http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/07/02/22570491/Pernyataan.Andi.Mallarangeng.Bertentangan.dengan.UUD.1945



MAKASSAR, KOMPAS.com — Forum Rektor Indonesia Simpul Sulawesi Selatan 
(FRIS-Sulsel) menilai pernyataan anggota tim kampanye nasional capres 
SBY-Boediono, Andi Mallarangeng, sangat bertentangan dengan amanah UUD 1945 dan 
Bhinneka Tunggal Ika karena Indonesia masyarakat majemuk. 

Pernyataan kontroversial Andi Mallarangeng itu diucapkan saat kampanye 
SBY-Boediono di GOR Andi Mattalatta, Rabu, mengandung unsur SARA, yang 
menyatakan: "Belum saatnya orang Sulsel memimpin bangsa Indonesia."

Ketua FRIS-Sulsel, Prof Dr dr Idrus A Paturusi, di Makassar, Kamis (2/7), 
mengatakan, UUD 1945 dan BTI memberi kesempatan kepada setiap warganya untuk 
menggunakan haknya, termasuk siapa saja yang mencalonkan diri untuk memimpin 
bangsa ini.

"UUD 45 dan Bhinneka Tunggal Ika saja mensyaratkan seperti itu, kok ada orang 
yang ngomong ngelantur di depan massa kampanye bahwa belum saatnya orang Sulsel 
menjadi presiden," ungkapnya.

"Alifian yang juga juru bicara Presiden SBY seharusnya tidak mengeluarkan 
pernyataan seperti itu sebab akan memicu keresahan warga Indonesia, khususnya 
yang ada di provinsi ini," tambahnya.

FRIS-Sulsel juga menilai bahwa pernyataan Andi saat berorasi kampanye 
SBY-Boediono di GOR Andi Mattalatta mengandung unsur SARA, bahkan telah 
melecehkan etnis serta SDM masyarakat Sulsel sehingga dapat mengganggu 
persatuan dan kebersamaan warga di daerah ini.

"Dia harus minta maaf kepada warga Sulsel serta yang bersangkutan diminta untuk 
tidak mengulangi pernyataan seperti itu lagi sebab akan memicu konflik," 
katanya dan menambahkan, janganlah suasana yang cukup kondusif menjelang 
Pilpres 8 Juli 2009 berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan.

Idrus juga mengajak masyarakat Sulsel untuk berpartisipasi menggunakan hak 
pilihnya dengan mendatangi TPS-TPS serta mampu menjaga ketertiban, kedamaian, 
dan kebersamaan dalam menghadapi pesta demokrasi tersebut.

Budayawan Sulsel, Ishak Ngeljaratan, secara terpisah menilai, pernyataan Andi 
bahwa orang Sulsel belum waktunya menjadi presiden, sangat "mengerikan" dan itu 
merampas hak orang lain untuk menggunakan haknya sesuai UU tersebut. 

"Biarlah setiap warga Indonesia yang majemuk ini menggunakan haknya, bukan 
dihambat hanya karena ingin mempertahankan pemimpin bangsa yang sekarang ini," 
ungkapnya. 

Terkait dengan majunya Jusuf Kalla (JK) yang mencalonkan diri sebagai calon 
presiden bersama pendampingnya Wiranto, menurut Ishak, wajar-wajar saja karena 
beliau ini juga sudah banyak memoles bangsa ini, baik sebagai mantan menteri 
maupun wakil presiden yang masa jabatannya bersama Presiden SBY berakhir 
Oktober 2009. 

"Orang Sulsel memiliki dua rasa malu, yakni malu karena berbuat kejahatan dan 
malu jika tidak berbuat kebaikan bagi daerah dan bangsa ini," ujarnya seraya 
menyatakan, janganlah menghalangi orang dalam berbuat baik pada bangsa ini.

Kirim email ke