Saya sering heran dengan argumen yang diajukan mas Faisal Basri. Heran
karena mas Faisal selalu menghindari diskusi atau perdebatan yang menyentuh
jantung persoalan yaitu prinsip dasar dan ideologi. Neolib jelas
bertentangan dengan ekonomi kerakyatan. Mahzab neolib efisiensi, sehingga
pendidikan murah atau terjangkau tidak efisien, karena pemborosan APBN. BUMN
juga tidak efisien karena lagi-lagi pemborosan, Neolib akan membuat APBN
ketat, sehinggal belanja sosial super mini. Ekonomi kerakyatan percaya bahwa
pendidikan perlu murah atau terjangkau, APBN lebih banyak untuk belanja
sosial atau belanja modal, BUMN perlu.
 
Point kedua dalam komentar mas Faisal ini juga menarik. Ada pertarungan
mahzab, ya tentu saja, apa salahnya? Perdebatan antara tim ekonomi capres
hal yang amat menarik, mari dilaksanakan. Saya yakin tim ekonomi ketiga
capres dengan suka cita akan bertarung gagasan dan ide, dan bukan bertarung
pribadi. Mas Faisal nampaknya mengartikan bahwa perbedaan mahzab itu identik
dengan berantem secara pribadi... nggak lah yow.... Jadi mas Agus, coba
usulkan ke KOMPAS supaya mensponsori debat tim ekonomi ketiga capres...
salam, binny

  _____  

From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Agus Hamonangan
Sent: Friday, May 22, 2009 2:42 PM
To: [email protected]
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Faisal: Jangan Pertentangkan Neoliberalisme
dan Ekonomi Kerakyatan





http://bisniskeuang
<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/05/22/11051652/Faisal.Jangan
.Pertentangkan.Neoliberalisme.dan.Ekonomi.Kerakyatan>
an.kompas.com/read/xml/2009/05/22/11051652/Faisal.Jangan.Pertentangkan.Neoli
beralisme.dan.Ekonomi.Kerakyatan

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam usaha meningkatkan perekonomian nasional jangan
pernah menciptakan hantu-hantu ekonomi. Hantu itu adalah sistem ekonomi
neoliberalisme dan ekonomi kerakyatan. "Sebenarnya kedua hal ini tidak bisa
dipertentangkan," kata Faisal Basri, pengamat ekonomi dari Universitas
Indonesia dalam Diskusi Jurnalis "Menjawab Tantangan Ekonomi Politik
Indonesia 2009-2014", Jakarta, Jumat (22/5).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa neoliberalisme yang kerap dituduhkan
melekat pada sosok Boediono adalah ideologi tentang ekonomi pro pasar dan
swasta serta tidak ada dominasi negara. Menurutnya, saat ini tidak ada
neoliberalisme murni yang diterapkan di negara mana pun di dunia ini. "Yang
mendekati saja hanya satu, yaitu Hongkong," ungkap Faisal.

Dengan demikian, tambahnya, bukan Amerika Serikat yang menerapkan
neoliberalisme. "Padahal, Amerika adalah negara yang sangat mengintervensi
dalam perekonomiannya," jelasnya.

Sementara ekonomi kerakyatan, ungkap Faisal, adalah suatu prioritas
kebijakan, apakah suatu negara memperhatikan kesejahteraan rakyatnya secara
menyeluruh atau tidak. Dengan demikian, ekonomi kerakyatan ini bisa
diterapkan di sistem ekonomi pro pasar maupun sosialis. "Maka bisa dipakai
di Kuba juga bisa di Norwegia yang pro pasar," kata Faisal.

ONE 






[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke