Seharusnya Dewan Pers juga memberitahukan kepada seluruh lapisan masyarakat 
secara detail, surat kabar2 apa saja yang mengatasnamakan PERS, yang 
mengakibatkan image wartawan itu jelek di masyarakat ! Hal ini, agar lebih di 
mengerti oleh khalayak banyak. Dewan Pers jangan hanya bilang : Waspada 
terhadap wartawan bodrex dan muntaber! Statmen ini sudah basi dikeluarkan oleh 
dewan pers. yang terpenting itu sebutkan surat kabarnya, kalau perlu sebutkan 
koran, tabloid, dan majalahnya, sehingga masyarakat bisa lebih waspada. Usul 
dari saya, kalau bisa wartawan itu yang memegang Kartu Pers mempunyai 
pendidikan tinggi dengan minimal lulusan DIII atau S, yang di keluarkan oleh 
Dewan Pers, AJI, maupun PWI itu sendiri. Karena kalau tidak di tekankan seperti 
ini bisa-bisa tukang becak pun mudah menjadi wartwan. Wassalam


Heru Lianto 




________________________________
Dari: Agus Hamonangan <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Senin, 20 April, 2009 20:27:26
Topik: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Hati-hati dengan Wartawan "Bodreks"





http://regional. kompas.com/ read/xml/ 2009/04/20/ 16272221/ Hati-hati. 
dengan.Wartawan. Bodreks

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com — Wakil Ketua Dewan Pers SL Batubara meminta 
masyarakat dan lembaga berhati-hati terhadap ulah oknum wartawan yang suka 
memeras. Sekretaris Eksekutif Dewan Pers Lukas Luwarso menyatakan hal serupa, 
yakni banyak orang yang mengaku wartawan, bahkan oknum tersebut memiliki kartu 
pers sampai tujuh buah.

"Tindakan pemerasan yang dilakukan oknum wartawan akan menciptakan citra buruk 
bagi dunia pers," katanya dalam seminar "Mendorong Masyarakat Cerdas Memahami 
Media", di Bandarlampung, Senin.

"Saya merasa resah dengan ulah oknum wartawan seperti itu. Ibarat sakit kepala, 
karena tidak punya uang untuk beli obat, akhirnya memeras, setelah mendapatkan 
uang, wartawan tersebut pergi," kata dia.

Ia juga menambahkan, di era reformasi, kebebasan dunia pers itu bagus, tetapi 
masih banyak yang kebablasan sehingga muncul media masa, terutama 
koran/majalah, yang tidak bertanggung jawab dan terbit hanya dalam situasi 
tertentu saja demi mendapatkan uang.

Lebih jauh Lukas mengatakan, "Saya sering menyebut wartawan tersebut, wartawan 
bodreks, ada juga yang menyebut wartawan 'CNN' (cuma nongol nama), wartawan 
muntaber (muncul tanpa berita). Wartawan tersebut ibarat penyakit panu, kadas, 
kudis, dan kurap. Walaupun tidak mematikan, tetapi memalukan," katanya. 

Anggota Dewan Pers Bambang Harymurti juga mengatakan, motif pelaku wartawan 
bodreks adalah dengan mencari-cari kesalahan orang, lembaga/instansi, untuk 
mendapatkan sejumlah uang. "Ibarat penyakit, wartawan bodreks itu seperti 
penyakit gatal-gatal di kulit, untuk kronisnya adalah pemerasan," katanya.

ABI 
Sumber : Ant


   


      Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih 
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. 
Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke