Oleh IRWAN JULIANTO
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/01/03001480/michael.jackson.dan.child.abuse



Cinta, gelombang kasih yang tulus hingga usia tengah abad/selebihnya hanya kau 
yang tahu....

Mungkin hanya kebetulan saja penggalan lirik lagu "Tembang Lestari" karya Leo 
Kristi di atas seolah mengingatkan kita pada nasib tragis mahabintang Michael 
Jackson yang tewas pada usia yang baru saja lewat setengah abad. Lagu ini 
dinyanyikan dengan amat indah oleh Berlian Hutauruk dan pianis Yockie Suryo 
Prayogo di Bentara Budaya Jakarta, Senin (29/6) malam. Sayangnya, lirik 
"lanjutkan usiamu, lanjutkan semangatmu..." tidak berlaku lagi Jacko....

Hingga kini penyebab kematian Michael Jackson (MJ) masih simpang siur. Jaringan 
TV Fox hari Minggu petang melaporkan bahwa MJ meninggal karena henti jantung 
(cardiac arrest), diduga akibat ia meminum secara cocktail atau sekaligus tujuh 
jenis obat-obat keras yang harus diresepkan dokter. Tiga di antaranya adalah 
narkotik analgetik (penghilang rasa sakit), yaitu Demerol, Dilaudid, dan 
Vicodin. Empat obat lainnya masuk kategori antidepresan, antitukak lambung, 
relaksan otot, dan sedatif.

Menurut pakar farmakologi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 
Prof Dr Rianto Setiabudhi, tiga jenis narkotik analgetik yang dikonsumsi MJ 
seharusnya tidak menimbulkan efek melemahnya denyut jantung hingga henti 
jantung, hanya menimbulkan depresi napas dan efek sedasi (mengantuk). Namun, 
diakuinya Demerol (yang mengandung meperidin), Dilaudid (hidromorfon), dan 
Vicodin (hidrokodon + parasetamol) dapat menimbulkan adiksi (kecanduan).

"Mungkin Michael Jackson menderita nyeri tubuh yang kita belum tahu di mana 
sehingga ia meminum tiga jenis narkotik penghilang rasa nyeri itu sekaligus. Ia 
mungkin juga menderita depresi, dan henti jantung justru kemungkinan besar 
ditimbulkan oleh antidepresan yang diminumnya," tutur Prof Rianto. Antidepresan 
mengakibatkan denyut jantung MJ memanjang dan aritmia ventrikel atau bilik 
jantung berdenyut tak teratur, hingga tiba pada suatu situasi yang disebut 
torsade de pointes atau irama denyut jantung melambat dan berakhir dengan henti 
jantung.

Fatamorgana

Nasib tragis dan kematian MJ seolah mengulang cara kematian maharaja rock 'n 
roll Elvis Presley karena overdosis obat-obat penenang. Kebetulan MJ menikahi 
putri tunggal Elvis, Lisa Marie Presley, tahun 1994-1996. Kepada Lisa Marie, MJ 
pernah menyatakan kekhawatirannya akan meninggal mendadak seperti Elvis. 
Sungguh semacam self-fulfilling prophecy atau nubuat yang tergenapi dengan 
sendirinya....

Menyibak sebab musabab kematian MJ, tak bisa tidak, kita harus menelusuri masa 
kecilnya. Kuat dugaan, luka batinnya akibat child abuse yang dilakukan ayah 
kandungnya, Joseph Jackson, justru lebih serius ketimbang sakit fisiknya. "Kita 
mesti melihat Jacko dari masa kecilnya. Dari film biografi keluarga Jackson, 
kita dapat menyimak sedikit psikodinamika kehidupannya," demikian dr Nalini 
Muhdi, psikiater Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang semalam 
menuliskan e-mail tentang MJ dari Hongkong.

Kendati demikian, Deepak Chopra, guru rohani yang juga dokter dan sahabat MJ, 
menyatakan bahwa sejak tahun 2005 ia mengkhawatirkan penyalahgunaan narkotik 
analgetik oleh MJ ketika bintang ini tinggal bersamanya. Waktu itu Chopra 
mendampingi MJ ketika menjalani persidangan tuntutan sex abuse terhadap 
anak-anak kecil. Majalah Newsweek (edisi 6-213 Juli 2009) melaporkan sebuah 
apotek di Los Angeles tahun 2007 menagih utang 100.000 dollar AS untuk 
obat-obat resepnya selama dua tahun.

Selain obat-obatan, MJ mengalami masalah keuangan yang serius. Tahun 2008 ia 
gagal membayar utang sebesar 24,5 juta dollar AS, hingga ranch-nya di Neverland 
nyaris ditutup. Konser-konser come back-nya keliling dunia yang menurut rencana 
akan dimulai di London, Juli ini, diperkirakan tak akan menutup utangnya.

Betapapun, menurut dr Nalini, MJ memang hebat. Paling tidak, untuk rentang 
waktu tertentu ia mampu "mengalahkan" luka batinnya, masa kecilnya yang 
terkoyak, lewat prestasinya dalam dunia musik pop dunia. MJ yang kaya, yang 
tersohor, dengan sederet prestasi gemilangnya, ternyata berakhir hidupnya dalam 
gelimang sunyi yang sulit dimengerti awam. Gaya hidupnya yang aneh dan menutup 
diri, mencari dan mencari sesuatu untuk mengisi emosi yang kosong. Ia seperti 
selalu mengejar fatamorgana.

Semasa kecil, konon MJ harus berlatih keras dan disiplin kaku yang melebihi 
kapasitas yang dapat disangga seorang anak kecil. Ayahnya mahakeras mendidik 
anak-anaknya, hampir mereka kehilangan masa kecil yang indah dan ceria, 
terlambat latihan akan diganjar gebukan ayahnya. "Cinta kepada ayahnya sedikit 
demi sedikit tergerus dan digantikan kebencian. Kendati akhirnya mereka 
berhasil dalam prestasi menyanyi, luka jiwanya yang tak terperi masih terus 
meninggalkan parut tajam di ingatannya," ujar dr Nalini.

Dikatakan, child abuse (perlakuan salah terhadap anak) memang bukan perkara 
sederhana seperti banyak orang memandang dan berpikir selama ini. Child abuse 
adalah sebuah tragedi kehidupan. Luka fisik bisa terobati, tetapi luka batin 
meninggalkan jejak panjang seumur hidup yang mau tidak mau membutuhkan 
bimbingan yang akurat. Child abuse sebagai bagian kekerasan dalam rumah tangga 
mengakibatkan banyak parut gangguan mental emosional. Pribadi korban menjadi 
rapuh, citra diri yang buruk, merasa tidak berdaya, marah, sedih, bingung, 
penuh kecemasan, depresi, dan yang lebih berat lagi.

"Kendati Jacko lantas sukses, tapi pijakannya rapuh dan gampang goyah. 
Self-esteem yang buruk diatasinya dengan pencapaian-pencapaian di dunianya. 
Dunia hiburan yang penuh gemerlap dan banyak kegembiraan semu menawarkan 
pelipur lara kehidupannya, tetapi hanya sementara. Self-esteem yang buruk 
tersebut lantas membuahkan gangguan body image (body dysmorphic disorder) pada 
Jacko. Terbukti bagaimana ia mencoba berganti-ganti mengubah penampilan lewat 
bedah plastik. Jacko yang sebetulnya tidak jelek itu selalu merasa tidak puas 
dengan tubuhnya dan umumnya disertai dengan gangguan depresi. Jacko merasa 
tidak berdaya di tengah keberdayaannya di dunia hiburan. Dengan demikian, 
ketika tiba saatnya bintang itu meredup seiring dengan berjalannya waktu, Jacko 
limbung," papar dr Nalini.

Mungkin MJ menggantungkan pride-nya pada gegap gempita tepuk tangan penggemar. 
Ketika tepuk tangan itu tak terdengar lagi, ia jadi linglung dan kosong. 
Sesuatu yang kerap terjadi pada beberapa bintang pop, mengidap "sindrom 
primadona". Nyeri sekali menyadari kenyataan bahwa tak ada lagi riuh rendah dan 
puja-puji penggemar. Apalagi dilandasi kepribadian yang memang rapuh. "Maka, 
tak heran kesunyian adalah bencana yang tak tertahankan, depresi menindas 
hidupnya," lanjut dr Nalini.

 

Kirim email ke