Menyimak Penjualan Krakatau Steel<http://nofieiman.com/2008/05/menyimak-penjualan-krakatau-steel/>May 30th, 2008 *|* Politics <http://nofieiman.com/category/politics/>
Melihat direktur sebuah perusahaan besar bergaya hidup mewah mungkin hal yang biasa. Situasi, kondisi, maupun tanggung jawab yang diembannya memang menuntut mereka untuk menjaga imej dan prestis dirinya. Namun menjadi agak lucu ketika perusahaan yang dipimpinnya berada dalam situasi sulit sementara dirinya tetap bermewah-mewahan tanpa ada *sense of belonging*. Agaknya, hal serupa terasa di BUMN-BUMD kita. Orang tentu sudah hafal bahwa pejabat Pertamina terkenal sangat borjuis dengan segala fasilitas, pendidikan, transportasi, maupun keseharian hidupnya. Orang juga maklum bila begitu banyak BUMN maupun BUMD yang kurang terdengar dan selalu merugi-namun tetap (sengaja dibuat) eksis. Agaknya memang BUMN-BUMD tersebut sengaja dibuat untuk menjadi perisai bagi oknum yang ingin mendapatkan kemakmuran. Masa bodoh dengan profitabilitas perusahaan. Yang penting, gaji gede, bonus, tunjangan, dan fasilitas lengkap bisa diperoleh. Barangkali inilah mengapa ada begitu banyak unit usaha pelat merah di Indonesia yang jelas-jelas raportnya merah namun tetap dipelihara. Sejatinya, sebuah perusahaan didirikan untuk memakmurkan pemegang sahamnya. Bila ditelusur, pemegang saham sesungguhnya dari BUMN maupun BUMD di Indonesia adalah seluruh rakyat. Mengingat sebagian besar rakyat Indonesia masih miskin, apakah para direksi itu sudah berhasil memakmurkan pemegang sahamnya? Apakah pantas mereka hidup glamor sementara pemegang sahamnya mau makan saja susah? Menurut saya, itu lebih pantas disebut (maaf) memalukan dan memuakkan. Situasi demikian memang membuat kita gemes. Idealnya, perusahaan bisa dikelola dari, oleh, dan untuk orang kita sendiri. Sedih melihat begitu banyak perusahaan bagus yangkini dikuasai Singapura<http://nofieiman.com/2007/07/orang-orang-terkaya-indonesia-dan-masa-depan-kita/>. Apalagi, pemerintah terdahulu menjualnya secara ngawur dan obral<http://nofieiman.com/2008/04/seperti-al-pacino/>. Namun, melihat bagaimana orang kita mengelola BUMN-BUMD strategis, bisa membuat kita lebih gregetan lagi. Contoh paling gres mungkin Krakatau Steel (KS). Walau kinerjanya bagus 2-3 tahun terakhir, sesungguhnya KS hampir selalu merugi sejak berdiri tahun 1970. Padahal, KS merupakan kawasan industri baja terpadu yang memiliki segalanya mulai dari infrastruktur transportasi, pembangkit listrik, pelabuhan, rel kereta, air bersih, gudang dan perbengkelan, kompleks perumahan, rumah sakit, dan sebagainya. Mereka bahkan sempat punya klub sepakbola Pelita KS. Hanya beberapa negara saja yang memiliki konglomerasi terpadu semacam itu. Karena itu, tentu tanda tanya besar mengapa KS selalu merugi. Jawabannya mungkinmismanajemen dan regulasi yang (sengaja dibuat) tak sesuai dengan KS. Misalnya, ada regulasi yang melarang KS menjual produk dengan ukuran tertentu padahal pabrik hanya memroduksi dengan spesifikasi tersebut. Sebaliknya, ada produk lain yang seharusnya digunakan untuk spesifikasi tertentu, akhirnya terpaksa dijual murah untuk kegunaan yang lain. Mereka juga pernah menggunakan jasa konsultan asing seperti Bozz, Allen & Hamilton, namun nampaknya tak banyak membantu. Saya setuju bila KS dijual. Alasannya, penjualan KS berarti mengurangi risiko pemerintah karena BUMN yang terus merugi otomatis akan menggerus APBN. Penjualan KS juga berarti masuknya modal, akses pasar, atau kepemilikan publik. Siapapun pembeli KS nantinya tentu menginginkan KS efisien agar bisa segera balik modal. Akibatnya, KS mau tak mau akan menjadi lebih menguntungkan sehingga pendapatannya naik. Ujung-ujungnya, setoran pajak yang diperoleh pemerintah juga naik. Keuntungan lainnya, bila KS dijual, maka otomatis praktik monopoli bisa digugurkan. Dengan kompetisi yang *fair*, manajemen akan bersaing dan pasar akan diuntungkan karena mendapat produk yang lebih baik dan lebih murah. Selain itu, KS juga kehilangan kesempatan untuk mendanai politik kotor yang lazim terjadi pada BUMN. Tranparansi dan akuntabilitas yang lebih baik juga praktis membuat orang sulit melakukan korupsi di KS. Tentu, jualannya tak serta merta asal melego seperti yang sudah-sudah. Selain harus dijual dengan harga mahal sehingga diperoleh cukup dana untuk melakukan ekspansi, pemerintah selayaknya tetap harus memegang kepemilikan mayoritas. Saya sendiri lebih suka bila KS dijual via IPO karena biasanya lebih transparan, dana yang diperoleh lebih banyak, dan ada kesempatan bagi rakyat untuk ikut memiliki KS. Namun, bila terpaksa harus dijual melalui *strategic sale*, maka pilih pembeli yang benar-benar jempolan melalui *beauty contest* yang benar. Jangan melulu menggolkan calon pembeli hanya demi mendapatkan *success fee* saja. Bila perlu, bebani pemilik baru KS dengan kontrak kewajiban untuk memasok baja sekian ton dengan harga tertentu selama sekian puluh tahun ke depan sehingga pasokan terjamin biarpun harga fluktuatif seperti sekarang. Atau, bisa juga dengan target seperti peningkatan ekspor atau penyerapan tenaga kerjaapapun selama memberi keuntungan riil bagi bangsa dan negara. Untungnya (sayangnya) saya bukan menteri BUMN. :) 09/6/5 bungaran <[email protected]> > > > Calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono lagi-lagi membantah telah dan akan > menjalankan ekonomi kapitalistik tapi beliau lebih memilih ekonomi jalan > tengah. > > (1). Jalan raya bebas hambatan yang dibebankan kepada rakyat yang dimaksud > SBY sebagai ekonomi jalan tengah . > > (2). Apakah privatisasi 44 BUMN yang dimaksudkan oleh SBY sebagai ekonomi > jalan tengah. > > 1.PT Asuransi Jasa Indonesia, > 2.PT Krakatau Steel, > 3.PT Bank Tabungan Negara, > 4.PT Semen Baturaja, > 5.PT Sucofindo, > 6.PT Surveyor Indonesia, > 7.PT Waskita Karya, > 8.Bahtera Adiguna, > 9.Barata Indonesia, > 10,PT Djakarta Lloyd, > 11.PT Sarinah, > 12.PT Industri Sandang, > 13.PT Sarana Karya, > 14.PT Dok Kodja Bahari, > 15.PT Dok & Perkapalan Surabaya, > 16PT Industri Kereta Api, > 17.PT Dirgantara Indonesia, > 18.PT Kertas Kraft Aceh, > 19.PT INTI, Virama Karya, > 20.Semen Kupang, > 21.Yodya Karya, > 22.Kawasan industri Medan, > 23.Kawasan industri Makassar, > 24.Kawasan industri Wijaya Kusuma, > 25.PT SIER, > 26PT Rekayasa Industri, > 27.Kawasan Berikat Nusantara, > 28.Garuda Indonesia, > 29.Merpati Nusantara, > 30.Industri gelas. > 31.PTB Inti, > 32.Rukindo, > 33.PT Perkebunan Nusantara III, > 34.PT Perkebunan Nusantara IV, > 35.PT Perkebunan Nusantara VII, dan > 36.Virama Karya > 37.BNI Persero, > 38Adhi Karya (direncanakan rights issue), > 39.Pembangunan Perumahan (melalui IPO), > 40.Boma Vista, > 41.PTB Inka, > 42.Biramaya Karya, > 43.PT Kraft Aceh, dan > 44.Industri Kapal Indonesia. > > (3). Apakah menyerahkan kekayaan negara berupa kandungan Blok Cepu sebanyak > 10,9 milyar barel kepada perusahaan asing (Exxon Mobile) yang dimaksud SBY > sebagai ekonomi jalan tengah. > > (4).Pemberian izin konsesi 100 tahun untuk tambang minyak dan gas bumi > serta mineral lainnya dan konsesi 100 thn untuk explorasi dan produksi, yang > dimaksud SBY sebagai ekonomi jalan tengah > > (5). Apakah diizinkannya pihak asing menguasai asset BUMN hingga 100 persen > dalam 5-10 tahun ke depan yang dimaksud SBY sebagai ekonomi jalan tengah > > (6). Diberikannya jaminan kebebasan oleh otoritas moneter Indonesia dalam > proses transfer dana hasil keuntungan jaringan bisnis Internasional yang > beroperasi disini tanpa ada lagi pembatasan jumlah dana yang keluar > Indonesia yang dimaksud SBY sebagai Ekonomi jalan tengah. > > (7). Apakah menaikkan BBM sebanyak 5 kali, harga sembako yang menaik yang > dimaksud SBY sebagai ekonomi jalan tengah. > > (8).Peningkatan jumlah kemiskinan yang kemudian dikapitalisasi untuk > pemberian BLT, Raskin, kompensasi BBM, minyak tanah dan sebagainya yang > dimaksud SBY sebagai ekonomi jalan tengah. > > (9). Menaikkan APBN tanpa menggerakkan ekonomi hingga hampir 1000 trilyun, > tetapi tidak ada jalan, jembatan atau infrastruktur baru yang bertambah > sehingga tidak mampu mendorong ekonomi riel atau kegiatan pembangunan dan > peningkatan kesejahteraan yang dimaksud SBY sebagai ekonomi jalan tengah. > > Jika target pertumbuhan ekonomi cuma 7 persen berarti tidak ada sikap > ambisius/optimis dari pemerintah baik dari presiden maupun tim ekonomi. > Padahal dengan pertumbuhan ekonomi yang cuma 7 persen(apalagi jika dibawah 7 > persen), Indonesia hanya akan berjalan disatu titik tidak ada pergerakan, > artinya tidak akan maju cepat. Bahkan pada akhir tahun 2014, Indonesia tetap > menjadi negara termiskin. > > Apakah SBY lupa dengan pasal 33 UUD 1945. > BAB XIV > KESEJAHTERAAN SOSIAL > > Pasal 33 UUD 1945 > (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas > kekeluargaan. > (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai > hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. > (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh > negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ ===================================================== Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] : 1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://epaper.kompas.com/ , http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/ 3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected] 5.Untuk bergabung: [email protected] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
