Bung bambang Sulistomo, Saya setuju dengan pendapat anda bahwa tidak selalu yang dilakukan oleh para pelaksana lapangan merupakan kebijakan dari Komandan tertingginya. Kalau dikalangan rekan - rekan saya yang wartawan, kasus bawahaan yang memotong garis komando atasannya sering terjadi di kalangan militer. Bahwa pada jaman Orde baru perintah seorang Pangdam A nanti sampai kelapangan bisa B atau C itu sering terjadi bila ada perbedaan kepentingan antara Kepala Daerah dengan kepentingan Militer. Ada kalanya para bawahan Pangdam lebih memihak ke Gubernur, sedangkan Pangdam melaksanakan kebijakan Panglima ABRI. Celakanya kedua kepentingan tersebut saling berlawanan. Karena kebijakan tersebut sering terkait dengan pemberitaan, mana yang boleh dimuat dan mana yang tidak boleh dimuat, maka biasanya Wartawan mencari cara untuk mendapatkan konfirmasi dari Panglima yang namanya dicatut oleh bawahannya untuk melarang suatu berita untuk dimuat. Dalam banyak kasus, sikap militer terhadap suatu kasus seringkali lebih lunak dibandingkan dengan sikap dari para pejabat sipil. Kalau sudah begitu, para staf panglima cenderung berupaya untuk mencegah wartawan menemui Panglima. Tapi yang namanya wartawan, akalnya banyak, sehingga akhirnya bisa mengetahui mana perintah palsu dan mana yang asli. Pernah ada kasus sekelompok wartawan Olah Raga di Stadion Utama yang sedang meliput kegiatan olah raga diusir dan dipukuli oleh tentara yang katanya atas perintah Panglima. Setelah perintah itu dikonfirmasikan balik ke Panglima oleh para wartawan, tinggal panglimanya terheran - heran mengapa ada perintah "gila" semacam itu. Buntutnya Panglima cuma bilang minta maaf karena ada bawahan yang telah salah menterjemahkan perintah atasannya. Ya begitulah disiplin dari militer kita jaman Orde Baru. Salam, Adyanto Aditomo
--- Pada Sen, 20/4/09, Bambang Sulistomo <[email protected]> menulis: Dari: Bambang Sulistomo <[email protected]> Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Prabowo Kepada: [email protected] Tanggal: Senin, 20 April, 2009, 11:59 PM om Manneke, masalahnya, bisakah seorang bawahan mengambil inisiatif yang berada diluar perintah dan rencana operasi sang komandan, karena kondisi situasional dan sebagainya ? saya juga pernah mendengar adanya berapa korban kudatuli yang hilang dan gugur, apa itu juga sang komandan memerintahkan untuk menghilangkan dan mengugurkan para penjaga markas pdi waktu itu ? sewaktu ada lima wartawan australia meninggal awal operasi seroja, apa itu juga perintah panglima teringgi, atau perintah panglima operasi seroja ? dalam peristiwa kudatuli, seharusnya sebagai bawahan kan dia juga punya pikiran, akal, kecerdasan, inisiatif, untuk tidak semudah itu menghilangkan dan meng-gugurkan orang-orang yang bertahan, apa tidak ada cara-cara yang lebih beradab om ?, kecuali memang didalam situasi darurat perang, dimana ada perlawanan bersenjata yang sengit, seru, tembak-tembakan, dar der dor, sehingga ada keadaan terpaksa yang harus to kill or to be killl, ya enggak om ? waktu itu kan cuman teriak-teriak, pake lempar lemparan batu aja om. paling-paling kepala benjol , gigi rontok, berdarah, tapi enggak akan mati kan ? filem-nya juga ada kok, bisa dilihat lagi om ! tapi juga, kalau enggak diperiksa bersama, pasti ada yang saling menyalahkan, sang bawahan mengatakan, saya kan hanya menjalankan perintah atasan sambil meringis, dengan muka yang direkayasa seperti tak berdosa dan menahan nafas sang komandan mengatakan, bawahan yang over acting, bodoh, tolol, tidak ada inisiatif, sambil terlihat geram dan gregetan. salambambangsulisto mo.
