Numpang nambahin usul ah... Pasukan, Bodrex Maju Jalan... Begitulah kira-kira tag line iklan obat sakit kepala. Iklan itu muncul, kalau tidak salah, di tahun 1980-an. (Psstt memang tidak ada hubungannya dengan wartawan bodreks ya??) hehe..
Tapi yang pasti munculnya wartawan bodreks, wts, muntaber, CNN, sampai wartawan tabloid berkala (kala-kala terbit, kala-kala tidak) atau apalah namannya, tidak lepas dari perilaku si narasumber. Banyak narasumber yang kelewat senang dirinya diberitakan, sehingga tak ragu memberikan semacam uang terimakasih pada si wartawan. Tetapi, ironisnya banyak narasumber yang memberikan uang agar pemberitaan mengenai dirinya ditulis sesuai keinginannya. Alias, "Tulis yang baik-baik saja ya.." Golongan ini kebanyakan orang-orang bermasalah (entah dipemerintahan, bisnis atau sejenisnya). Tragisnya, mayoritas (bukan semua lho) orang pemerintahan di Indonesia mempunyai masalah. Entah itu penggelapan uang miliyaran atau sekadar uang beli klosed. Nah, orang-orang inilah yang getol memberikan uang pada media. (Mungkin bisa dilihat bagaimana perjalanan pers masa Orde Baru??) Jadi, sepanjang perilaku mereka (dipemerintahan atau yang berhubungan dengan birokrasi pemerintah) masih buruk, fenomena bodreks akan tumbuh subur.... Bagaimana baiknya untuk mengarahkan laju media? Semua terserah pada penikmat dan pembaca serta narasumber berita.Jangan berikan uang pada wartawan ya.. mereka sudah digaji kok.. Oia, untuk perusahaan media, berikan dong fasilitas dan gaji yang mencukupi biar wartawannya gak ngebodreks... hehe.. :) regard's S Rojes Nugroho --- In [email protected], "Agus Hamonangan" <agushamonan...@...> wrote: > > http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/20/16272221/Hati-hati.dengan.Wartawan.Bodreks > > BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com Wakil Ketua Dewan Pers SL Batubara meminta > masyarakat dan lembaga berhati-hati terhadap ulah oknum wartawan yang suka > memeras. Sekretaris Eksekutif Dewan Pers Lukas Luwarso menyatakan hal serupa, > yakni banyak orang yang mengaku wartawan, bahkan oknum tersebut memiliki > kartu pers sampai tujuh buah. > > "Tindakan pemerasan yang dilakukan oknum wartawan akan menciptakan citra > buruk bagi dunia pers," katanya dalam seminar "Mendorong Masyarakat Cerdas > Memahami Media", di Bandarlampung, Senin. > > "Saya merasa resah dengan ulah oknum wartawan seperti itu. Ibarat sakit > kepala, karena tidak punya uang untuk beli obat, akhirnya memeras, setelah > mendapatkan uang, wartawan tersebut pergi," kata dia. > > Ia juga menambahkan, di era reformasi, kebebasan dunia pers itu bagus, tetapi > masih banyak yang kebablasan sehingga muncul media masa, terutama > koran/majalah, yang tidak bertanggung jawab dan terbit hanya dalam situasi > tertentu saja demi mendapatkan uang. > > Lebih jauh Lukas mengatakan, "Saya sering menyebut wartawan tersebut, > wartawan bodreks, ada juga yang menyebut wartawan 'CNN' (cuma nongol nama), > wartawan muntaber (muncul tanpa berita). Wartawan tersebut ibarat penyakit > panu, kadas, kudis, dan kurap. Walaupun tidak mematikan, tetapi memalukan," > katanya. > > Anggota Dewan Pers Bambang Harymurti juga mengatakan, motif pelaku wartawan > bodreks adalah dengan mencari-cari kesalahan orang, lembaga/instansi, untuk > mendapatkan sejumlah uang. "Ibarat penyakit, wartawan bodreks itu seperti > penyakit gatal-gatal di kulit, untuk kronisnya adalah pemerasan," katanya. > > > ABI > Sumber : Ant >
