Saya juga tidak setuju dengan pendapat Anda. Bang Mula.

2009/7/20 <[email protected]>

> Bang Mula,
>
> Maaf, saya tidak setuju dengan pendapat Anda.
>
> Wass,
> Budi Shambazy
>
>
> Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
>
> Date: Sun, 19 Jul 2009 22:18:00
> To: <[email protected]>
> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Saya Memberi Nilai Sembilan Terhadap
> Pernyataan Presiden SBY
>
>
>
> Kalau Presiden SBY, yang selama ini terkenal santun dan sangat berhati-hati
> dalam berbicara, sampai mengeluarkan kata-kata seperti dalam pernyataannya
> Jumat, 17 Juli 2009 yang lalu, maka hal itu tentu sudah diperhitungkannya
> benar. Kita bahkan bisa melihat bahwa pernyataan itu diucapkan berdasarkan
> sebuah teks tertulis. Oleh karena itu pernyataan tersebut boleh dikatakan
> "hati-hati bin hati-hati" atau "he mean it".
>
> Saya tidak melihat bahwa ada yang berlebihan dalam pernyataan Presiden SBY.
> Bahkan menurut hemat saya memang begitulah seyogianya pernyataan seorang
> presiden di sebuah negara yang demokratis.
>
>
> 1. Secara Eksplisit Pernyataan Itu Tidak Mengait-ngaitkan Hasil Pemilu:
>
> Saya sudah melihat rekaman video pernyataan tersebut di youtube, dan
> melihat intonasi serta ekspresi wajah Presiden SBY. Saya juga sudah membaca
> transkripsi pernyataan itu--yang tersedia di banyak situs internet--dua atau
> tiga kali.
>
> Saya samasekali tidak melihat bahwa Presiden SBY nyata-nyata mengaitkan
> peristiwa pengeboman itu dengan pemilu, dan tidak juga melihat bahwa dia
> sedang menuduh sebuah kelompok yang kalah dalam pemilu sebagai otak
> pengeboman:
>
> Presiden SBY mengatakan bahwa banyak orang yang bertanya kepadanya apakah
> teror bom ini ada kaitannya dengan pemilu. Lalu dia mengatakan bahwa hal
> tersebut masih akan diusut. Kita tidak bisa asal menuduh tanpa pembuktian
> secara hukum.
>
> Tapi kata SBY lebih jauh, memang dia mendapat laporan intelijen bahwa ada
> sejumlah ucapan dan kegiatan melawan hukum yang akan dilakukan oleh
> fihak-fihak tertentu berkaitan dengan pemilu, yang ingin membawa negara ke
> dalam kekacauan. (Latihan menembak. Pendudukan kantor KPU. Membuat Indonesia
> menjadi seperti Iran, dsb).
>
> Apakah teror bom tersebut berkaitan dengan sejumlah ucapan dan kegiatan
> tersebut, itu masih akan diusut, kata Presiden SBY. Tapi seandainya pun
> ucapan dan tindakan yang hendak menggagalkan pemilu itu tidak berkaitan
> dengan teror bom, itu tetaplah harus dihentikan, karena negara ini adalah
> negara demokrasi dan negara hukum.
>
> Secara khusus Presiden SBY memang berbicara tentang "sebagian dari kita"
> yang di masa lalu terlibat dalam tindak kejahatan penculikan, pembunuhan dan
> pengeboman dan masih bebas berkeliaran. Tapi kata Presiden SBY, percayalah
> kali ini negara akan mengejar mereka dan tak akan membiarkan mereka lagi
> menjadi drakula-drakula yang menyengsarakan rakyat.
>
> Bahwa Presiden SBY tidak memfokuskan diri berbicara tentang teror bom dan
> korban, itu bisa saya mengerti. Dia adalah seorang presiden. Dia bukan dai,
> pendeta, psikolog atau terapist. Dia harus melihat persoalan dan berbicara
> dalam lingkup yang besar dan luas.
>
>
> 2. Setiap Peristiwa adalah Panggung untuk Melakukan Komunikasi Politik:
>
> Orang menyalahkan Presiden SBY karena memakai peristiwa pengeboman itu
> sebagai panggung politik dan mempolitisasinya bagi kepentingannya. Ini juga
> adalah suatu hal yang menggelikan dan mengherankan saya.
>
> Presiden itu adalah sebuah jabatan politik, dan karena itu setiap peristiwa
> adalah panggung baginya untuk menyampaikan komunikasi politiknya, kepada
> rakyatnya mau pun kepada lawan-lawan politiknya.
>
> Sebenarnya apa yang dilakukan oleh SBY itu juga dilakukan oleh para
> presiden atau perdana menteri negara lain. Bahkan oleh para presiden
> Indonesia sebelum dan sesudah reformasi.
>
> Mahatir Mohamad, Ahmadinejad, Sukarno, Suharto, Lee Kwan Yew, Margareth
> Thatcher, Indira Gandhi--you name it--semua melakukannya, yaitu memakai
> setiap peristiwa sebagai panggung politik untuk melemparkan isyu bagi
> kepentingan politiknya. Dan mereka memang harus melakukan itu, karena
> presiden atau perdana menteri adalah sebuah jabatan politik. Presiden atau
> perdana menteri bukanlah pendeta atau dai.
>
> Ahmadinejad, setiap kali selesai sholat Jumat di masjid Universitas
> Teheran, selalu berpidato menyerang musuh-musuhnya di dalam negeri (kaum
> reformis) dan di luar negeri (AS dan Zionisme Israel). Dia bukan memakai
> kesempatan itu untuk memberikan tausyiah atau siraman rohani.
>
> Dan seperti halnya SBY, dalam melakukan "aksi panggungnya" para presiden
> dan perdana menteri itu juga selalu mengandalkan "laporan intelijen" sebagai
> sumbernya.
>
> Mahatir Mohamad, apalagi. Entah meresmikan kebun kelapa sawit atau
> meluncurkan type mobil Proton yang baru, dia acapkali hanya berbicara 10%
> tentang perkebunan atau industri. Selebihnya dipakai untuk menyerang
> lawan-lawannya di partai oposisi atau pun di kubu Barisan Nasional.
>
> Sukarno sami mawon. Boleh jadi panggungnya adalah Kongres GMNI. Tapi
> alih-alih bicara tentang pemuda, dia berbicara tentang kapitalis birokrat
> (kapbir), antek-antek nekolim, atau musuh-musuh revolusi yang ada di
> Angkatan Darat.
>
> Suharto juga begitu. Di sebuah panggung HUT ABRI dia menyerang para
> lawannya (Petisi 50), mengidentikkan dirinya sebagai Pancasila, dan menuduh
> mereka yang mengkritiknya sebagai melawan Pancasila. Atau dalam sebuah
> perjalanan pulang dari KTT Non Blok di Beograd, dia "nyelonong" membicarakan
> beberapa elemen tentara yang dianggapnya melawannya, dan tiba-tiba berkata
> dengan sangat emosional, "Biar jenderal sekali pun akan saya gebuk......"
> Atau setelah berbicara tentang bagaimana caranya melakukan kawin-suntik sapi
> atau membuat makanan ternak di Tapos, di hadapan para Komandan Korem, dia
> berbicara tentang dwi-fungsi dan mengamankan pembangunan.
>
> Gus Dur juga begitu. Di masa dia menjabat sebagai presiden, setiap hari
> Jumat pagi kita selalu bertanya-tanya: "Di masjid mana dia hari ini akan
> sholat? Dan siapa lagi yang ditembaknya kali ini?"
>
>
> 3. Adalah Wewenang Presiden untuk "Bermain-main" dengan Laporan Intelijen:
>
> Orang juga banyak menyalahkan Presiden SBY dalam kaitan dengan apa yang
> dikatakannya sebagai "laporan intelijen" itu. Ini juga adalah sebuah hal
> yang menggelikan. Mengertikah orang sebenarnya tentang apa yang disebut
> sebagi "laporan intelijen" itu?
>
> "Memain-mainkan" informasi intelijen atau bahkan menggunakan intelijen
> untuk  kepentingan jabatannya (sampai kepada batas-batas tertent) adalah
> kewenangan setiap presiden dan perdana menteri. (Dan intelijen--terutama
> intelijen negara--memang didirikan untuk melayani presiden atau perdana
> menteri).
>
> Nixon memakai agen-agen CIA untuk menyadap markas Partai Demokrat di
> Watergate. Presiden Bush Sr menyuruh CIA untuk mengaduk-aduk timbunan arsip
> lama, untuk mencari paspor Bill Clinton (capres waktu itu) dalam upaya
> membuktikan bahwa lawannya itu pada saat masih mahasiswa pernah bepergian ke
> Uni Soviet dan atas biaya pemerintah Uni Soviet.
>
> Kita tentu masih ingat dengan kasus senjata kimia pemusnah massal yang
> dituduhkan AS sedang dibuat oleh Saddam Husein dan yang dipakai sebagai
> alasan untuk menyerbu Irak. Senjata itu tidak pernah ada. Tapi Presiden Bush
> berkali-kali mengatakan di depan media massa bahwa dia memiliki bukti berupa
> laporan intelijen bahwa senjata itu memang ada.
>
> Di fihak lain, walaupun tidak diniatkan untuk menjadi "hoax", laporan
> intelijen tetap saja diasumsikan sebagai penuh dengan kemungkinan tipu-tipu,
> ketika dia sedang mengalir dari bawah ke atas (ke presiden). Bisa saja
> laporan itu datang dari sumber-sumber yang memang ingin melakukan
> penyesatan. Kemudian juga--dalam jenjang tertentu--bisa saja laporan itu
> dipermak oleh fihak-fihak tertentu agar ketika Presiden nanti membuat
> keputusan, maka keputusan itu akan menguntungkan dirinya atau kelompoknya.
>
> Karena itu laporan tersebut harus diverifikasi dan di-scrutinize. Dan tugas
> untuk melakukan hal tersebut adalah tanggung jawab kepala atau direktur
> lembaga intelijen itu sendiri. Karena itu kepala lembaga intelijen negara
> tersebut haruslah orang yang sangat dipercaya oleh Presiden.
>
> Disebabkan intelijen yang penuh tipu-itipu itu bekerja "di bawah tanah",
> maka dia memiliki potensi untuk menjadi sesuka-sukanya. Oleh karena itulah
> di negara-negara demokrasi ruang gerak intelijen itu harus dibatasi oleh
> undang-undang. Sinyalemen intelijen selalu harus diproses secara hukum.
> Memang kadang-kadang ada saja sinyalemen intelijen yang langsung dieksekusi
> tanpa melalui proses hukum. Tapi kalau hal tersebut sampai ketahuan oleh
> masyarakat, akibatnya bisa fatal kepada pimpinan lembaga intelijen tersebut,
> atau bahkan kepada presiden. (Di negara-negara otoriter dan diktator, maka
> "laporan intelijen" adalah kebenaran. Karena itu apa yang menjadi sinyalemen
> KGB pada masa Uni Soviet, SS pada masa Nazi Jerman dsb, itulah hukum).
>
> Kasus Munir itu adalah sebuah contoh. Kalau dia memang benar adalah musuh
> negara, maka berdasarkan sinyalemen intelijen, seharusnya polisi-lah yang
> menangkapnya, mengumpulkan bukti-bukti dan menyeretnya ke pengadilan. Tapi
> para petinggi badan intelijen (drakula-drakula yang masih bergentayangan
> itu) langsung saja mengeksekusinya. Sayang penegakan hukum masih amburadul.
> Kalau tidak, seharusnya drakula-drakula itu sudah musti masuk ke penjara.
>
> Kasus penghilangan orang secara paksa pada masa-masa sebelum 1998 adalah
> contoh yang lain lagi. Orang-orang itu diculik dan dilenyapkan karena
> dianggap sebagai musuh negara. (Dan yang menganggapnya musuh negara adalah
> intelijen Kopassus "pulak"), Kalau negara kita masih tetap berada dalam
> sistem pemerintahan diktator dan otoriter Suharto, maka kasus tersebut akan
> didiamkan begitu saja. Tapi ketika negara kita berada dalam era demokrasi,
> maka diusutlah kasus tersebut. Hanya sayangnya, disebabkan oleh hukum yang
> amburadul, lagi-lagi drakula-drakula itu masih terus bergentanyan.
>
> Sepanjang tidak melanggar undang-undang, dan sepanjang digunakan untuk
> kepentingan negara, maka saya rasa tidak ada salahnya kalau presiden
> mengumbar-ngumbar "what so called" laporan intelijen. Dan mengenai apa yang
> disebut sebagai "kepentingan negara", maka marilah kita memberi sedikit
> toleransi kepada presiden untuk juga boleh menfasirkannya. Bagaimana pun,
> dialah kepala negara.
>
>
> 4. Drakula dan Kentut:
>
> Orang juga menyalahkan Presiden SBY karena mengangkat isyu "drakula" dan
> menganggapnya sebagai memecah-belah bangsa. Ini juga adalah hal yang
> mengherankan saya.
>
> Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, kalau dalam pernyataannya itu
> Presiden SBY sengaja "menembak" fihak tertentu, maka itu pasti karena dia
> tahu benar apa yang sedang dilakukan oleh fihak tertentu itu, dan merasa
> bahwa mereka sudah sangat keterlaluan.
>
> Para elit di atas sana tentu sudah sama-sama tahu siapa berbuat apa. Itu
> sama saja dengan kita yang hidup bersama dalam sebuah tempat kost. Kalau
> kita sama-sama berada di sebuah ruangan dan ada yang kentut, maka kita tentu
> bisa mengetahui siapa yang kentut itu. Karena kita tahu apa yang dimakan
> (atau tidak dimakan) oleh masing-masing kawan kita itu.
>
>
> 5. Sedikit Fairness untuk Presiden SBY:
>
> Satu jam setelah terjadinya persitiwa pengeboman, di milis
> forum-pembaca-kompas ini saya menurunkan postingan (No. 131888) yang
> berbunyi:
>
> Menurut hemat saya apa yang sedang terjadi di Ritz Carlton, J.W.Mariott dan
> Timika ini adalah pekerjaan kelompok politik yang tidak suka dengan pemilu
> yang telah berjalan baik, dan yang tidak suka dengan Indonesia yang semakin
> demokratis. (Ini bukan pekerjaan Kelompok JI dan Kelompok OPM. Atau, kalau
> pun terlibat, mereka hanyalah alat). Kelompok ini ingin menyeret Indonesia
> untuk masuk dalam chaos, agar mereka memiliki peluang untuk terus bermain.
>
> SBY sedang "digoyang". Oleh karena itu inilah saatnya bagi SBY untuk
> berkata-kata dan bertindak dengan tegas. Jangan lagi hanya berlindung di
> balik retorika "menyerahkan penyelesaiannya pada proses hukum yang berlaku".
>
> Sikat! Tangkap! Hancurkan. Dan SBY punya modal untuk itu. Dia memiliki
> lebih dari 60% suara pemilih.
>
> Oleh karena itu bukan main senangnya saya ketika sorenya saya mendengar
> Presiden SBY memberikan pernyataannya.
>
> Presiden SBY sudah memenuhi harapan saya sebagaimana yang telah tuliskan di
> pstingan saya: Dia mengajak rakyat untuk melihat peristiwa ini sebagai
> kemunduran terhadap proses perkembangan demokrasi, terutama dalam kaitan
> dengan pemilihan umum presiden yang baru selesai kita lakukan.
>
> Presiden SBY juga sudah memberi peringatan kepada rakyat agar waspada
> tentang kemungkinan adanya gerakan-gerakan yang ingin membatalkan hasil
> pemilu dengan cara-cara di luar hukum, dan yang akibatnya akan membawa
> negara ke dalam kekacauan.
>
> Presiden SBY juga sudah memberi "warning" kepada lawan-lawan politiknya
> agar jangan memancing di air keruh, dan berjanji akan menindak-tegas siapa
> pun yang mencoba-coba melakukannya.
>
>
> Saya bukan pemilih SBY. Dalam pemilu presiden saya memilih JK karena saya
> suka dengan gaya kepemimpinannya. Tapi ketika Presiden SBY melakukan gaya
> kepemimpinan sebagaimana yang saya harapkan, maka tentu saja saya harus
> bersikap fair. Oleh karena itu terhadap pernyataannya atas persitiwa
> pengeboman di Ritz Carlton dan J.W. Marriot tersebut, saya memberinya nilai
> sembilan (dalam skala 1 s/d 10).
>
> Presiden SBY sudah memenuhi sedikit harapan saya tentang kepemimpinan yang
> tegas dan berani untuk rakyat yang beragam maunya dan ngeyel, dan yang
> sedang belajar berdemokrasi ini.
>
> Mula Harahap
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> ------------------------------------
>
> =====================================================
> Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] :
>
> 1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
>
> 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://koran.kompas.com/ ,
> http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/
>
> 3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke
> anggota
>
> 4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected]
>
> 5.Untuk bergabung: [email protected]
>
> KOMPAS LINTAS GENERASI
> =====================================================
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke