartawan yang suka
memeras. Sekretaris Eksekutif Dewan Pers Lukas Luwarso menyatakan hal serupa,
yakni banyak orang yang mengaku wartawan, bahkan oknum tersebut memiliki kartu
pers sampai tujuh buah.
"Tindakan pemerasan yang dilakukan oknum wartawan akan menciptakan citra buruk
bagi dunia pers," katanya dalam seminar "Mendorong Masyarakat Cerdas Memahami
Media", di Bandarlampung, Senin.
"Saya merasa resah dengan ulah oknum wartawan seperti itu. Ibarat sakit kepala,
karena tidak punya uang untuk beli obat, akhirnya memeras, setelah mendapatkan
uang, wartawan tersebut pergi," kata dia.
Ia juga menambahkan, di era reformasi, kebebasan dunia pers itu bagus, tetapi
masih banyak yang kebablasan sehingga muncul media masa, terutama
koran/majalah, yang tidak bertanggung jawab dan terbit hanya dalam situasi
tertentu saja demi mendapatkan uang.
Lebih jauh Lukas mengatakan, "Saya sering menyebut wartawan tersebut, wartawan
bodreks, ada juga yang menyebut wartawan 'CNN' (cuma nongol nama), wartawan
muntaber (muncul tanpa berita). Wartawan tersebut ibarat penyakit panu, kadas,
kudis, dan kurap. Walaupun tidak mematikan, tetapi memalukan," katanya.
Anggota Dewan Pers Bambang Harymurti juga mengatakan, motif pelaku wartawan
bodreks adalah dengan mencari-cari kesalahan orang, lembaga/instansi, untuk
mendapatkan sejumlah uang. "Ibarat penyakit, wartawan bodreks itu seperti
penyakit gatal-gatal di kulit, untuk kronisnya adalah pemerasan," katanya.
ABI
Sumber : Ant